Optimasi Pengupahan Penyadapan Getah Pinus di Perum Perhutani: Perspektif Strategi Nafkah Rumah Tangga
Date
2026Jenis/Type
TesisSubtype
ThesesAuthor
Murti, Rosyida Eka Dika
Nugroho, Bramasto
Sundawati, Leti
Metadata
Show full item recordAbstract
Kegiatan penyadapan getah pinus (Pinus merkusii) yang dikelola oleh Perum
Perhutani merupakan sumber penghidupan utama bagi masyarakat sekitar hutan di
wilayah KPH Bandung Selatan. Namun, rendahnya upah dan ketidakpastian
pendapatan menyebabkan kegiatan penyadapan belum mampu meningkatkan
kesejahteraan rumah tangga penyadap secara optimal. Untuk mempertahankan
keberlangsungan hidup, rumah tangga penyadap menerapkan berbagai strategi
nafkah, terutama diversifikasi pekerjaan dan pemanfaatan sumber daya di luar
sektor kehutanan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara modal
nafkah, strategi nafkah, dan tingkat kesejahteraan rumah tangga penyadap getah
pinus, serta menganalisis kemampuan finansial Pabrik Gondorukem dan Terpentin
(PGT) Sindangwangi dalam mendukung penyesuaian sistem pengupahan penyadap.
Penelitian dilakukan di RPH Banjaran, RPH Mandalawangi, dan RPH
Papandayan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif melalui survei,
wawancara, dan observasi lapang. Data dianalisis secara deskriptif dan
menggunakan uji korelasi Rank Spearman untuk mengkaji hubungan antara modal
nafkah, strategi nafkah, dan tingkat kesejahteraan rumah tangga penyadap. Selain
itu, dilakukan analisis finansial terhadap PGT Sindangwangi untuk menilai
kemampuan pabrik dalam meningkatkan harga pembelian getah pinus berdasarkan
biaya produksi, harga jual gondorukem dan terpentin, serta faktor keuntungan
perusahaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial merupakan modal nafkah
yang paling dominan dimiliki rumah tangga penyadap, sedangkan strategi nafkah
yang paling banyak diterapkan adalah diversifikasi. Modal nafkah secara agregat
memiliki hubungan positif namun tidak signifikan terhadap strategi nafkah (? =
0,289; p = 0,108), sementara modal manusia menunjukkan hubungan positif dan
signifikan terhadap strategi nafkah (? = 0,427; p = 0,015). Hubungan antara strategi
nafkah dan tingkat kesejahteraan juga menunjukkan korelasi positif dengan
kekuatan rendah dan tidak signifikan (? = 0,333; p = 0,062), yang mengindikasikan
bahwa strategi nafkah rumah tangga penyadap lebih berfungsi untuk bertahan hidup
(coping strategy) dibandingkan sebagai strategi peningkatan kesejahteraan jangka
panjang. Tingkat kesejahteraan rumah tangga penyadap sebagian besar berada pada
kategori sedang sebesar 59,38%, sementara sebagian besar pendapatan penyadap
masih berada di bawah UMK Kabupaten Bandung tahun 2024. Dari sisi usaha, PGT
Sindangwangi masih memiliki kapasitas finansial untuk meningkatkan harga getah
pinus dari Rp 9.450.000 menjadi Rp 11.408.857 per ton atau meningkat sekitar
20,73% dengan rasio operasi sebesar 53,13%, sehingga masih memberikan ruang
keuntungan bagi perusahaan. Oleh karena itu, penyesuaian tarif upah penyadapan
yang disertai penguatan modal nafkah rumah tangga penyadap diharapkan dapat
mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan dan keberlanjutan
pengelolaan hutan. Pine resin tapping (Pinus merkusii) by Perum Perhutani serves as the primary
source of subsistence for communities residing in forest areas within the South
Bandung Forest Management Unit (KPH Bandung Selatan). However, the capacity
of resin tapping activities to enhance the well-being of tapper households has been
constrained by two factors: low wages and income instability. To ensure their
economic well-being, tapper households implement various livelihood strategies,
particularly livelihood diversification and the utilization of income sources outside
the forestry sector. The objective of this study was to analyze the relationships
among livelihood assets, livelihood strategies, and the welfare levels of pine resin
tapper households. Additionally, the study sought to assess the financial capacity
of the Gondorukem and Turpentine Factory (PGT) Sindangwangi in supporting
adjustments to the tapper wage system.
The research was conducted at RPH Banjaran, RPH Mandalawangi, and RPH
Papandayan using quantitative and qualitative approaches, including surveys,
interviews, and field observations. The data were analyzed descriptively and using
Spearman's Rank Correlation test to examine the relationships among livelihood
assets, livelihood strategies, and household welfare. Furthermore, a financial
analysis was conducted to assess the factory's capacity to increase pine resin
purchasing prices based on production costs, selling prices of rosin and turpentine,
and the company's profit factor.
The results showed that social capital was the most dominant livelihood asset
owned by tapper households, while diversification was the most commonly applied
livelihood strategy. Livelihood assets in aggregate had a positive but statistically
insignificant relationship with livelihood strategies (? = 0.289; p = 0.108), whereas
human capital showed a positive and significant relationship with livelihood
strategies (? = 0.427; p = 0.015). The relationship between livelihood strategies and
household welfare also showed a positive correlation with low strength and was
statistically insignificant (? = 0.333; p = 0.062), indicating that the livelihood
strategies implemented by tapper households functioned more as a coping strategy
to maintain income stability rather than as a strategy for long-term welfare
improvement. Most tapper households were categorized as having a moderate
welfare level (59.38%), while most tapper incomes remained below the Bandung
Regency Minimum Wage in 2024. From the business perspective, PGT
Sindangwangi still had the financial capacity to increase pine resin prices from IDR
9,450,000 to IDR 11,408,857 per ton, representing an increase of approximately
20.73%, while maintaining an operating ratio of 53.13%, indicating that the
company still retains a margin for profit and risk. Therefore, adjustments to resin
tapping wages accompanied by strengthening household livelihood assets are
expected to support improvements in community welfare and the sustainability of
forest management.
Collections
- MF - Forestry [1611]

