Show simple item record

dc.contributor.advisorBriawan, Dodik
dc.contributor.advisorDwiriani, Cesilia Meti
dc.contributor.authorPratama, Muhammad Rafki
dc.date.accessioned2026-08-08T03:36:43Z
dc.date.available2026-08-08T03:36:43Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177824
dc.description.abstractKetahanan pangan merupakan salah satu determinan penting yang memengaruhi status gizi masyarakat, termasuk kejadian stunting pada balita. Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memiliki prevalensi stunting yang relatif tinggi meskipun berdasarkan Indeks Ketahanan Pangan (IKP) yang dikembangkan Badan Pangan Nasional (BAPANAS) tergolong sangat tahan pangan. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara kondisi ketahanan pangan pada tingkat kabupaten dan kondisi aktual pada tingkat desa. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan IKP dengan prevalensi stunting pada tingkat desa, mengidentifikasi status ketahanan pangan desa, dan menentukan indikator ketahanan pangan yang paling berhubungan dengan prevalensi stunting di Kabupaten PPU. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan data sekunder Data Desa Presisi (DDP) 2023 dan data prevalensi stunting dari e-PPGBM Dinas Kesehatan Kabupaten PPU tahun 2023. Analisis mencakup 40 dari 54 desa/kelurahan yang memiliki data lengkap. IKP tingkat desa dihitung menggunakan kerangka yang dimodifikasi dengan sembilan indikator yang merepresentasikan aspek ketersediaan pangan, akses pangan, dan pemanfaatan pangan. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, korelasi Spearman, dan regresi linear berganda metode backward. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata IKP tingkat desa sebesar 57,81 dengan rentang 33,41–81,04 dan termasuk kategori agak rentan. Rata-rata prevalensi stunting sebesar 13,70% dengan rentang 0–36,17%. IKP berhubungan negatif dan signifikan dengan prevalensi stunting (r = -0,464; p = 0,003). Kemiskinan merupakan indikator yang paling dominan dalam model regresi (ß = 0,379; p = 0,002), sedangkan angka harapan hidup menunjukkan hubungan negatif tetapi tidak signifikan pada a = 5% (ß = -0,722; p = 0,077). Model akhir memiliki Adjusted R² sebesar 0,261. Penelitian menyimpulkan bahwa ketahanan pangan tingkat desa berhubungan signifikan dengan prevalensi stunting, dengan kemiskinan sebagai faktor yang paling dominan. Penguatan ketahanan pangan desa melalui pengurangan kemiskinan, peningkatan pendidikan perempuan, dan optimalisasi pemanfaatan Dana Desa dapat mendukung percepatan penurunan stunting.
dc.description.abstractFood security is an important determinant of nutritional status, including stunting among children under five years of age. Penajam Paser Utara Regency (PPU) has a relatively high prevalence of stunting despite being classified as highly food-secure based on the Food Security Index (Indeks Ketahanan Pangan, IKP) developed by the National Food Agency (BAPANAS). This study aimed to analyze the relationship between village-level IKP and stunting prevalence, identify village food security status, and determine the indicators most strongly associated with stunting prevalence in PPU. This cross-sectional study used secondary data from Data Desa Presisi (DDP) 2023 and stunting prevalence data from e-PPGBM of the PPU District Health Office. The analysis included 40 of 54 villages/urban villages with complete data. Village-level IKP was calculated using a modified framework comprising nine indicators representing food availability, food access, and food utilization. Data were analyzed using descriptive statistics, Spearman's rank correlation, and backward multiple linear regression. The mean village-level IKP score was 57.81, ranging from 33.41 to 81.04, and was classified as moderately food vulnerable. The mean stunting prevalence was 13.70%, ranging from 0% to 36.17%. IKP was significantly and negatively correlated with stunting prevalence (r = -0.464; p = 0.003). Poverty rate (r = 0.529; p < 0.001), food expenditure exceeding 65% of total expenditure (r = 0.420; p = 0.007), and households without electricity (r = 0.427; p = 0.006) were positively correlated with stunting, while women's mean years of schooling was negatively correlated (r = -0.356; p = 0.024). The final regression model included poverty and life expectancy (adjusted R² = 0.261). Poverty was the most dominant indicator (ß = 0.379; p = 0.002), while life expectancy showed a negative but non-significant effect (ß = -0.722; p = 0.077). The study concludes that better village-level food security is associated with lower stunting prevalence, with poverty emerging as the most dominant associated factor. Strengthening village food security through poverty reduction, improved women's education, and optimization of Village Fund utilization may support stunting reduction efforts.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleHubungan Indeks Ketahanan Pangan Dengan Prevalensi Stunting Pada Tingkat Desa di Kabupaten Penajam Paser Utaraid
dc.title.alternativeAssociation between Food Security Index and Stunting Prevalence at Village Level in Penajam Paser Utara Regency
dc.typeTesis
dc.subject.keywordprevalensi stuntingid
dc.subject.keywordindeks ketahanan panganid
dc.subject.keywordbalita (24-59 bulan)id
dc.subject.keywordangka harapan hidupid
dc.subject.keywordkemiskinanid
dc.subject.keywordDesaid
dc.subtypeTheses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record