Analisis Pengelolaan Limbah Cangkang Rajungan pada Usaha Pengupasan Rajungan di Desa Gebang Mekar, Kabupaten Cirebon
Abstract
Usaha pengupasan rajungan di Desa Gebang Mekar menghasilkan limbah cangkang secara rutin tanpa sistem pengelolaan yang tertata. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi eksisting pengelolaannya, mengestimasi timbulan per bulan, dan menganalisis potensi nilai tambah ekonomi pemanfaatannya. Data primer dari pelaku miniplant, unit rumah tangga pengupasan, masyarakat terdampak, dan informan kunci dianalisis secara deskriptif menggunakan skala Likert, pendekatan neraca massa sederhana, dan metode nilai tambah Hayami. Hasil analisis menunjukkan seluruh pelaku memperlakukan cangkang sebagai sisa produksi yang dibuang, dengan timbulan sekitar 28 ton per bulan yang didominasi
miniplant. Pengeringan cangkang menghasilkan rasio nilai tambah yang tergolong tinggi, tetapi manfaat ekonominya terkonsentrasi pada pelaku berskala besar. Potensi ekonomi limbah cangkang bersifat nyata tetapi laten dan tidak inklusif, sehingga realisasinya menuntut perluasan akses pasar bagi pelaku lokal dan pembangunan mekanisme pengumpulan kolektif di tingkat desa. Crab peeling businesses in Gebang Mekar Village generate shell waste routinely without an organised management system. This study aims to analyse existing waste management conditions, estimate monthly shell waste generation, and analyse the potential economic value added of shell utilisation. Primary data from miniplant operators, household peeling units, affected community members, and key informants were analysed descriptively using a Likert scale, a simplified mass balance approach, and the Hayami value-added method. Results show that all actors treat shells as discarded production residue, with monthly generation of approximately 28 tonnes dominated by miniplants. Shell drying yields a value-added ratio classified as high, but economic benefits are concentrated among larger-scale operators. The economic potential of shell waste is therefore real but latent and non-inclusive, requiring the development of market access linkages for local actors and a collective shell collection mechanism at the village level.

