Show simple item record

dc.contributor.advisorTaryono
dc.contributor.advisorWidigdo, Bambang
dc.contributor.authorFarid, Moch
dc.date.accessioned2026-08-10T08:37:41Z
dc.date.available2026-08-10T08:37:41Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178031
dc.description.abstractKawasan pesisir Kecamatan Brebes mengalami perubahan penggunaan lahan seluas 891,561 hektare dalam sepuluh tahun terakhir, ditandai penurunan luasan tambak dari 3.382,495 hektare menjadi 3.173,220 hektare dan pertambahan mangrove seluas 281,065 hektare, sehingga menimbulkan persaingan pemanfaatan ruang yang memerlukan model pemanfaatan optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi biofisik, menganalisis kesesuaian pemanfaatan lahan, menghitung nilai jasa ekosistem, dan merumuskan model pemanfaatan optimal pada kawasan tambak dan ekosistem mangrove di pesisir Kecamatan Brebes. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai April 2025 di enam stasiun, terdiri atas tiga stasiun mangrove alami dan tiga stasiun tambak silvofishery di Desa Kaliwlingi dan Desa Randusanga Kulon. Kondisi biofisik dianalisis melalui kualitas air, vegetasi mangrove, biomassa tegakan, dan simpanan karbon tanah. Kesesuaian lahan dianalisis menggunakan Multi Criteria Decision Analysis berbasis Sistem Informasi Geografis dengan metode Weighted Linear Combination untuk tiga peruntukan, yaitu tambak budidaya, rehabilitasi mangrove, dan ekowisata mangrove. Nilai jasa ekosistem dihitung menggunakan pendekatan net benefit, dengan responden nelayan, petambak, dan wisatawan masing-masing sebanyak 30 orang. Model pemanfaatan optimal dirumuskan melalui linear programming dengan bantuan perangkat lunak LINDO 6.1. Kerapatan tegakan mangrove alami mencapai 3.883 individu per hektare dan simpanan karbon biomassa 71,13 megagram karbon per hektare, jauh lebih tinggi dibandingkan tambak silvofishery sebanyak 966 individu per hektare dan 10,75 megagram karbon per hektare, sedangkan simpanan karbon sedimen relatif setara pada kedua tipe lahan. Kawasan sesuai untuk tambak budidaya seluas 2.195,45 hektare atau 23,14 persen, untuk rehabilitasi mangrove seluas 3.638,15 hektare atau 38,34 persen, dan untuk ekowisata mangrove hanya 506,02 hektare atau 5,33 persen tanpa satu pun kelas Sangat Sesuai. Net benefit mangrove alami mencapai Rp189.793.035 per hektare per tahun, sekitar 10,4 kali lebih tinggi daripada tambak silvofishery sebesar Rp18.207.833 per hektare per tahun. Model optimasi linear programming merekomendasikan Skenario S2 sebagai model terpilih, yaitu mempertahankan 2.031,84 hektare tambak silvofishery dan menambahkan 677,28 hektare rehabilitasi mangrove, sehingga luas mangrove kawasan meningkat dari 645,29 hektare menjadi 1.322,57 hektare. Model ini menghasilkan net benefit ekuilibrium Rp288,34 miliar per tahun, meningkat 67,7 persen dari kondisi baseline, dengan kendala luas kawasan dan retensi minimum tambak sebagai faktor pembatas utama. Hasil ini memberikan dasar kuantitatif bagi kebijakan alokasi lahan pesisir Kecamatan Brebes yang seimbang antara budidaya dan konservasi mangrove.
dc.description.sponsorshipLembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleOPTIMASI PEMANFAATAN KAWASAN TAMBAK DAN EKOSISTEM MANGROVE DI PESISIR KECAMATAN BREBESid
dc.title.alternative
dc.typeTesis
dc.subject.keywordEkosistem Mangroveid
dc.subject.keywordkesesuaian lahanid
dc.subject.keywordNet Benefitid
dc.subject.keywordoptimasi lahanid
dc.subject.keywordtambak silvofisheryid
dc.subtypeTheses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record