| dc.description.abstract | Desa wisata merupakan instrumen strategis untuk mendorong pemerataan
pembangunan, penguatan ekonomi lokal, dan konservasi sumber daya alam
maupun budaya namun banyak desa wisata masih berhenti pada tahap rintisan
akibat lemahnya tata kelola, keterbatasan kapasitas kelembagaan dan rendahnya
daya saing. Penelitian terdahulu umumnya memotret potensi desa wisata secara
statis dan belum banyak menghubungkan diagnosis sumber daya dengan penentuan
prioritas strategi yang partisipatif serta kontekstual terhadap kearifan lokal.
Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi pengembangan daya saing desa wisata
di Kabupaten Bogor berdasarkan tahap perkembangannya yaitu rintisan,
berkembang dan maju. Secara khusus penelitian mengidentifikasi potensi dan
sumber daya strategis, menganalisis faktor internal dan eksternal serta menentukan
prioritas dan urutan implementasi strategi pengembangan daya saing.
Penelitian menggunakan pendekatan studi multikasus komparatif pada tiga
desa wisata yang dipilih secara purposif dengan logika maximum variation
berdasarkan perbedaan tahap perkembangan, infrastruktur, produk wisata,
pengelolaan dan sumber daya manusia. Lokasi penelitian meliputi Desa Sukajadi,
Kecamatan Tamansari, sebagai desa wisata rintisan; Desa Cimande, Kecamatan
Caringin, sebagai desa wisata berkembang dan Desa Tugu Utara, Kecamatan
Cisarua sebagai desa wisata maju. Data dikumpulkan pada Januari-Desember 2025
melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, kuesioner dan studi dokumen.
Wawancara dilakukan terhadap lima informan ahli yaitu ketua desa wisata
Sukajadi, Cimande dan Tugu Utara serta Ketua dan Wakil Desa Wisata Kabupaten
Bogor. Kuesioner penilaian faktor internal-eksternal dan perbandingan berpasangan
AHP diberikan kepada 30 responden pada setiap desa yang terdiri atas pengelola
desa wisata, perangkat pemerintah desa, kelompok sadar wisata dan pemuka
masyarakat.
Analisis menggunakan kerangka terintegrasi A'WOT. Sumber daya internal
didiagnosis dengan VRIO sedangkan lingkungan eksternal dianalisis melalui
PESTEL. Faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dikuantifikasi
menggunakan matriks IFE-EFE dan dipetakan pada matriks IE. Alternatif strategi
dirumuskan melalui SWOT kemudian prioritasnya ditentukan menggunakan
Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil analisis selanjutnya ditafsirkan melalui
konsep modal sosial dalam kearifan lokal Sunda Tri Tangtu Silih, yaitu silih asih,
silih asah, dan silih asuh serta dibandingkan dengan praktik pengembangan desa
wisata yang telah berhasil untuk menilai kelayakan dan urutan implementasi
strategi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap desa memiliki keunggulan daya
saing yang khas. Desa Cimande menonjol pada aspek sosial budaya melalui Pencak
Silat Cimande, pengobatan tradisional patah tulang, Talek Cimande, makam Embah
Khaer, minyak Cimande dan tanaman obat sebagai satu rantai nilai budaya. Desa
Sukajadi unggul pada sumber daya fisik dan biologis berupa lanskap kaki Gunung Salak, Curug Pangeran, sawah terasering, kebun stroberi dan hortikultura dataran
tinggi yang membentuk potensi agroekowisata. Desa Tugu Utara memiliki Telaga
Warna, Telaga Saat, Curug Cibulao, biodiversitas kawasan penyangga Taman
Nasional Gunung Gede-Pangrango serta karakter komunitas multikultural.
Analisis VRIO menghasilkan tiga pola daya saing. Desa Cimande membentuk
pola lembah dalam yaitu kuat pada warisan budaya tetapi lemah dalam tata kelola
dan kepemimpinan. Desa Sukajadi menunjukkan pola huruf U, dengan kekuatan
pada sumber daya dan dukungan kebijakan namun lemah pada faktor operasional.
