Mitigasi Stres Pasca Transportasi pada Sapi Lokal: Kajian Terintegrasi Performa Produksi, Respons Fisiologis, dan Metabolit Darah
Date
2026Jenis/Type
DisertasiSubtype
DissertationsAuthor
Aditia, Edit Lesa
Priyanto, Rudy
Abdullah, Luki
Soewondo, Panca Dewi Manu Hara Karti
Manalu, Wasmen
Metadata
Show full item recordAbstract
Transportasi ternak merupakan salah satu elemen penting dalam rantai
pasok sapi pedaging. Meskipun demikian, kegiatan transportasi juga dikenal
sebagai salah satu faktor yang dapat memicu stres pada ternak sehingga
berdampak pada produktivitas dan aspek kesejahteraan hewannya. Kondisi stres
cenderung meningkat di wilayah tropis karena cekaman suhu dan kelembapan
lingkungan serta intensitas radiasi matahari yang tinggi selama perjalanan.
Penelitian ini bertujuan: (1) mengidentifikasi dan mengevaluasi kondisi terkini
transportasi sapi lokal, baik jarak dekat dan jarak jauh antarpulau, serta (2)
mengevaluasi status fisiologis, profil darah, dan performa produksi sapi lokal
(sapi PO dan Silangan lokal) pada transportasi jarak dekat. Penelitian ini
merupakan penelitian eksploratif, yang memotret kondisi umum transportasi sapi
di Indonesia, khususnya transportasi durasi singkat (transportasi < 8 jam).
Penelitian bagian pertama adalah benchmarking transportasi sapi di
Indonesia. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi dan mengevaluasi kondisi
terkini transportasi sapi lokal, baik jarak dekat dan jarak jauh, dalam satu pulau
dan antarpulau di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan survei
pada proses transportasi sapi, baik jarak dekat dan jarak jauh, dalam pulau yang
sama dan antarpulau yang berbeda. Total 42 orang pengemudi yang diwawancarai
dengan total 500 ekor sapi yang diangkut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
transportasi sapi di Indonesia masih belum memenuhi standar aspek kesrawan
karena belum memiliki panduan (SOP) yang sesuai. Selanjutnya kompetensi SDM
pengemudi ternak masih belum memahami aspek kesejahteraan hewan selama
pengangkutan dan belum pernah mengikuti pelatihan kesrawan. Selama
pengangkutan, sapi diikat dan berdiri dengan kepadatan yang tinggi, baik untuk
transportasi jarak dekat dan jarak jauh (0,7-0,8 m2/ekor) dan tanpa pemberian
pakan sesuai kebutuhan. Lebih lanjut, penyusutan bobot badan semakin
meningkat seiring dengan peningkatan jarak tempuh. Rataan persentase
penyusutan bobot badan untuk transportasi adalah 2,49±1,41% dengan lama
rekondisi sekitar 10-12 hari, sedangkan untuk transportasi jarak jauh penyusutan
bobot adalah 17,09±3,86% dengan lama rekondisi sekitar 25-30 hari. Kualitasa
aspek kesejahteraan hewan berdasarkan skoring indeks kesejahteraan hewan
(IKH) selama transportasi durasi singkat berada dalam kondisi sedang (skor IKH
2), sedangkan untuk transportasi durasi panjang masih dalam kondisi yang buruk
(skor IKH 1,9).
Penelitian selanjutnya adalah transportasi jarak dekat sapi Peranakan Ongole
(PO) dan Silangan Lokal (SL). Total 16 ekor sapi jantan, yang terdiri atas 8 ekor
sapi PO dan 8 ekor sapi SL dengan umur 18–30 bulan (I1-2). Transportasi yang
dilakukan menempuh jarak ±102 km dengan total durasi perjalanan selama 6 jam
35 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan susut bobot badan pada
kedua bangsa sapi adalah sebesar 1,2%. Waktu pemulihan pada kedua bangsa sapi
relatif sama, yaitu selama 10 hari. Selain itu, sapi PO yang diberi pakan Sorinfer
maupun konsentrat komersial memiliki pertambahan bobot badan dan bobot akhir
yang lebih tinggi (P < 0,05) dibandingkan dengan sapi SL. Dapat disimpulkan
bahwa pakan Sorinfer efektif dalam mendukung pemulihan sapi potong lokal
setelah transportasi. Namun demikian, pakan Sorinfer menghasilkan performa
yang lebih rendah dibandingkan dengan konsentrat komersial pada periode
penggemukan singkat.
Selanjutnya adalah pengamatan untuk peubah respons fisiologis dan profil
darah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sapi PO dan SL mengalami stres
selama transportasi durasi singkat. Kadar glukosa darah dan PCV sapi PO
pratransportasi nyata lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan pada sapi SL.
Selanjutnya, kadar glukosa dan PCV sapi PO dan SL pascatransportasi nyata lebih
rendah (P<0,05), meskipun tidak berbeda nyata antarbangsa sapi. Selain itu, rasio
neutrophil:limfosit (N:L) meningkat pascatransportasi. Analisis hubungan
antarvariabel memperlihatkan adanya korelasi yang signifikan antara parameter
fisiologis dan hematologis dengan performa produksi. Peningkatan indikator stres
fisiologis cenderung diikuti oleh peningkatan kehilangan bobot badan. Lebih
lanjut, hasil analisis regresi menunjukkan bahwa beberapa parameter, seperti
frekuensi respirasi dan variabel hematologi tertentu, memiliki potensi sebagai
prediktor pada penurunan performa dan kerugian ekonomis. Lama rekondisi untuk
sapi PO dan SL adalah 10 hari, di mana sapi PO memiliki performa yang lebih
baik selama pemeliharaan rekondisi. Hal ini dapat dilihat dari bobot akhir
pascarekondisi, PBBH dan PBB, serta konsumsi pakan dan bahan kering ransum
sapi PO yang nyata lebih tinggi dibandingkan dengan sapi SL (P<0,05).
Collections
- DF - Animal Science [376]

