Show simple item record

dc.contributor.advisorPriyanto, Rudy
dc.contributor.advisorAbdullah, Luki
dc.contributor.advisorSoewondo, Panca Dewi Manu Hara Karti
dc.contributor.advisorManalu, Wasmen
dc.contributor.authorAditia, Edit Lesa
dc.date.accessioned2026-08-08T05:03:51Z
dc.date.available2026-08-08T05:03:51Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177856
dc.description.abstractTransportasi ternak merupakan salah satu elemen penting dalam rantai pasok sapi pedaging. Meskipun demikian, kegiatan transportasi juga dikenal sebagai salah satu faktor yang dapat memicu stres pada ternak sehingga berdampak pada produktivitas dan aspek kesejahteraan hewannya. Kondisi stres cenderung meningkat di wilayah tropis karena cekaman suhu dan kelembapan lingkungan serta intensitas radiasi matahari yang tinggi selama perjalanan. Penelitian ini bertujuan: (1) mengidentifikasi dan mengevaluasi kondisi terkini transportasi sapi lokal, baik jarak dekat dan jarak jauh antarpulau, serta (2) mengevaluasi status fisiologis, profil darah, dan performa produksi sapi lokal (sapi PO dan Silangan lokal) pada transportasi jarak dekat. Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif, yang memotret kondisi umum transportasi sapi di Indonesia, khususnya transportasi durasi singkat (transportasi < 8 jam). Penelitian bagian pertama adalah benchmarking transportasi sapi di Indonesia. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi dan mengevaluasi kondisi terkini transportasi sapi lokal, baik jarak dekat dan jarak jauh, dalam satu pulau dan antarpulau di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan survei pada proses transportasi sapi, baik jarak dekat dan jarak jauh, dalam pulau yang sama dan antarpulau yang berbeda. Total 42 orang pengemudi yang diwawancarai dengan total 500 ekor sapi yang diangkut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transportasi sapi di Indonesia masih belum memenuhi standar aspek kesrawan karena belum memiliki panduan (SOP) yang sesuai. Selanjutnya kompetensi SDM pengemudi ternak masih belum memahami aspek kesejahteraan hewan selama pengangkutan dan belum pernah mengikuti pelatihan kesrawan. Selama pengangkutan, sapi diikat dan berdiri dengan kepadatan yang tinggi, baik untuk transportasi jarak dekat dan jarak jauh (0,7-0,8 m2/ekor) dan tanpa pemberian pakan sesuai kebutuhan. Lebih lanjut, penyusutan bobot badan semakin meningkat seiring dengan peningkatan jarak tempuh. Rataan persentase penyusutan bobot badan untuk transportasi adalah 2,49±1,41% dengan lama rekondisi sekitar 10-12 hari, sedangkan untuk transportasi jarak jauh penyusutan bobot adalah 17,09±3,86% dengan lama rekondisi sekitar 25-30 hari. Kualitasa aspek kesejahteraan hewan berdasarkan skoring indeks kesejahteraan hewan (IKH) selama transportasi durasi singkat berada dalam kondisi sedang (skor IKH 2), sedangkan untuk transportasi durasi panjang masih dalam kondisi yang buruk (skor IKH 1,9). Penelitian selanjutnya adalah transportasi jarak dekat sapi Peranakan Ongole (PO) dan Silangan Lokal (SL). Total 16 ekor sapi jantan, yang terdiri atas 8 ekor sapi PO dan 8 ekor sapi SL dengan umur 18–30 bulan (I1-2). Transportasi yang dilakukan menempuh jarak ±102 km dengan total durasi perjalanan selama 6 jam 35 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan susut bobot badan pada kedua bangsa sapi adalah sebesar 1,2%. Waktu pemulihan pada kedua bangsa sapi relatif sama, yaitu selama 10 hari. Selain itu, sapi PO yang diberi pakan Sorinfer maupun konsentrat komersial memiliki pertambahan bobot badan dan bobot akhir yang lebih tinggi (P < 0,05) dibandingkan dengan sapi SL. Dapat disimpulkan bahwa pakan Sorinfer efektif dalam mendukung pemulihan sapi potong lokal setelah transportasi. Namun demikian, pakan Sorinfer menghasilkan performa yang lebih rendah dibandingkan dengan konsentrat komersial pada periode penggemukan singkat. Selanjutnya adalah pengamatan untuk peubah respons fisiologis dan profil darah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sapi PO dan SL mengalami stres selama transportasi durasi singkat. Kadar glukosa darah dan PCV sapi PO pratransportasi nyata lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan pada sapi SL. Selanjutnya, kadar glukosa dan PCV sapi PO dan SL pascatransportasi nyata lebih rendah (P<0,05), meskipun tidak berbeda nyata antarbangsa sapi. Selain itu, rasio neutrophil:limfosit (N:L) meningkat pascatransportasi. Analisis hubungan antarvariabel memperlihatkan adanya korelasi yang signifikan antara parameter fisiologis dan hematologis dengan performa produksi. Peningkatan indikator stres fisiologis cenderung diikuti oleh peningkatan kehilangan bobot badan. Lebih lanjut, hasil analisis regresi menunjukkan bahwa beberapa parameter, seperti frekuensi respirasi dan variabel hematologi tertentu, memiliki potensi sebagai prediktor pada penurunan performa dan kerugian ekonomis. Lama rekondisi untuk sapi PO dan SL adalah 10 hari, di mana sapi PO memiliki performa yang lebih baik selama pemeliharaan rekondisi. Hal ini dapat dilihat dari bobot akhir pascarekondisi, PBBH dan PBB, serta konsumsi pakan dan bahan kering ransum sapi PO yang nyata lebih tinggi dibandingkan dengan sapi SL (P<0,05).
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleMitigasi Stres Pasca Transportasi pada Sapi Lokal: Kajian Terintegrasi Performa Produksi, Respons Fisiologis, dan Metabolit Darahid
dc.title.alternativePost-Transportation Stress Mitigation in Local Cattle: An Integrated Assessment of Production Performances, Physiological Responses, and Blood Metabolite.
dc.typeDisertasi
dc.subject.keywordtransportasiid
dc.subject.keywordkesejahteraan hewanid
dc.subject.keywordperformaid
dc.subject.keywordSapi Lokalid
dc.subtypeDissertations


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record