| dc.contributor.advisor | Hapsari, Dwi Retno | |
| dc.contributor.advisor | Matindas, Krishnarini | |
| dc.contributor.author | Firdaus, Mohammad Dika Eka | |
| dc.date.accessioned | 2026-08-11T07:23:51Z | |
| dc.date.available | 2026-08-11T07:23:51Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178249 | |
| dc.description.abstract | Tingginya tingkat kemiskinan di wilayah pedesaan serta rendahnya kualitas sumber daya manusia menjadi tantangan dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Salah satu pendekatan yang dinilai mampu menjawab persoalan tersebut adalah kewirausahaan sosial yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga menghasilkan manfaat sosial bagi masyarakat. Keberhasilan kewirausahaan sosial sangat dipengaruhi oleh partisipasi masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan. Komunikasi pembangunan melalui kepemimpinan transformasional memiliki peran penting dalam membangun kesadaran, meningkatkan kapasitas, memotivasi, dan menggerakkan masyarakat agar terlibat aktif dalam berbagai kegiatan pemberdayaan. Yayasan Perintis Pendidik Nusa (YPPN) di Kampung Gunung Leutik merupakan salah satu lembaga sosial yang mengembangkan kegiatan kewirausahaan sosial bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini bertujuan (1) menganalisis hubungan karakteristik individu dan kepemimpinan transformasional dengan tingkat kewirausahaan sosial UMKM; (2) menganalisis proses komunikasi kepemimpinan transformasional pendiri YPPN; serta (3) mendeskripsikan kebermanfaatan kewirausahaan sosial yang dihasilkan bagi masyarakat sekitar.
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain non-eksperimen yang diperkuat oleh data kualitatif. Lokasi penelitian berada di Kampung Gunung Leutik, Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Populasi penelitian terdiri atas 40 pelaku UMKM penerima manfaat program kewirausahaan sosial YPPN yang seluruhnya dijadikan responden melalui metode sensus. Sementara 12 informan penelitian meliputi perangkat desa, pendiri dan pengurus YPPN, tokoh masyarakat, dan perwakilan pelaku UMKM Kampung Gunung Leutik. Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuesioner, wawancara mendalam, serta observasi lapangan. Analisis data kuantitatif menggunakan uji Chi-Square untuk menganalisis hubungan karakteristik individu dengan tingkat kewirausahaan sosial, serta uji korelasi Rank Spearman untuk menganalisis hubungan kepemimpinan transformasional dengan tingkat kewirausahaan sosial. Data kualitatif dianalisis secara deskriptif sebagai pendukung dalam menjelaskan hasil analisis kuantitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik individu yang meliputi usia, pendidikan, motivasi berwirausaha, dan tingkat pendapatan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kewirausahaan sosial pelaku UMKM. Sebaliknya, kepemimpinan transformasional memiliki hubungan nyata dengan tingkat kewirausahaan sosial pada kategori hubungan sedang. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik kepemimpinan transformasional yang diterapkan, semakin tinggi pula tingkat kewirausahaan sosial pelaku UMKM. Implementasi kepemimpinan transformasional diwujudkan melalui empat karakteristik, yaitu kepemimpinan ideal, motivasi inspiratif, stimulasi intelektual, dan pertimbangan individu. Keempat karakteristik tersebut diterapkan melalui komunikasi yang mampu membangun kepercayaan masyarakat, memberikan motivasi untuk berwirausaha, mengembangkan kreativitas dan inovasi, serta memberikan pendampingan sesuai kebutuhan masing-masing pelaku UMKM. Dari perspektif komunikasi pembangunan, proses tersebut memperlihatkan implementasi fungsi peningkatan kapasitas dan penguatan jejaring dalam mendorong partisipasi masyarakat pada kegiatan kewirausahaan sosial. Selain meningkatkan kapasitas usaha, kegiatan kewirausahaan sosial juga menghasilkan manfaat sosial berupa terbukanya kesempatan kerja, tumbuhnya budaya berbagi melalui sedekah hasil usaha, meningkatnya kerja sama antarpelaku UMKM, berkembangnya pertukaran pengetahuan dan pengalaman usaha, serta meningkatnya kepedulian terhadap lingkungan melalui berbagai aktivitas sosial yang dilakukan masyarakat.
