Estimasi Potensi Nilai Karbon Biru (Blue Carbon) pada Tutupan Lahan Hutan Mangrove
Date
2026Jenis/Type
TesisSubtype
ThesesAuthor
Iskandar, Sulistio Rizki
Yonvitner
Dharmawan, I Wayan Susi
Metadata
Show full item recordAbstract
Perubahan iklim dan meningkatnya tekanan terhadap wilayah pesisir menjadikan ekosistem mangrove sebagai salah satu ekosistem penting dalam mitigasi perubahan iklim, terutama melalui kemampuan menyimpan karbon biru serta menyediakan berbagai jasa ekosistem bagi masyarakat pesisir. Penelitian ini bertujuan menganalisis komposisi vegetasi, biomassa dan stok karbon, perubahan tutupan lahan dan emisi karbon, nilai ekonomi ekosistem, serta hubungan faktor lingkungan dengan biomassa spesies mangrove dominan di Pulau Batanta, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Penelitian dilaksanakan pada Juli - Agustus 2023 dengan pendekatan kuantitatif melalui pengambilan data vegetasi, pengukuran biomassa, analisis karbon tanahh, analisis perubahan tutupan lahan menggunakan citra Landsat, valuasi ekonomi melalui pendekatan Total Economic Value (TEV), serta analisis korelasi Pearson antara faktor lingkungan dan biomassa mangrove.
Hasil penelitian menunjukkan terdapatt tujuh spesies mangrove di Pulau Batanta, dengan tiga spesies dominan berdasarkan Indeks Nilai Penting (INP), yaitu Bruguiera gymnorrhiza, Rhizophora apiculata, dan Rhizophora mucronata. Biomassa dan karbon menunjukkan kecenderungan menurun seiring dengan perubahan kondisi tutupan lahan. Biomassa total tertinggi ditemukan pada hutan mangrove primer sebesar 386,09±84,29 ton/ha, kemudian hutan mangrove sekunder rapat sebesar 229±76,94 ton/ha dan sekunder sedang sebesar 97,07±22,48 ton/ha. Total stok karbon jugaa tertinggi pada hutan mangrove primer sebesar 2.084,44±541,44 tonC/ha, diikuti sekunder rapat sebesar 1.381,20±506,65 tonC/ha dan sekunder sedang sebesar 915,96±424,75 tonC/ha. Karbon tanahh menjadi komponen terbesar dalam penyimpanan karbon pada seluruh tipe tutupan lahan. Sejalan dengan stok karbon, estimasi serapan CO2 tertinggi terdapatt pada hutan mangrove primer sebesar 7.642,96±1.986,68 tonCO2eq/ha dan menurun pada hutan mangrove sekunder rapat serta sekunder sedang.
Analisis perubahan tutupan lahan menunjukkan adanya degradasi ekosistem mangrove selama periode 2008 - 2023 yang ditandai dengan berkurangnya tutupan mangrove primer dan meningkatnya tutupan mangrove sekunder serta badan air. Perubahan tersebut menyebabkan penurunan kapasitas penyimpanan karbon dan menghasilkan emisi karbon akibat perubahan tutupan lahan. Dari aspek ekonomi, ekosistem mangrove Pulau Batanta memiliki nilai ekonomi yang tinggi melalui berbagai jasa ekosistem, meliputi hasil perikanan, penanaman bibit mangrove, fungsi perlindungan pantai, dan penyerapann karbon. Berdasarkan perhitungan TEV yang digunakan dalam penelitian, nilai ekonomi total ekosistem mangrove mencapai Rp1.436.685.999/tahun, yang terdiri atas Direct Use Value (DUV) sebesar Rp323.720.000/tahun, Indirect Use Value (IUV) sebesar Rp421.400.000/tahun, dan Option Value sebesar Rp691.565.999/tahun.
Faktor lingkungan perairan Pulau Batanta memiliki kisaran suhu 27,15 - 31,76 °C, salinitas 33,66 - 34,41‰, pH 8,00 - 8,03, dan oksigen terlarut 6,37 - 6,42 mg/L. Hasil korelasi Pearson menunjukkan bahwa sebagian besar faktor lingkungan memiliki hubungan yang lemah hingga sedang dengan biomassa spesies dominan. Salinitas menjadi faktor yang menunjukkan hubungan paling signifikan terhadap biomassa Bruguiera gymnorrhiza, sedangkan hubungan faktor lingkungan lainnya cenderung tidak signifikan. Secara keseluruhan, ekosistem mangrove Pulau Batanta memiliki potensi ekologis dan ekonomi yang besar, terutama dalam penyimpanan karbon dan penyediaan jasa ekosistem, namun mengalami tekanan degradasi yang memerlukan pengelolaan dan rehabilitasi secara berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat dan pemangku kepentingan.

