| dc.description.abstract | Ikan gabus (Channa striata) merupakan komoditas perikanan air tawar yang dimanfaatkan mulai dari ukuran benih hingga ukuran konsumsi sehingga memerlukan sistem transportasi yang mampu mempertahankan ikan tetap hidup selama proses pengangkutan. Transportasi sistem basah masih umum digunakan, namun memiliki keterbatasan berupa kapasitas angkut yang rendah, penurunan kualitas media selama pengangkutan, serta peningkatan risiko stres yang dapat menurunkan kelangsungan hidup ikan. Salah satu alternatif yang dapat diterapkan adalah transportasi sistem kering dengan memanfaatkan suhu rendah untuk menekan aktivitas metabolisme ikan selama transportasi. Namun, informasi mengenai kisaran suhu pemingsanan dan suhu transportasi yang sesuai pada sistem transportasi kering ikan gabus masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menentukan kisaran suhu pemingsanan ikan gabus, mengevaluasi pengaruh suhu transportasi kering terhadap kondisi ikan, serta menilai kemampuan pemulihan ikan pascatransportasi.
Penelitian dilakukan dalam dua tahapan. Tahap pertama bertujuan menentukan kisaran suhu pemingsanan ikan gabus melalui penurunan suhu secara bertahap. Pada tahap ini diamati perubahan suhu media, waktu pencapaian setiap tahapan pemingsanan, serta perubahan tingkah laku ikan mulai dari kondisi normal, penurunan aktivitas, kehilangan keseimbangan (loss of equilibrium/LoE), hingga pingsan penuh. Tahap pemingsanan dilakukan sebanyak tiga ulangan dengan jumlah ikan yang sama untuk memperoleh kisaran suhu pemingsanan yang konsisten. Tahap kedua menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan transportasi kering, yaitu A = 14 °C, B = 16 °C, dan C = 18 °C, serta K = kontrol transportasi sistem basah. Transportasi dilakukan selama 8 jam dengan tiga ulangan dan kepadatan 20 ekor/wadah pada transportasi kering, sedangkan kontrol menggunakan kepadatan 20 ekor/plastik atau 5 ekor/L. Suhu media transportasi dipantau setiap jam selama proses pengangkutan. Setelah transportasi, ikan dibugar dan diamati waktu serta perubahan tingkah lakunya hingga kembali berenang normal, kemudian ikan dipelihara selama 14 hari. Pada tahap pasca transportasi diamati waktu pembugaran, tingkah laku, susut bobot, dan tingkat kelangsungan hidup. Selama masa pemeliharaan dilakukan pengamatan tingkat kelangsungan hidup dan pemulihan bobot, serta pengukuran glukosa darah, pH daging, histologi insang, dan kualitas air pada waktu pengamatan yang telah ditentukan. Daya serap air media busa juga diamati untuk mengetahui kemampuan media dalam menyerap dan mempertahankan air selama transportasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan gabus mencapai kondisi kehilangan keseimbangan pada suhu 15,5 ± 0,36 °C dan pingsan penuh pada suhu 11,6 ± 0,45 °C. Suhu media transportasi meningkat secara bertahap selama delapan jam pengangkutan, namun masih mampu mempertahankan kondisi ikan hingga akhir transportasi. Di antara perlakuan transportasi kering, suhu 18 °C memberikan waktu pembugaran tercepat (75 ± 18,68 detik) dan tingkat kelangsungan hidup pascatransportasi sebesar 78,33 ± 12,58% serta tingkat kelangsungan hidup total sebesar 66,67 ± 12,58%. Nilai tersebut masih lebih rendah dibandingkan kontrol transportasi basah dengan tingkat kelangsungan hidup total sebesar 85,00 ± 5,00%. Meskipun demikian, sistem transportasi kering memiliki keunggulan dalam efisiensi penggunaan media karena tidak memerlukan air sebagai media transportasi, sehingga secara konseptual memungkinkan penggunaan ruang yang lebih besar untuk ikan dan peningkatan kapasitas angkut dibandingkan sistem basah. Sebaliknya, perlakuan 14 °C menghasilkan waktu pembugaran paling lama (393 ± 76,07 detik) dan tingkat kelangsungan hidup total terendah (25,00 ± 13,23%). Kadar glukosa darah meningkat pascatransportasi sebagai respons terhadap stres, kemudian menurun secara bertahap hingga mendekati kondisi normal selama masa pemeliharaan. Nilai pH daging menunjukkan kecenderungan meningkat selama masa pemulihan, sedangkan pengamatan histologi memperlihatkan adanya deformasi ringan pada lamela insang pascatransportasi yang berangsur pulih hingga struktur insang kembali relatif normal pada hari ke-6 pemeliharaan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa ikan gabus (Channa striata) dapat dipingsankan melalui penurunan suhu secara bertahap hingga mencapai kondisi pingsan sempurna pada suhu 11,6 ± 0,45 °C. Perbedaan suhu transportasi kering selama 8 jam memengaruhi kondisi ikan pascatransportasi dan selama masa pemulihan. Di antara perlakuan transportasi kering yang diuji, suhu 18 °C menunjukkan hasil yang paling baik berdasarkan tingkat kelangsungan hidup dan kondisi fisiologis ikan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa transportasi kering pada suhu 18 °C berpotensi dikembangkan sebagai alternatif transportasi ikan gabus yang lebih efisien dalam penggunaan media dan berpotensi meningkatkan kapasitas angkut, meskipun tingkat kelangsungan hidup totalnya masih lebih rendah dibandingkan kontrol transportasi basah. | |