Komunikasi kepemimpinan transformasional merupakan faktor yang berperan penting dalam meningkatkan kewirausahaan sosial UMKM di Kampung Gunung Leutik, sedangkan karakteristik individu tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap tingkat kewirausahaan sosial. Keberhasilan pemberdayaan masyarakat melalui kewirausahaan sosial lebih ditentukan oleh kemampuan pemimpin dalam mengomunikasikan visi, membangun motivasi, memberikan ruang inovasi, memperhatikan kebutuhan anggota, serta membangun kolaborasi yang berkelanjutan. Temuan ini memperkuat konsep komunikasi pembangunan yang menempatkan komunikasi sebagai instrumen strategis dalam membangun kapasitas masyarakat, meningkatkan partisipasi, dan menciptakan perubahan sosial yang berkelanjutan. Oleh karena itu, komunikasi kepemimpinan transformasional yang diterapkan Yayasan Perintis Pendidik Nusa dapat menjadi pendekatan pemberdayaan masyarakat berbasis kewirausahaan sosial yang relevan untuk direplikasi pada komunitas dan lembaga sosial lainnya. | |
| dc.description.abstract | The high poverty rate in rural areas and low quality of human resources pose challenges to achieving sustainable development in Indonesia. One approach deemed capable of addressing these issues is social entrepreneurship, which is oriented not only toward economic profit but also generating social benefits for the community. The success of social entrepreneurship is greatly influenced by community participation as the primary actors in development. Development communication through transformational leadership plays a crucial role in building awareness, increasing capacity, motivating, and mobilizing communities to actively participate in various empowerment activities. Yayasan Perintis Pendidik Nusa (YPPN) in Gunung Leutik Village is a social institution that develops social entrepreneurship activities for micro, small, and medium enterprises (MSMEs) as an effort to improve community welfare. This study aims to (1) analyze the relationship between individual characteristics and transformational leadership with the level of social entrepreneurship in MSMEs; (2) analyze the transformational leadership communication process of the YPPN founder; and (3) describe the benefits of social entrepreneurship for the surrounding community.
The study was conducted using a quantitative approach with a non-experimental design, supported by qualitative data. The research location was Gunung Leutik Hamlet, Benteng Village, Ciampea District, Bogor Regency. The study population consisted of 40 MSMEs beneficiaries of the YPPN social entrepreneurship program, all of whom were selected as respondents through a census method. The 12 informants included village officials, YPPN founders and administrators, community leaders, and representatives of MSMEs in Gunung Leutik Village. Data collection was conducted through questionnaires, in-depth interviews, and field observations. Quantitative data analysis used the Chi-Square test to analyze the relationship between individual characteristics and levels of social entrepreneurship, and the Spearman Rank correlation test to analyze the relationship between transformational leadership and levels of social entrepreneurship. Qualitative data were analyzed descriptively to support the explanation of the quantitative analysis results.
The results of the study indicate that individual characteristics, including age, education, entrepreneurial motivation, and income, do not significantly correlate with the level of social entrepreneurship among MSMEs. Conversely, transformational leadership communication has a significant relationship with the level of social entrepreneurship, with a moderate correlation. This indicates that the better transformational leadership communication, the higher level of social entrepreneurship among MSMEs. Transformational leadership is implemented through four characteristics: ideal leadership, inspirational motivation, intellectual stimulation, and individual consideration. These four characteristics are implemented through communication that builds community trust, provides motivation for entrepreneurship, fosters creativity and innovation, and provides mentoring tailored to the needs of each MSME. From a development communication perspective, this process demonstrates the implementation of capacity building and network strengthening functions to encourage community participation in social entrepreneurship activities. In addition to increasing business capacity, social entrepreneurship activities also generate social benefits in the form of opening job opportunities, fostering a culture of sharing through almsgiving from business proceeds, increased cooperation among MSMEs, fostering the exchange of knowledge and business experience, and heightened environmental awareness through various community social activities.
Transformational leadership communication is a crucial factor in enhancing social entrepreneurship among MSMEs in Gunung Leutik Village, while individual characteristics do not significantly impact the level of social entrepreneurship. The success of community empowerment through social entrepreneurship is largely determined by the leader's ability to communicate a vision, build motivation, provide space for innovation, address members needs, and foster sustainable collaboration. These findings reinforce the concept of development communication, which positions communication as a strategic instrument for building community capacity, increasing participation, and creating sustainable social change. Therefore, the transformational leadership communication implemented by Yayasan Perintis Pendidik Nusa can be a relevant approach to social entrepreneurship-based community empowerment that can be replicated in other communities and social institutions. | |
| dc.description.sponsorship | | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Komunikasi Kepemimpinan Transformasional dalam Meningkatkan Kewirausahaan Sosial UMKM Kampung Gunung Leutik | id |
| dc.title.alternative | Transformational Leadership Communication in Improving Social Entrepreneurship of MSMEs in Gunung Leutik Village | |
| dc.type | Tesis | |
| dc.subject.keyword | Gunung Leutik | id |
| dc.subject.keyword | MSMEs | id |
| dc.subject.keyword | social entrepreneurship | id |
| dc.subject.keyword | transformational leadership communication | id |
| dc.subtype | Theses | |