Show simple item record

dc.contributor.advisorSunkar, Arzyana
dc.contributor.advisorHidayati, Syafitri
dc.contributor.authorRachmiaty, Amidah
dc.date.accessioned2026-08-14T03:56:58Z
dc.date.available2026-08-14T03:56:58Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178586
dc.description.abstractPengetahuan tradisional merupakan salah satu komponen penting dalam konservasi keanekaragaman hayati karena mencakup bahasa, sistem etnotaksonomi, serta praktik pengelolaan sumber daya hayati yang berkembang melalui interaksi masyarakat dengan lingkungannya. Masyarakat Gayo Lut memiliki keterikatan yang kuat dengan tanaman pangan sebagai bagian dari identitas biokultural yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, urbanisasi dan alih fungsi lahan di wilayah Jabodetabek menyebabkan semakin terbatasnya ruang untuk praktik budidaya tanaman pangan, sehingga berpotensi mengurangi interaksi masyarakat dengan tanaman dan mempercepat erosi pengetahuan tradisional. Di sisi lain, praktik budidaya di pekarangan diduga mampu mempertahankan pengetahuan tradisional melalui interaksi langsung dengan tanaman serta proses transmisi pengetahuan antargenerasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengukur tingkat pengetahuan tradisional dan vitalitas bahasa Gayo Lut pada masyarakat yang melakukan dan tidak melakukan praktik budidaya, serta mengukur faktor faktor penentu yang memengaruhinya. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni hingga Agustus 2025 di wilayah Jabodetabek dengan melibatkan 60 responden masyarakat Gayo Lut yang dipilih secara purposive sampling, terdiri atas 30 responden yang melakukan praktik budidaya tanaman pangan dan 30 responden yang tidak melakukan praktik budidaya. Tingkat pengetahuan tradisional dan vitalitas bahasa diukur menggunakan Traditional Knowledge and Language Vitality Index (TraLaVi) yang meliputi lima kriteria, yaitu prioritas bahasa (A), pengambilan informasi (B), erosi pengetahuan (C), pengenalan visual (D), dan transmisi pengetahuan tradisional (E). Data praktik budidaya diperoleh melalui observasi lapangan dan wawancara semi terstruktur. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji Mann–Whitney, Kruskal–Wallis, uji Dunn–Bonferroni, dan uji Spearman Rank. Kelompok yang melakukan praktik budidaya memiliki tingkat pengetahuan tradisional dan vitalitas bahasa yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok yang tidak melakukan praktik budidaya pada seluruh kriteria TraLaVi. Kelompok budidaya memperoleh skor TraLaVi 0,856 yang termasuk kategori aman, sedangkan kelompok nonbudidaya memperoleh skor 0,742 yang termasuk kategori rentan. Jumlah jenis tanaman pangan yang dibudidayakan berkorelasi positif sangat kuat dengan kemampuan menyebutkan nama tanaman dalam bahasa Gayo (?? = 0,867). Temuan tersebut menunjukkan bahwa praktik budidaya menjadi salah satu mekanisme penting dalam mempertahankan pengetahuan tradisional dan vitalitas bahasa masyarakat Gayo Lut di wilayah perantauan. Analisis terhadap faktor-faktor sosiodemografi menunjukkan bahwa dari tujuh variabel yang diuji hanya tingkat pendidikan, pekerjaan, dan lama tinggal di Jabodetabek berpengaruh signifikan terhadap beberapa kriteria TraLaVi. Tingkat pendidikan berpengaruh dengan prioritas bahasa (A), pekerjaan berpengaruh terhadap pengenalan visual (D), dan transmisi pengetahuan tradisional (E), sedangkan lama tinggal di Jabodetabek berpengaruh terhadap erosi pengetahuan (C), kemampuan pengenalan visual (D), dan transmisi pengetahan tradisional (E), serta skor TraLaVi secara keseluruhan. Di antara ketiga faktor tersebut, lama tinggal di Jabodetabek merupakan faktor yang paling konsisten berhubungan dengan tingkat pengetahuan tradisional dan vitalitas bahasa. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa semakin lama masyarakat menetap di Jabodetabek, semakin besar peluang untuk mempertahankan pengetahuan tradisional dan vitalitas bahasa, yang diduga didukung oleh berkembangnya praktik budidaya tanaman pangan serta interaksi sosial dalam komunitas. Penelitian ini menunjukkan bahwa praktik budidaya berperan sebagai bentuk konservasi ex situ yang tidak hanya mempertahankan keanekaragaman tanaman pangan Gayo, tetapi juga media pemeliharaan pengetahuan tradisional dan vitalitas bahasa melalui penggunaan, pengelolaan, dan transmisi pengetahuan tradisional antargenerasi. Dengan demikian, praktik budidaya tanaman pangan di pekarangan berpotensi menjadi mekanisme konservasi biokultural yang menghubungkan pelestarian keanekaragaman tanaman pangan dengan keberlanjutan bahasa dan pengetahuan tradisional masyarakat Gayo Lut di wilayah perantauan.
dc.description.sponsorship-
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titlePeran Pengetahuan Tradisional Gayo Lut dalam Mendukung Konservasi Tanaman Pangan di Jabodetabekid
dc.title.alternativeThe Role of Gayo Lut Traditional Knowledge in Food Plant Conservation in Jabodetabek
dc.typeTesis
dc.subject.keywordBudidayaid
dc.subject.keywordGayo Lutid
dc.subject.keywordJabodetabekid
dc.subject.keywordkonservasiid
dc.subject.keywordpengetahuan tradisionalid
dc.subtypeTheses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record