| dc.contributor.advisor | Fatchiya, Anna | |
| dc.contributor.advisor | Puspita, Dyah Retna | |
| dc.contributor.author | Khalid, Feldy | |
| dc.date.accessioned | 2026-08-14T06:10:18Z | |
| dc.date.available | 2026-08-14T06:10:18Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178712 | |
| dc.description.abstract | Ketahanan pangan nasional menghadapi berbagai tantangan, antara lain
keterbatasan lahan, perubahan iklim, kelangkaan input, dan kebutuhan peningkatan
efisiensi usaha tani. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan salah satu
pendekatan budidaya yang dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas,
efisiensi penggunaan sumber daya, dan keberlanjutan usaha tani padi. Salah satu
komponen penting PTT adalah Pengelolaan Benih dan Tanaman Padi Sehat
(PBTPH) yang mencakup penggunaan benih unggul bermutu, penggunaan bibit
muda, sistem tanam jajar legowo, dan pengairan berselang. Meskipun PBTPH telah
diperkenalkan melalui program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL
PTT), penerapannya di tingkat petani masih menunjukkan variasi. Perbedaan
karakteristik petani, kinerja penyuluhan, persepsi terhadap karakteristik inovasi,
dukungan lingkungan, dan dukungan penyuluhan diduga memengaruhi tingkat
adopsi PBTPH dan keberlanjutan usaha tani padi.
Tujuan penelitian ini adalah: (1) menganalisis karakteristik petani, kinerja
penyuluhan sekolah lapang, persepsi petani terhadap karakteristik inovasi, dukungan
lingkungan, dan dukungan penyuluhan dalam penerapan PBTPH di Kabupaten
Bogor, (2) menganalisis tingkat adopsi PBTPH oleh petani di Kabupaten Bogor, (3)
menganalisis keberlanjutan usaha tani padi di Kabupaten Bogor, (4) menganalisis
faktor-faktor yang memengaruhi tingkat adopsi PBTPH, dan (5) menganalisis faktor
faktor yang memengaruhi keberlanjutan usaha tani padi di Kabupaten Bogor.
Penelitian dilakukan di Kecamatan Jonggol dan Tanjungsari, Kabupaten
Bogor, yang merupakan wilayah sentra produksi padi dan lokasi pelaksanaan
program SL-PTT. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis
explanatory research yang diperkuat dengan data kualitatif hasil wawancara dan
observasi. Populasi penelitian terdiri atas petani peserta SL-PTT yang tergabung
dalam sembilan kelompok tani dengan jumlah 592 petani. Berdasarkan perhitungan
G*Power, kebutuhan minimum sampel adalah 85 responden, sedangkan jumlah
sampel yang digunakan sebanyak 105 petani. Responden dipilih menggunakan
teknik proportional random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner,
observasi, dan wawancara mendalam dengan informan kunci. Data kuantitatif
dianalisis menggunakan statistik deskriptif, analisis komparatif, dan Partial Least
Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM), sedangkan data kualitatif
digunakan untuk memperkuat interpretasi hasil penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani padi di Kecamatan Jonggol dan
Tanjungsari didominasi oleh petani berusia tua dengan pengalaman berusaha tani
yang relatif lama. Tingkat pendidikan formal, luas lahan, dan pendapatan usaha tani
relatif rendah, sedangkan motivasi berinovasi tergolong tinggi dan paparan informasi
berada pada tingkat sedang. Kinerja penyuluhan sekolah lapang dinilai cukup baik,
iv
persepsi petani terhadap karakteristik inovasi tergolong positif, serta dukungan
lingkungan dan dukungan penyuluhan dinilai cukup mendukung penerapan PBTPH.
Tingkat adopsi PBTPH di Kecamatan Jonggol dan Tanjungsari secara umum
berada pada kategori tinggi. Sebagian besar petani telah menerapkan komponen
PBTPH, meskipun penerapannya tidak selalu mengikuti rekomendasi teknis secara
utuh. Petani cenderung menyesuaikan penerapan inovasi dengan kondisi lahan,
ketersediaan tenaga kerja, kemampuan modal, dan pengalaman berusaha tani.