Desa Tugu Utara membentuk pola plato tinggi, dengan seluruh dimensi relatif kuat
tetapi rentan terhadap keberlanjutan ekologis.
Analisis PESTEL dan EFE mengidentifikasi peluang utama berupa
pertumbuhan kunjungan, meningkatnya minat wisata alam dan budaya, dukungan
kebijakan, serta digitalisasi pemasaran, sementara ancaman dominan meliputi
perubahan iklim dan bencana, alih fungsi lahan, dan persaingan antardestinasi.
Pembobotan AHP atas hasil SWOT menunjukkan dominasi strategi SO (0,47),
diikuti ST (0,28), WO (0,16), dan WT (0,09), dengan pengembangan paket wisata
berbasis keunggulan lokal sebagai prioritas utama di ketiga desa. Temuan utama
penelitian adalah bahwa daya saing tidak semata ditentukan oleh pilihan strategi,
melainkan oleh ketepatan urutan pelaksanaannya, sehingga strategi prioritas ditata
ulang ke dalam dua fase, yaitu fase pembangunan fondasi kelembagaan, digital, dan
lingkungan (kelompok WO dan WT), diikuti fase akselerasi keunggulan (SO1).
Temuan yang diperbarui menegaskan bahwa strategi prioritas tersebut dapat
dielevasi dari skala tiga desa kasus menjadi strategi prioritas pengembangan daya
saing pada skala Kabupaten Bogor. Ketiga desa berkedudukan sebagai representasi
tiga kategori kematangan sehingga profil strategisnya menjadi template bagi 72
desa wisata di Kabupaten Bogor, yang baru 64 di antaranya teregistrasi dalam
Jaringan Desa Wisata (Jadesta) dan 36 dilegalkan melalui Surat Keputusan Bupati.
Pada skala kabupaten, strategi prioritas tersusun atas empat pilar yang saling terkait,
yaitu (1) tata kelola bertahap yang membedakan mekanisme dan mode koordinasi
menurut kategori, yakni fasilitatif-direktif pada rintisan, kolaboratif-deliberatif
pada berkembang, dan korporatif-regulatif pada maju; (2) penguatan modal sosial
menurut klasifikasi desa wisata berbasis tipologi Tri Tangtu Silih dengan
membangun lapisan modal sosial yang menjadi kendala pengikat pada tiap tahap;
(3) inventarisasi sumber daya secara menyeluruh dan terstandardisasi dalam satu
basis data terpadu dengan Jadesta; serta (4) budaya dalam konservasi yang
menempatkan kearifan lokal Sunda sebagai wujud adaptasi manusia terhadap
lingkungan sekaligus instrumen konservasi keanekaragaman hayati. | |
| dc.description.abstract | Tourism villages serve as a strategic instrument for promoting equitable
development, strengthening local economies, and conserving natural and cultural
resources. However, many tourism villages remain at the pioneering stage due to
weak governance, limited institutional capacity and low competitiveness. Previous
studies have generally portrayed tourism village potential in a static manner and
have rarely linked resource diagnosis with participatory strategy prioritization that
is contextualized within local wisdom. This study aims to formulate strategies for
enhancing the competitiveness of tourism villages in Bogor Regency according to
their development stages, namely pioneering, developing, and advanced.
Specifically, the study identifies strategic potential and resources, analyzes internal
and external factors, and determines the priorities and sequencing of
competitiveness development strategies.
