Show simple item record

dc.contributor.advisorNugroho, Bramasto
dc.contributor.advisorSundawati, Leti
dc.contributor.authorMurti, Rosyida Eka Dika
dc.date.accessioned2026-08-10T08:00:09Z
dc.date.available2026-08-10T08:00:09Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178016
dc.description.abstractKegiatan penyadapan getah pinus (Pinus merkusii) yang dikelola oleh Perum Perhutani merupakan sumber penghidupan utama bagi masyarakat sekitar hutan di wilayah KPH Bandung Selatan. Namun, rendahnya upah dan ketidakpastian pendapatan menyebabkan kegiatan penyadapan belum mampu meningkatkan kesejahteraan rumah tangga penyadap secara optimal. Untuk mempertahankan keberlangsungan hidup, rumah tangga penyadap menerapkan berbagai strategi nafkah, terutama diversifikasi pekerjaan dan pemanfaatan sumber daya di luar sektor kehutanan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara modal nafkah, strategi nafkah, dan tingkat kesejahteraan rumah tangga penyadap getah pinus, serta menganalisis kemampuan finansial Pabrik Gondorukem dan Terpentin (PGT) Sindangwangi dalam mendukung penyesuaian sistem pengupahan penyadap. Penelitian dilakukan di RPH Banjaran, RPH Mandalawangi, dan RPH Papandayan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif melalui survei, wawancara, dan observasi lapang. Data dianalisis secara deskriptif dan menggunakan uji korelasi Rank Spearman untuk mengkaji hubungan antara modal nafkah, strategi nafkah, dan tingkat kesejahteraan rumah tangga penyadap. Selain itu, dilakukan analisis finansial terhadap PGT Sindangwangi untuk menilai kemampuan pabrik dalam meningkatkan harga pembelian getah pinus berdasarkan biaya produksi, harga jual gondorukem dan terpentin, serta faktor keuntungan perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial merupakan modal nafkah yang paling dominan dimiliki rumah tangga penyadap, sedangkan strategi nafkah yang paling banyak diterapkan adalah diversifikasi. Modal nafkah secara agregat memiliki hubungan positif namun tidak signifikan terhadap strategi nafkah (? = 0,289; p = 0,108), sementara modal manusia menunjukkan hubungan positif dan signifikan terhadap strategi nafkah (? = 0,427; p = 0,015). Hubungan antara strategi nafkah dan tingkat kesejahteraan juga menunjukkan korelasi positif dengan kekuatan rendah dan tidak signifikan (? = 0,333; p = 0,062), yang mengindikasikan bahwa strategi nafkah rumah tangga penyadap lebih berfungsi untuk bertahan hidup (coping strategy) dibandingkan sebagai strategi peningkatan kesejahteraan jangka panjang. Tingkat kesejahteraan rumah tangga penyadap sebagian besar berada pada kategori sedang sebesar 59,38%, sementara sebagian besar pendapatan penyadap masih berada di bawah UMK Kabupaten Bandung tahun 2024. Dari sisi usaha, PGT Sindangwangi masih memiliki kapasitas finansial untuk meningkatkan harga getah pinus dari Rp 9.450.000 menjadi Rp 11.408.857 per ton atau meningkat sekitar 20,73% dengan rasio operasi sebesar 53,13%, sehingga masih memberikan ruang keuntungan bagi perusahaan. Oleh karena itu, penyesuaian tarif upah penyadapan yang disertai penguatan modal nafkah rumah tangga penyadap diharapkan dapat mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan dan keberlanjutan pengelolaan hutan.
dc.description.abstractPine resin tapping (Pinus merkusii) by Perum Perhutani serves as the primary source of subsistence for communities residing in forest areas within the South Bandung Forest Management Unit (KPH Bandung Selatan). However, the capacity of resin tapping activities to enhance the well-being of tapper households has been constrained by two factors: low wages and income instability. To ensure their economic well-being, tapper households implement various livelihood strategies, particularly livelihood diversification and the utilization of income sources outside the forestry sector. The objective of this study was to analyze the relationships among livelihood assets, livelihood strategies, and the welfare levels of pine resin tapper households. Additionally, the study sought to assess the financial capacity of the Gondorukem and Turpentine Factory (PGT) Sindangwangi in supporting adjustments to the tapper wage system. The research was conducted at RPH Banjaran, RPH Mandalawangi, and RPH Papandayan using quantitative and qualitative approaches, including surveys, interviews, and field observations. The data were analyzed descriptively and using Spearman's Rank Correlation test to examine the relationships among livelihood assets, livelihood strategies, and household welfare. Furthermore, a financial analysis was conducted to assess the factory's capacity to increase pine resin purchasing prices based on production costs, selling prices of rosin and turpentine, and the company's profit factor. The results showed that social capital was the most dominant livelihood asset owned by tapper households, while diversification was the most commonly applied livelihood strategy. Livelihood assets in aggregate had a positive but statistically insignificant relationship with livelihood strategies (? = 0.289; p = 0.108), whereas human capital showed a positive and significant relationship with livelihood strategies (? = 0.427; p = 0.015). The relationship between livelihood strategies and household welfare also showed a positive correlation with low strength and was statistically insignificant (? = 0.333; p = 0.062), indicating that the livelihood strategies implemented by tapper households functioned more as a coping strategy to maintain income stability rather than as a strategy for long-term welfare improvement. Most tapper households were categorized as having a moderate welfare level (59.38%), while most tapper incomes remained below the Bandung Regency Minimum Wage in 2024. From the business perspective, PGT Sindangwangi still had the financial capacity to increase pine resin prices from IDR 9,450,000 to IDR 11,408,857 per ton, representing an increase of approximately 20.73%, while maintaining an operating ratio of 53.13%, indicating that the company still retains a margin for profit and risk. Therefore, adjustments to resin tapping wages accompanied by strengthening household livelihood assets are expected to support improvements in community welfare and the sustainability of forest management.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleOptimasi Pengupahan Penyadapan Getah Pinus di Perum Perhutani: Perspektif Strategi Nafkah Rumah Tanggaid
dc.title.alternativeOptimization of Pine Resin Tapping Wages at Perum Perhutani: A Household Livelihood Strategy Perspective
dc.typeTesis
dc.subject.keywordlivelihood capitalid
dc.subject.keywordlivelihood strategyid
dc.subject.keywordPine Resinid
dc.subject.keywordwage systemid
dc.subject.keywordwelfareid
dc.subtypeTheses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record