Pengaruh Intervensi Puding dengan Okra Ungu terhadap Kadar Malondialdehida Orang Dewasa dengan Diabetes Melitus Tipe 2
Date
2026Jenis/Type
TesisSubtype
ThesesAuthor
Franciska, Mitha
Damayanthi, Evy
Nasution, Zuraidah
Metadata
Show full item recordAbstract
Diabetes melitus (DM) menjadi masalah kesehatan utama di seluruh dunia, ditandai dengan hiperglikemia karena kurangnya sekresi insulin dan kerja insulin atau keduanya. Prevalensi diabetes melitus (DM) meningkat setiap tahun, termasuk di Indonesia yang menempati peringkat 5 dunia penderita dewasa (20-79 tahun) DM terbanyak yaitu mencapai 11% (589 juta orang) pada tahun 2025. Angka tersebut diproyeksikan akan meningkat menjadi 46% (853 juta orang) pada tahun 2050. Di Indonesia, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan bahwa persentase penderita diabetes naik dari 6,9% pada 2013 menjadi 8,5% pada 2018 (Kemenkes 2018). Hasil dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan bahwa plevalensi diabetes pada penduduk usia =15 tahun berdasarkan pemeriksaan gula darah mencapai 11,7% (Kemenkes 2023). Diabetes Melitus Tipe 2 menjadi kasus diabetes yang paling banyak terjadi dengan persentase melebihi 90% dan lebih sering didiagnosis pada orang dewasa (IDF 2025).
Diabetes Melitus Tipe-2 (DMT2) adalah bentuk diabetes yang paling umum dan ditandai oleh resistensi insulin serta gangguan metabolisme lemak, protein, dan karbohidrat. DMT2 juga ditandai oleh resistensi insulin perifer yang menyebabkan penurunan sensitivitas jaringan terhadap insulin. Kondisi tersebut dapat menyebabkan glukosa cenderung tetap berada dalam aliran darah, yang menyebabkan peningkatan sekresi insulin untuk mempertahankan kestabilan kadar glukosa darah (Halim dan Halim 2019). Resistensi insulin yang berlangsung secara kronis dapat menyebabkan disfungsi sel ß pankreas dan menurunkan kemampuan pankreas dalam memproduksi insulin. Penurunan fungsi sel ß pankreas tersebut berkontribusi terhadap terjadinya hiperglikemia yang semakin memburuk, yang selanjutnya dapat mempercepat kerusakan DNA akibat stres oksidatif pada pankreas (Galicia-Garcia et al. 2020).
Stres oksidatif terjadi ketika radikal bebas dalam tubuh melebihi kemampuan tubuh untuk menetralkan dan menghilangkannya. Peningkatan radikal bebas akan mengoksidasi berbagai makromolekul seperti protein, lipid, dan asam nukleat. Oksidasi lipid menghasilkan hidroperoksida yang kemudian mengalami fragmentasi untuk menghasilkan intermediet karbonil yang reaktif, salah satunya yaitu malondialdehid (MDA) yang merupakan salah satu biomarker yang paling sering digunakan sebagai penanda stres oksidatif. Penanda stres oksidatif berhubungan langsung dengan persen lemak tubuh, sejalan dengan ketahanan antioksidan yang menurun pada individu dengan persen lemak tubuh yang tinggi.
