Show simple item record

dc.contributor.advisorAdrianto, Luky
dc.contributor.advisorBoer, Mennofatria
dc.contributor.advisorZairion
dc.contributor.advisorBooth, Hollie Louise
dc.contributor.authorNurhijayat, Akhmad
dc.date.accessioned2026-08-14T07:17:12Z
dc.date.available2026-08-14T07:17:12Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178960
dc.description.abstractPerikanan hiu dan pari merupakan sistem sosial–ekologi yang kompleks karena mempertemukan kerentanan biologis spesies berproduktivitas rendah dengan ketergantungan ekonomi masyarakat pesisir dan permintaan pasar. Kompleksitas ini juga didukung oleh data-limited fisheries, ketika informasi mengenai kondisi sumberdaya, perilaku pelaku perikanan, dan efektivitas tata kelola masih terbatas. Wedgefish dan giant guitarfish (Rhinopristiformes) merupakan kelompok prioritas konservasi karena produktivitasnya rendah, pertumbuhannya relatif lambat, dan tingkat ancamannya tinggi, tetapi masih menjadi bagian dari hasil tangkapan perikanan demersal di pesisir utara Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan menganalisis sistem sosial–ekologi perikanan hiu dan pari, mengevaluasi status biologis wedgefish dan giant guitarfish, menganalisis faktor yang membentuk perilaku konservasi, serta mengeksplorasi strategi pengelolaan adaptif melalui integrasi analisis. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Tuban dan Lamongan, yang merupakan bagian dari sistem perikanan hiu dan pari di WPPNRI 712. Analisis sistem menggunakan kerangka Social-Ecological Network Analysis (SENA). Status biologis lima spesies Rhinopristiformes dianalisis berdasarkan struktur ukuran, parameter pertumbuhan, mortalitas, dan tingkat eksploitasi. Faktor perilaku dianalisis menggunakan Theory of Planned Behavior (TPB) terhadap 117 nelayan, dilanjutkan dengan evaluasi alternatif konservasi, Focus Group Discussion (FGD), dan Contingent Valuation Method untuk mengestimasi Minimum Acceptable Conservation Incentive (MACI). Intervensi konservasi kemudian implementasikan melalui exploratory Randomized Controlled Trial (RCT). Integrasi analisis dilakukan melaui indeks dan pemodelan System Dynamics untuk mengeksplorasi respons ekologis dan sosial-ekonomi terhadap berbagai strategi pengelolaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem perikanan hiu dan pari di Tuban dan Lamongan membentuk jejaring pemanfaatan yang terintegrasi dari penangkapan, pendaratan, hingga perdagangan, dengan dinamika yang lebih banyak dipengaruhi oleh aktivitas produksi dan insentif ekonomi. Dalam jejaring tersebut, Fishing Effort merupakan variabel inti dan wedgefish Adalah komoditas dengan high-value secondary catch, sehingga tekanan pemanfaatan tetap berlangsung meskipun sebagian besar spesies berstatus Critically Endangered. Asesmen biologis menunjukkan dominasi individu berukuran kecil dan tingginya proporsi individu belum matang gonad, yang mengindikasikan tekanan terhadap struktur populasi. Empat dari lima spesies memiliki tingkat eksploitasi di atas ambang keberlanjutan biologis (E > 0,50), sedangkan Rhina ancylostoma berada sangat dekat dengan ambang tersebut (E = 0,495). Rhynchobatus springeri menunjukkan tingkat eksploitasi tertinggi (E = 0,722). Analisis perilaku menunjukkan bahwa nelayan pada umumnya memiliki niat konservasi, persepsi kemampuan, dan norma sosial yang mendukung live release, tetapi keputusan aktual masih dipengaruhi pertimbangan ekonomi sehingga terdapat intention–behaviour gap. Pendekatan berbasis insentif dan partisipasi memperoleh penerimaan yang lebih tinggi dibandingkan pendekatan