The study employed a comparative multiple-case study approach involving
three tourism villages purposively selected using a maximum variation logic based
on differences in development stage, infrastructure, tourism products, management,
and human resources. The study sites comprised Sukajadi Village, Cimande Village
and Tugu Utara Village. Data were collected from January to December 2025
through field observations, in-depth interviews, questionnaires, and document
reviews. Interviews were conducted with five expert informants, namely the heads
of the Sukajadi, Cimande, and Tugu Utara tourism villages, as well as the Chair and
Vice Chair of the Bogor Regency Tourism Village Association. Questionnaires
assessing internal and external factors and AHP pairwise comparisons were
administered to 30 respondents in each village, consisting of tourism village
managers, village government officials, tourism awareness groups, and community
leaders.
The analysis employed an integrated A'WOT framework. Internal resources
were diagnosed using VRIO, while the external environment was analyzed through
PESTEL. Strengths, weaknesses, opportunities, and threats were quantified using
the IFE-EFE matrices and positioned within the IE matrix. Strategic alternatives
were formulated through SWOT analysis, after which their priorities were
determined using the Analytical Hierarchy Process (AHP). The results were then
interpreted through the concept of social capital embedded in the Sundanese local
wisdom of Tri Tangtu Silih, namely (silih asih), (silih asah), and (silih asuh), and
compared with successful tourism village development practices to assess the
feasibility and sequencing of strategy implementation.
The findings show that each village possesses distinctive competitive
advantages. Cimande Village stands out in socio-cultural aspects through Cimande
Pencak Silat, traditional bone fracture treatment, Talek Cimande, the sacred tomb
of Embah Khaer, Cimande oil, and medicinal plants, which together form an
integrated cultural value chain. Sukajadi Village is distinguished by its physical and
biological resources, including the foothill landscape of Mount Salak, Curug
Pangeran waterfall, terraced rice fields, strawberry plantations, and highland
horticulture, which collectively create strong agro-ecotourism potential. Tugu Utara Village features Telaga Warna, Telaga Saat, Curug Cibulao, the biodiversity of the
buffer zone of Mount Gede-Pangrango National Park, and a multicultural
community character.
The VRIO analysis identified three competitiveness patterns. Cimande exhibits
a “deep-valley” pattern, characterized by strong cultural heritage but weak
governance and leadership. Sukajadi displays a “U-shaped” pattern, with strengths
in resources and policy support but weaknesses in operational factors. Tugu Utara
shows a “high-plateau” pattern, in which all dimensions are relatively strong,
although ecological sustainability remains vulnerable.
The PESTEL and EFE analyses identified the main opportunities as growth in
visits, rising interest in nature- and culture-based tourism, policy support, and
digital marketing, while the dominant threats include climate change and disasters,
land-use conversion, and inter-destination competition. The AHP weighting of the
SWOT results showed the dominance of SO strategies (0.47), followed by ST
(0.28), WO (0.16), and WT (0.09), with the development of tourism packages based
on local advantages as the top priority in all three villages. A central finding is that
competitiveness is determined not merely by the choice of strategy but by the
correct sequencing of its implementation; the priority strategy was therefore
reordered into two phases, namely building institutional, digital, and environmental
foundations (the WO and WT groups), followed by accelerating local-advantage
packages (SO1).
The updated findings establish that this priority strategy can be elevated from
the scale of the three case villages to a regency-scale competitiveness development
strategy for Bogor Regency. Because the three villages represent the three maturity
categories, their strategic profiles serve as templates for the 72 tourism villages in
the regency, of which only 64 are registered in the Tourism Village Network
(Jadesta) and 36 are formalized through a Regent Decree. At the regency scale, the
priority strategy comprises four interrelated pillars: (1) staged governance that
differentiates mechanisms and coordination modes by category, namely
facilitative-directive for pioneering, collaborative-deliberative for developing, and
corporate-regulatory for advanced villages; (2) social-capital strengthening by
classification, grounded in the Tri Tangtu Silih typology, that builds the social-
capital layer constituting the binding constraint at each stage; (3) comprehensive
and standardized resource inventory within a database integrated with Jadesta; and
(4) culture in conservation that positions Sundanese local wisdom as a form of
human adaptation to the environment and an instrument for biodiversity
conservation. | |