Penggunaan benih unggul bermutu, bibit muda, dan pengairan berselang relatif
tinggi, sedangkan penerapan sistem tanam jajar legowo masih lebih beragam.
Keberlanjutan usaha tani padi di kedua wilayah berada pada kategori sedang
hingga tinggi. Aspek sosial dan ekonomi menunjukkan kondisi yang relatif lebih
baik, sedangkan aspek lingkungan masih memerlukan perhatian. Kondisi
keberlanjutan usaha tani padi di kedua wilayah relatif serupa secara statistik,
meskipun terdapat kecenderungan perbedaan kondisi di lapangan.
Hasil analisis model struktural menunjukkan bahwa tingkat adopsi PBTPH
dipengaruhi secara signifikan oleh karakteristik petani, kinerja penyuluhan sekolah
lapang, persepsi petani terhadap karakteristik inovasi, dukungan lingkungan, dan
dukungan penyuluhan. Karakteristik petani, kinerja penyuluhan sekolah lapang,
persepsi terhadap karakteristik inovasi, dan dukungan lingkungan berpengaruh
positif terhadap tingkat adopsi PBTPH, sedangkan dukungan penyuluhan
menunjukkan pengaruh signifikan dengan arah negatif. Dukungan lingkungan
menjadi faktor yang paling dominan dalam memengaruhi tingkat adopsi PBTPH.
Sementara itu, keberlanjutan usaha tani padi dipengaruhi secara signifikan oleh
kinerja penyuluhan sekolah lapang, persepsi petani terhadap karakteristik inovasi,
dan dukungan lingkungan. Kinerja penyuluhan sekolah lapang dan dukungan
lingkungan berpengaruh positif, sedangkan persepsi petani terhadap karakteristik
inovasi menunjukkan pengaruh negatif. Karakteristik petani, dukungan penyuluhan,
dan tingkat adopsi PBTPH tidak berpengaruh signifikan terhadap keberlanjutan
usaha tani. Dukungan lingkungan menjadi faktor yang paling dominan dalam
mendukung keberlanjutan usaha tani.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa keberlanjutan usaha tani tidak hanya
ditentukan oleh tingkat penerapan PBTPH, tetapi juga oleh kualitas proses
pembelajaran melalui sekolah lapang dan kondisi lingkungan usaha tani yang
mendukung. Tingkat adopsi PBTPH yang tinggi belum secara otomatis
menghasilkan keberlanjutan usaha tani, karena keberlanjutan juga berkaitan dengan
kemampuan petani memperoleh sarana produksi, akses pasar, dukungan
kelembagaan, serta menyesuaikan praktik budidaya dengan kondisi sosial, ekonomi,
dan lingkungan. Dengan demikian, peningkatan keberlanjutan usaha tani padi perlu
diarahkan pada penguatan kinerja penyuluhan sekolah lapang dan dukungan
lingkungan usaha tani secara bersamaan. | |
| dc.description.abstract | National food security faces various challenges, including land limitations,
climate change, input scarcity, and the need to improve farming efficiency. Integrated
Crop Management (PTT) is a cultivation approach developed to enhance
productivity, resource-use efficiency, and the sustainability of rice farming. A key
component of PTT is Healthy Rice Seed and Crop Management (PBTPH), which
encompasses the use of high-quality superior seeds, young seedlings, the jajar
legowo planting system, and intermittent irrigation. Although PBTPH has been
introduced through the Integrated Crop Management Field School (SL-PTT)
program, its implementation at the farmer level varies. Differences in farmer
characteristics, extension performance, perceptions of innovation characteristics,
environmental support, and extension support are hypothesized to influence the
adoption level of PBTPH and the sustainability of rice farming.
The objectives of this study are to: (1) analyze farmer characteristics, field
school extension performance, farmers' perceptions of innovation characteristics,
environmental support, and extension support regarding PBTPH implementation in
Bogor Regency; (2) analyze the adoption level of PBTPH among farmers in Bogor
Regency; (3) analyze the sustainability of rice farming in Bogor Regency; (4) analyze
the factors influencing the adoption level of PBTPH; and (5) analyze the factors
influencing the sustainability of rice farming in Bogor Regency.