Pada kondisi meningkatnya stres oksidatif, dibutuhkan antioksidan eksogen yang dapat diperoleh dari asupan makan untuk mempertahankan fungsi seluler. Komponen bioaktif dari asupan seperti flavonoid dapat melindungi tubuh dari stres oksidatif. Okra ungu merupakan salah satu sayuran yang kaya dengan komponen bioaktif. Sebagian besar aktivitas antioksidan okra ungu (70%) berasal dari kuersetin yang merupakan flavonoid utama dengan kandungan yang lebih tinggi pada okra ungu dibandingkan dengan kandungannya dalam okra hijau. Komponen bioaktif pada okra ungu dapat dimanfaatkan dalam bentuk pangan fungsional, salah satunya yaitu puding. Hal ini karena puding merupakan hidangan penutup dengan tekstur lembut dan rasa manis yang membuatnya disukai oleh hampir semua kalangan usia. Keterbatasan bukti klinis yang tersedia mendasari penelitian mengenai pengaruh pemberian puding okra ungu terhadap kadar malondialdehid pada orang dewasa dengan diabetes melitus tipe 2. Potensi perbaikan kondisi stres oksidatif melalui konsumsi produk tersebut diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan status kesehatan dan penurunan faktor risiko penyakit degeneratif, khususnya diabetes melitus tipe 2.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian randomized double-blind controlled trials (RCTs) serta pendekatan pretest–posttest with control group. Subjek dibagi secara randomized control trial menjadi kelompok intervensi puding okra ungu dan kelompok kontrol. Subjek penelitian merupakan orang dewasa dengan diabetes melitus tipe 2 yang berjumlah 26 dan dibagi secara purposive menjadi dua kelompok, yaitu kelompok perlakuan yang mendapatkan intervensi puding okra ungu sebanyak 3 cup (±120 g) per hari dan kelompok kontrol. Intervensi puding okra dilaksanakan di wilayah Puskesmas Tanah Sareal dan Puskesmas Semplak Kota Bogor selama 6 minggu. Kriteria inklusi penelitian ini adalah subjek dewasa yang berusia 20-79 tahun, terdiagnosis diabetes melitus kadar GDP =250 mg/dL-1 , terbiasa mengkonsumsi bentuk sedian puding, tidak memiliki alergi atau intoleransi susu, tidak merokok dan tidak mengonsumsi alkohol, tidak dalam keadaan hamil dan menyusui serta bersedia menandatangani informed consent dan bersedia mengikuti penelitian. Kriteria eksklusi subjek memiliki alergi susu atau intoleransi laktosa, pasien diabetes melitus dengan komplikasi berat (retinopati, gangren, gagal ginjal kronis), pindah atau berada di luar lokasi penelitian dalam waktu yang lama, dan tingkat kepatuhan konsumsi <80% dari total intervensi yang diberikan. Analisis data pada penelitian ini dilakukan secara deskriptif dan inferensial dengan menggunakan taraf signifikansi 0,05.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa puding dengan okra ungu memiliki aktivitas antioksidan sebesar 79,96% inhibisi dengan kapasitas antioksidan mencapai 46,69mg AEAC g?¹ ekstrak, yang setara dengan 140,07 mg vitamin C per 100 g puding. Puding ini juga menunjukkan nilai IC50 sebesar 326,20 ppm, total fenolik sebesar 14,63 mg GAE/g?¹ ekstrak atau setara dengan 43,88 mg GAE/100g?¹ puding, dan total flavonoid sebesar 29,69 mg QE/g?¹ ekstrak atau setara dengan 89,69 mg QE/100g?¹ puding, Karakteristik subjek antar kelompok intervensi dan kelompok kontrol tergolong homogen (p>0,05). Data konsumsi subjek berada pada kategori beragam serta menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antar kelompok (p>0,05). Aktivitas fisik subjek menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antar kelompok (p>0,05). Meskipun tidak terdapat perbedaan signifikan secara statistik pada kadar MDA antar kelompok (p > 0.05), intervensi selama 6 minggu menunjukkan adanya kecenderungan penurunan kadar MDA pada kelompok intervensi yang diberikan puding dengan okra ungu. Hal ini mengindikasikan bahwa puding dengan okra ungu sebagai pangan fungsional yang berpotensi dapat membantu mengurangi stres oksidatif pada subjek dengan diabetes melitus tipe 2. Diabetes mellitus (DM) is a major health problem worldwide, characterized by hyperglycemia due to lack of insulin secretion and insulin action or both The prevalence of diabetes mellitus (DM) increases every year, including in Indonesia which ranks 5th in the world for adults (20-79 years) with the most DM, namely reaching 11% (589 million people) in 2025. This figure is projected to increase to 46% (853 million people) in 2050. In Indonesia, the results of the Basic Health Research (Riskesdas) show that the percentage of diabetes sufferers increased from 6.9% in 2013 to 8.5% in 2018 (Kemenkes 2018). The results of the 2023 Indonesian Health Survey (SKI) show that the prevalence of diabetes in the population aged =15 years based on blood sugar examinations reached 11.7% (Kemenkes 2023). Type 2 Diabetes Mellitus is the most common case of diabetes with a percentage exceeding 90% and is more often diagnosed in adults (IDF 2025).
Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is the most common form of diabetes and is characterized by insulin resistance and disturbances in lipid, protein, and carbohydrate metabolism. T2DM is also characterized by peripheral insulin resistance, which reduces tissue sensitivity to insulin. This condition may cause glucose to remain in the bloodstream, leading to increased insulin secretion to maintain stable blood glucose levels (Halim and Halim 2019). Chronic insulin resistance can result in pancreatic ß-cell dysfunction and reduce the pancreas's ability to produce insulin. The decline in ß-cell function contributes to worsening hyperglycemia, which may subsequently accelerate DNA damage caused by oxidative stress in the pancreas (Galicia-Garcia et al. 2020).
Oxidative stress occurs when free radicals in the body exceed the body's ability to neutralize and eliminate them. Increased free radicals will oxidize various macromolecules such as proteins, lipids, and nucleic acids. Lipid oxidation produces hydroperoxides which then undergo fragmentation to produce reactive carbonyl intermediates, one of which is malondialdehyde (MDA) which is one of the most frequently used biomarkers as a marker of oxidative stress. Oxidative stress markers are directly related to body fat percentage, in line with decreased antioxidant resistance in individuals with high body fat percentage.
In conditions of increased oxidative stress, exogenous antioxidants are needed which can be obtained from food intake to maintain cellular function. Bioactive components from intake such as flavonoids can protect the body from oxidative stress. Purple okra is one of the vegetables rich in bioactive components. Most of the antioxidant activity of purple okra (70%) comes from quercetin which is the main flavonoid with a higher content in purple okra compared to its content in green okra. Bioactive components in purple okra can be utilized in the form of functional foods, one of which is pudding. This is because pudding is a dessert with a soft texture and sweet taste that makes it popular with almost all ages. The limited clinical evidence available underlies the study on the effect of purple okra pudding on malondialdehyde levels in adults with type 2 diabetes mellitus. The potential improvement of oxidative stress conditions through consumption of this product is expected to contribute to improving health status and reducing risk factors for degenerative diseases, especially type 2 diabetes mellitus.
This study used a randomized double-blind controlled trials (RCTs) design and a pretest–posttest approach with a control group. Subjects were randomly assigned to a purple okra pudding intervention group and a control group.The subjects were 26 adults with type 2 diabetes mellitus and were divided purposively into two groups, namely the treatment group that received 3 cups (±120 g) of purple okra pudding per day and the control group. The okra pudding intervention was carried out at the Tanah Sareal and Semplak Public Health Centers in Bogor City. For six weeks. The inclusion criteria consist of individuals aged 19 to 79 years, diagnosed with diabetes mellitus and exhibiting fasting blood glucose levels of =250 mg dL-1, accustomed to consuming pudding preparations, not having allergies or intolerance to milk, not smoking and not consuming alcohol, not pregnant or breastfeeding and willing to sign an informed consent and willing to participate in the study. Exclusion criteria included subjects with milk allergies or lactose intolerance, diabetes mellitus patients with serious consequences (retinopathy, gangrene, chronic kidney failure), relocation or prolonged absence from the research site, and a medication adherence rate below 80% of the total interventions delivered. Data analysis in this study was conducted using descriptive and inferential methods, with a significance set at 0.05.
The research findings indicate that pudding with purple okra has an antioxidant activity of 79.96% inhibition with an antioxidant capacity of 46.69 mg AEAC g?¹ of extract, which is equivalent to 140.07 mg of vitamin C per 100 g of pudding. The pudding also exhibits an IC50 value of 326.20 ppm, a total phenolic content of 14.63 mg GAE/g?¹ extract or equivalent to 43.88 mg GAE/100 g?¹ pudding, and a total flavonoid content of 29.69 mg QE/g?¹ extract or equivalent to 89.69 mg QE/100 g?¹ pudding. The characteristics of subjects in the intervention and control groups were homogeneous (p > 0.05). Subject consumption data were in the diverse category and showed no significant differences between groups (p>0.05). Subject physical activity levels also showed no significant differences between groups (p>0.05). Although there was no statistically significant difference in MDA levels between groups (p > 0.05), the six-week intervention showed a trend toward decreased MDA levels in the group given purple okra pudding. This indicates that purple okra pudding as a functional food has the potential to help reduce oxidative stress in subjects with type 2 diabetes mellitus.

