Peran Pengetahuan Tradisional Gayo Lut dalam Mendukung Konservasi Tanaman Pangan di Jabodetabek
Abstract
Pengetahuan tradisional merupakan salah satu komponen penting dalam
konservasi keanekaragaman hayati karena mencakup bahasa, sistem etnotaksonomi,
serta praktik pengelolaan sumber daya hayati yang berkembang melalui interaksi
masyarakat dengan lingkungannya. Masyarakat Gayo Lut memiliki keterikatan
yang kuat dengan tanaman pangan sebagai bagian dari identitas biokultural yang
diwariskan secara turun-temurun. Namun, urbanisasi dan alih fungsi lahan di
wilayah Jabodetabek menyebabkan semakin terbatasnya ruang untuk praktik
budidaya tanaman pangan, sehingga berpotensi mengurangi interaksi masyarakat
dengan tanaman dan mempercepat erosi pengetahuan tradisional. Di sisi lain,
praktik budidaya di pekarangan diduga mampu mempertahankan pengetahuan
tradisional melalui interaksi langsung dengan tanaman serta proses transmisi
pengetahuan antargenerasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengukur
tingkat pengetahuan tradisional dan vitalitas bahasa Gayo Lut pada masyarakat
yang melakukan dan tidak melakukan praktik budidaya, serta mengukur faktor
faktor penentu yang memengaruhinya.
Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni hingga Agustus 2025 di wilayah
Jabodetabek dengan melibatkan 60 responden masyarakat Gayo Lut yang dipilih
secara purposive sampling, terdiri atas 30 responden yang melakukan praktik
budidaya tanaman pangan dan 30 responden yang tidak melakukan praktik
budidaya. Tingkat pengetahuan tradisional dan vitalitas bahasa diukur
menggunakan Traditional Knowledge and Language Vitality Index (TraLaVi) yang
meliputi lima kriteria, yaitu prioritas bahasa (A), pengambilan informasi (B), erosi
pengetahuan (C), pengenalan visual (D), dan transmisi pengetahuan tradisional (E).
Data praktik budidaya diperoleh melalui observasi lapangan dan wawancara semi
terstruktur. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan
uji Mann–Whitney, Kruskal–Wallis, uji Dunn–Bonferroni, dan uji Spearman Rank.
Kelompok yang melakukan praktik budidaya memiliki tingkat pengetahuan
tradisional dan vitalitas bahasa yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan
kelompok yang tidak melakukan praktik budidaya pada seluruh kriteria TraLaVi.
Kelompok budidaya memperoleh skor TraLaVi 0,856 yang termasuk kategori aman,
sedangkan kelompok nonbudidaya memperoleh skor 0,742 yang termasuk kategori
rentan. Jumlah jenis tanaman pangan yang dibudidayakan berkorelasi positif sangat
kuat dengan kemampuan menyebutkan nama tanaman dalam bahasa Gayo
(?? = 0,867). Temuan tersebut menunjukkan bahwa praktik budidaya menjadi salah
satu mekanisme penting dalam mempertahankan pengetahuan tradisional dan
vitalitas bahasa masyarakat Gayo Lut di wilayah perantauan.
Analisis terhadap faktor-faktor sosiodemografi menunjukkan bahwa dari
tujuh variabel yang diuji hanya tingkat pendidikan, pekerjaan, dan lama tinggal di
Jabodetabek berpengaruh signifikan terhadap beberapa kriteria TraLaVi. Tingkat
pendidikan berpengaruh dengan prioritas bahasa (A), pekerjaan berpengaruh
terhadap pengenalan visual (D), dan transmisi pengetahuan tradisional (E),
sedangkan lama tinggal di Jabodetabek berpengaruh terhadap erosi pengetahuan
(C), kemampuan pengenalan visual (D), dan transmisi pengetahan tradisional (E),
serta skor TraLaVi secara keseluruhan. Di antara ketiga faktor tersebut, lama
tinggal di Jabodetabek merupakan faktor yang paling konsisten berhubungan
dengan tingkat pengetahuan tradisional dan vitalitas bahasa. Temuan tersebut
mengindikasikan bahwa semakin lama masyarakat menetap di Jabodetabek,
semakin besar peluang untuk mempertahankan pengetahuan tradisional dan
vitalitas bahasa, yang diduga didukung oleh berkembangnya praktik budidaya
tanaman pangan serta interaksi sosial dalam komunitas.
Penelitian ini menunjukkan bahwa praktik budidaya berperan sebagai bentuk
konservasi ex situ yang tidak hanya mempertahankan keanekaragaman tanaman
pangan Gayo, tetapi juga media pemeliharaan pengetahuan tradisional dan vitalitas
bahasa melalui penggunaan, pengelolaan, dan transmisi pengetahuan tradisional
antargenerasi. Dengan demikian, praktik budidaya tanaman pangan di pekarangan
berpotensi menjadi mekanisme konservasi biokultural yang menghubungkan
pelestarian keanekaragaman tanaman pangan dengan keberlanjutan bahasa dan
pengetahuan tradisional masyarakat Gayo Lut di wilayah perantauan.
Collections
- MF - Forestry [1611]

