Analisis Vertical Skill Mismatch, Pengangguran Terdidik, dan Disparitas Antarwilayah di Indonesia: Pendekatan Survey-Weighted Multinomial Logit
Date
2026Jenis/Type
SkripsiSubtype
Undergraduate ThesesAuthor
Paramitha, Anita
Purwanto, Deniey Adi
Metadata
Show full item recordAbstract
Peningkatan angkatan kerja terdidik di Indonesia belum sepenuhnya diikuti oleh tersedianya pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi pendidikan, sehingga memunculkan fenomena vertical skill mismatch dan pengangguran terdidik. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kedua fenomena tersebut serta disparitas antarwilayah di Indonesia. Penelitian menggunakan data Sakernas Agustus 2024 dengan metode Survey-Weighted Multinomial Logit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar angkatan kerja terdidik berada pada kategori match, namun masih terdapat undereducated, overeducated, dan pengangguran terdidik. Faktor upah reservasi, investasi modal
manusia, demografis, pendukung kerja, dan permintaan tenaga kerja berpengaruh terhadap vertical skill mismatch dan pengangguran terdidik dengan arah pengaruh yang berbeda. Selain itu, terdapat disparitas antarwilayah, di mana Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur cenderung mengalami vertical skill mismatch, sedangkan Jawa lebih sensitif terhadap pengangguran terdidik. Temuan ini menunjukkan pentingnya kebijakan ketenagakerjaan yang disesuaikan dengan karakteristik pasar kerja di setiap wilayah. The increase in Indonesia's educated labor force has not been fully accompanied by the availability of jobs that match educational qualifications,
resulting in the phenomena of vertical skill mismatch and educated unemployment. This study aims to analyze the factors influencing these two phenomena as well as regional disparities across Indonesia. The study uses data from the August 2024 Sakernas and applies the Survey-Weighted Multinomial Logit analysis. The results indicate that the majority of the educated labor force is employed in matched jobs, although undereducated, overeducated, and educated unemployment conditions still exist. Reservation wages, human capital investment, demographic factors, job support factors, and labor demand significantly affect vertical skill mismatch and educated unemployment, with varying directions of influence. In addition, regional disparities are evident, Bali, West Nusa Tenggara, and East Nusa Tenggara tending to experience higher levels of vertical skill mismatch, while Java is more sensitive to educated unemployment. These findings highlight the importance of employment policies that are tailored to the characteristics of regional labor markets.

