Show simple item record

dc.contributor.advisorSadono, Dwi
dc.contributor.advisorAmanah, Siti
dc.contributor.authorKHOSIIN
dc.date.accessioned2026-08-07T10:35:20Z
dc.date.available2026-08-07T10:35:20Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177721
dc.description.abstractKeberagaman masyarakat Indonesia yang semakin kompleks menegaskan pentingnya penguatan moderasi beragama. Perbedaan karakteristik masyarakat pedesaan dan perkotaan memengaruhi pola interaksi sosial dan praktik toleransi. Meskipun tingkat toleransi di Provinsi Banten tergolong cukup baik, kondisi tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi yang diharapkan. Berbagai kasus intoleransi masih terjadi, terutama penolakan pembangunan rumah ibadah agama lain yang dipengaruhi oleh faktor regulasi, sejarah, dan kesalahpahaman antarumat beragama. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan dan transformasi perilaku toleransi masih menjadi kebutuhan yang mendesak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif. Data dikumpulkan melalui survei, wawancara mendalam, dan observasi di empat lokasi Program Kampung Moderasi Beragama di Provinsi Banten, yaitu Kelurahan Kota Baru dan Kelurahan Banten di Kota Serang, serta Desa Maja dan Desa Leuwidamar di Kabupaten Lebak. Sebanyak 155 responden dipilih menggunakan teknik proportional stratified random sampling, sedangkan informan dipilih secara purposive. Analisis data dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk menguji pengaruh profil individu, aspek internal, dan dukungan eksternal terhadap perilaku toleransi beragama. Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan karakteristik responden, sedangkan uji validitas dan reliabilitas dilakukan untuk memastikan kualitas instrumen penelitian. Selanjutnya, Importance Performance Map Analysis (IPMA) digunakan untuk merumuskan strategi transformasi perilaku toleransi beragama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil individu responden cukup beragam. Mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki, berusia di atas 50 tahun, dan memiliki tingkat pendidikan terakhir SMA. Di wilayah pedesaan masih dijumpai responden dengan tingkat pendidikan dasar, sedangkan di wilayah perkotaan proporsi responden berpendidikan perguruan tinggi relatif lebih besar. Dari sisi pekerjaan, masyarakat pedesaan didominasi oleh responden yang tidak bekerja dan tidak mencari kerja, yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga, serta beberapa kepala keluarga yang telah memasuki usia lanjut sehingga tidak lagi bekerja. Sementara itu, masyarakat perkotaan didominasi oleh responden yang bekerja di luar rumah. Hasil uji beda menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata pada karakteristik profil individu antara masyarakat pedesaan dan perkotaan, yang mencerminkan adanya perbedaan karakteristik demografis dan sosial ekonomi. Selanjutnya, faktor internal yang meliputi pengetahuan, motivasi, dan sikap masyarakat terhadap toleransi beragama tergolong sangat tinggi. Faktor eksternal yang meliputi keteladanan tokoh agama dan tokoh masyarakat serta dukungan kelompok sosial juga tergolong sangat tinggi, sedangkan dukungan penyuluhan agama tergolong tinggi. Demikian pula pada keyakinan diri dalam menjaga toleransi dan praktik toleransi beragama tergolong tinggi. Meskipun karakteristik profil individu masyarakat pedesaan dan perkotaan berbeda secara nyata, hasil uji beda menunjukkan bahwa seluruh indikator pada faktor internal, faktor eksternal, dan perilaku toleransi tidak berbeda secara nyata antara kedua kelompok masyarakat. Temuan ini menunjukkan bahwa perilaku toleransi beragama beserta faktor-faktor yang memengaruhinya relatif serupa pada masyarakat pedesaan dan perkotaan di Provinsi Banten. Hasil analisis SEM-PLS menunjukkan bahwa profil individu, aspek internal, dan dukungan eksternal berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku toleransi beragama. Aspek internal yang meliputi pengetahuan, motivasi, dan sikap merupakan faktor yang memberikan pengaruh paling kuat, diikuti oleh profil individu dan dukungan eksternal. Temuan ini menunjukkan bahwa perilaku toleransi beragama dipengaruhi oleh karakteristik individu, faktor internal, dan dukungan lingkungan secara simultan. Hasil Importance Performance Map Analysis (IPMA) menunjukkan bahwa motivasi dalam bertoleransi, sikap terhadap toleransi beragama, dan keteladanan tokoh merupakan indikator dengan tingkat kepentingan dan kinerja tertinggi dalam memengaruhi perilaku toleransi beragama. Temuan ini mengindikasikan bahwa penguatan perilaku toleransi perlu diprioritaskan pada ketiga indikator tersebut. Sementara itu, dukungan penyuluhan agama masih perlu diperkuat agar memberikan kontribusi yang lebih optimal dalam mendukung transformasi perilaku toleransi beragama di masyarakat.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcCommunity Developmentid
dc.titlePerilaku Toleransi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan dalam Program Kampung Moderasi Beragama di Provinsi Bantenid
dc.title.alternative
dc.typeTesis
dc.subject.keywordkampung moderasi beragamaid
dc.subject.keywordmasyarakat pedesaanid
dc.subject.keywordmasyarakat perkotaanid
dc.subject.keywordperilaku toleransiid
dc.subtypeTheses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record