berbasis sanksi. Melalui proses ko-desain diperoleh Minimum Acceptable Conservation Incentive sekitar Rp20.000 per individu wedgefish dengan estimasi ukuran <70-90 cm yang dilepaskan kembali. Hasil exploratory switchback RCT menunjukkan bahwa model GLMM utama menghasilkan odds ratio sebesar 4,94 (95% CI: 2,58–9,45; p < 0,001), yang mengindikasikan hubungan positif antara intervensi dan peluang live release. Adapun demikian, setelah mempertimbangkan kemungkinan carryover effect, estimasi menjadi 2,01 (95% CI: 0,72–5,61; p = 0,185). Kendati demikian, hasil eksperimen diposisikan sebagai proof-of-concept yang memberikan indikasi awal mengenai potensi intervensi, tetapi masih memerlukan pengujian lebih lanjut pada skala dan periode yang lebih luas. Integrasi SENA dan System Dynamics menunjukkan bahwa Fishing Effort merupakan variabel inti dalam dinamika sistem, sementara kapasitas tata kelola masih relatif terbatas. SENA memberikan gambaran mengenai di mana intervensi perlu diarahkan (where to intervene), sedangkan System Dynamics mengeksplorasi bagaimana intervensi memengaruhi perilaku sistem dari waktu ke waktu (how to intervene). Simulasi menunjukkan bahwa respons sistem dipengaruhi tidak hanya oleh keberadaan dan besaran insentif, tetapi juga oleh strategi phase-down. Skenario dengan pengurangan insentif secara bertahap menunjukkan respons yang relatif lebih stabil, dengan tingkat pemanfaatan akhir yang lebih rendah dan manfaat ekonomi yang relatif lebih tinggi dibandingkan skenario dengan pengurangan insentif yang lebih cepat. Hal ini memberikan indikasi bahwa strategi transisi merupakan bagian penting dari desain pengelolaan adaptif. Berdasarkan sintesis hasil, penelitian ini mengembangkan kerangka konseptual Socio-Cultural-Based Adaptive Conservation. Kerangka ini menempatkan konteks socio-cultural sebagai salah satu fondasi penting bagi perubahan dan persistensi perilaku konservasi. Dalam kerangka tersebut, insentif berfungsi sebagai pemicu (trigger) perubahan perilaku, sementara norma sosial, nilai komunitas, local ecological knowledge, dan praktik kolektif dapat mendukung terbentuknya persistensi perilaku (behavioural persistence). Pendekatan ini mengarah pada pergeseran dari incentive-driven conservation menuju socially embedded adaptive conservation, dengan menempatkan keberlanjutan perubahan perilaku sebagai bagian dari proses adaptasi pengelolaan. Kerangka tersebut memperluas pendekatan konservasi pada data-limited fisheries dengan menghubungkan bukti ekologis, perilaku, ekonomi, jejaring, sosial-budaya, dan tata kelola sebagai dasar pengambilan keputusan yang lebih kontekstual dan adaptif.
dc.description.sponsorshipDarwin Initiative- University of Oxford
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleDINAMIKA SISTEM SOSIAL–EKOLOGI PERIKANAN HIU DAN PARI SERTA IMPLIKASI TERHADAP KONSERVASI DAN STRATEGI PENGELOLAANNYA: STUDI KASUS WEDGEFISH (Rhynchobatus spp.) DI PESISIR UTARA JAWA TIMURid
dc.title.alternativeThe Dynamics of the Social–Ecological System of Shark and Ray Fisheries and Their Implications for Conservation and Management: A Case Study of Rhynchobatus spp. in the Northern Coast of East Java.
dc.typeDisertasi
dc.subject.keywordSocio-Cultural-Based Adaptive Conservationid
dc.subject.keywordsistem sosial–ekologiid
dc.subject.keywordwedgefishid
dc.subject.keywordlive releaseid
dc.subject.keywordExploratory Randomized Controlled Trialid
dc.subject.keywordsystem dynamicsid
dc.subject.keywordpengelolaan adaptifid
dc.subtypeDissertations


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record