| dc.contributor.advisor | Raffiudin, Rika | |
| dc.contributor.advisor | Priawandiputra, Windra | |
| dc.contributor.advisor | Cesard, Nicolas | |
| dc.contributor.author | Nurjannah, Farah Syahidah | |
| dc.date.accessioned | 2026-08-09T10:16:40Z | |
| dc.date.available | 2026-08-09T10:16:40Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177915 | |
| dc.description.abstract | Apis dorsata serves as a pollinator, a producer of wild honey, and a valuable
species for honey bee research. Local honey harvesters construct a traditional
artificial nesting site known as sunggau to attract A. dorsata colonies. Sambit is the
local name in Belitung for natural nesting trees for A. dorsata, the forest honey bee.
This research compared forest canopy openness above sunggau as an artificial
structure with the canopy openness profile on natural nesting sites (locally known
as sambit). Canopy cover was presented using hemispherical photography with a
vertical upward view of the sky. Hemispherical photographs captured under the
nest substrates were analyzed using statistical analysis with the Rstudio 2026
version. The appearance difference in nest substrate size between sunggau and
sambit photographs was influenced by the distance of taking images. Canopy
openness values of sunggau and sambit overlapped within a range of 12–14%. The
Mann-Whitney test confirmed no significant difference in canopy openness
between nesting sites. Statistical tests showed no significant differences in
microclimate including temperature, humidity, light intensity, and wind speed
between sunggau and forest floor under sambit. Thisresearch suggeststhatsunggau
provide canopy openness comparable to sambit despite the disparity in nesting
height. | |
| dc.description.abstract | Apis dorsata berperan sebagai serangga penyerbuk, produsen madu hutan,
dan spesies yang bernilai penting dalam penelitian lebah madu. Pemanen madu
lokal secara tradisional membangun tempat bersarang buatan yang disebut sunggau
untuk menarik koloni lebah A. dorsata. Sambit merupakan nama lokal di Belitung
untuk pohon tempat bersarang alami bagi lebah madu hutan A. dorsata. Penelitian
ini membandingkan nilai bukaan kanopi hutan di atas sunggau sebagai struktur
buatan dengan profil bukaan kanopi pada tempat bersarang alami (nama lokal
sambit). Tutupan kanopi hutan diprepresentasikan melalui fotografi hemisferik
dengan sudut pandang vertical langit. Foto hemisferik yang diambil dari bawah
substrat sarang dianalisis menggunakan Rstudio versi 2026. Perbedaan ukuran
substrat sarang yang tampak pada foto sunggau dan sambit dipengaruhi oleh jarak
pengambilan gambar. Nilai bukaan kanopi sunggau dan sambit tumpang tindih
dalam kisaran 12–14%. Uji Mann-Whitney mengonfirmasi tidak ada perbedaan
signifikan dalam bukaan kanopi antara dua tempat bersarang. Uji statistik
menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dalam kondisi mikroklimat yaitu
suhu, kelembaban, intensitas cahaya, dan kecepatan angin antara sunggau dan
lantai hutan di bawah sambit. Penelitian ini menunjukkan bahwa sunggau dapat
menyerupai bukaan kanopi sambit meskipun memiliki perbedaan ketinggian. | |
| dc.description.sponsorship | BeeCON | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Hemispherical Photography of Artificial Sunggau Rafters and Natural Sambit Bee Trees for Apis dorsata | id |
| dc.title.alternative | Fotografi Hemisferik dari Struktur Buatan Sunggau dan Pohon Lebah Alami Sambit untuk Apis dorsata | |
| dc.type | Skripsi | |
| dc.subject.keyword | canopy openness | id |
| dc.subject.keyword | forest bee | id |
| dc.subject.keyword | microclimate | id |
| dc.subject.keyword | nesting sites | id |
| dc.subject.keyword | rstudio | id |
| dc.subtype | Undergraduate Theses | |