The study was conducted in Jonggol and Tanjungsari Districts, Bogor
Regency, areas that serve as rice-production hubs and sites for the SL-PTT program.
A quantitative explanatory research approach was employed, supplemented by
qualitative data from in-depth interviews. The study population consisted of 592
farmers participating in the SL-PTT program across nine farmer groups. Based on
G*Power calculations, the minimum required sample size was 85 respondents, while
the actual sample used comprised 105 farmers. Respondents were selected using
proportional random sampling. Data were collected through questionnaires,
observation, and in-depth interviews with key informants. Quantitative data were
analyzed using descriptive statistics, comparative analysis, and Partial Least Squares
Structural Equation Modeling (PLS-SEM), while qualitative data were used to
reinforce the interpretation of the research findings.
The results indicate that the rice farmers in Jonggol and Tanjungsari Districts
were predominantly older individuals with extensive farming experience. Formal
education levels, land area, and farm income were relatively low, whereas innovation
motivation was high, and information exposure was at a moderate level. The
performance of the field school extension services was rated as good, farmers'
perceptions of innovation characteristics were positive, and both environmental and
extension support were considered conducive to the adoption of PBTPH.
The adoption rate of PBTPH in Jonggol and Tanjungsari Districts generally fell into
vi
the high category. Most farmers had implemented PBTPH components, although
implementation did not always strictly adhere to technical recommendations.
Farmers tended to adapt the innovation to their land conditions, labor availability,
capital capacity, and farming experience. The use of high-quality superior seeds,
young seedlings, and intermittent irrigation was relatively high, whereas the adoption
of
the
jajar
legowo planting system showed greater variation.
The sustainability of rice farming in both areas ranged from moderate to high. Social
and economic aspects showed relatively better conditions, while environmental
aspects still required attention. Statistically, the sustainability status of rice farming
in both areas was relatively similar, despite observed tendencies toward differences
in actual field conditions.
Structural model analysis results indicate that the adoption rate of PBTPH is
significantly influenced by farmer characteristics, the performance of field school
extension services, farmers' perceptions of innovation characteristics, environmental
support, and extension support. Farmer characteristics, field school extension
performance, perceptions of innovation characteristics, and environmental support
positively influence the PBTPH adoption rate, whereas extension support shows a
significant negative influence. Environmental support emerges as the most dominant
factor influencing the PBTPH adoption rate.
Meanwhile, the sustainability of rice farming is significantly influenced by
field
school extension performance, farmers' perceptions of innovation
characteristics, and environmental support. Field school extension performance and
environmental support have a positive influence, while farmers' perceptions of
innovation characteristics show a negative influence. Farmer characteristics,
extension support, and the PBTPH adoption rate do not significantly affect farming
sustainability. Environmental support is the dominant factor in fostering sustainable
farming.
The research findings demonstrate that farming sustainability is determined not
only by the level of PBTPH implementation but also by the quality of the learning
process through field schools and supportive farming environmental conditions. A
high rate of PBTPH adoption does not automatically result in farming sustainability,
as sustainability also depends on farmers' ability to acquire production inputs, access
markets, and secure institutional support, as well as their capacity to adapt cultivation
practices to social, economic, and environmental conditions. Therefore, efforts to
enhance the sustainability of rice farming should focus on simultaneously
strengthening field school extension performance and environmental support. | |
| dc.description.sponsorship | Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Tingkat Adopsi Pengelolaan Benih dan Tanaman Padi Sehat dan Faktor Penentunya di Kabupaten Bogor | id |
| dc.title.alternative | Adoption Level and Determinants of Healthy Rice Seed and Crop Management in Bogor Regency | |
| dc.type | Tesis | |
| dc.subject.keyword | adopsi inovasi | id |
| dc.subject.keyword | budidaya padi | id |
| dc.subject.keyword | Keberlanjutan Usaha | id |
| dc.subject.keyword | Pengelolaan Benih dan Tanaman Padi Sehat (PBTPH) | id |
| dc.subtype | Theses | |