Tesis a.n Nur Aziza (C5501211013)
Date
2026Author
Aziza, Nur
Bengen, Dietriech Geoffrey
Prartono, Tri
Rastina
Metadata
Show full item recordAbstract
Teluk Banten menerima tekanan dari aktivitas pelabuhan, industri, perikanan,
tambak, permukiman, dan masukan sungai. Karakter perairannya yang semi
tertutup berpotensi menjadi perangkap material tersuspensi, bahan organik, dan
logam berat. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsentrasi, distribusi spasial,
partisi geokimiawi, dan tingkat kontaminasi Pb dan Zn pada air dan sedimen
permukaan Teluk Banten.
Sampel air dan sedimen diambil pada lima stasiun yang mewakili muara
sungai, tambak, tengah teluk, kawasan industri-pelabuhan, dan mangrove Pulau
Panjang. Pb dan Zn dalam air dianalisis menggunakan ICP-MS, sedangkan partisi
geokimiawi sedimen menggunakan SEP-BCR ke dalam fraksi terlarut
asam/tertukar (F1), tereduksi (F2), teroksidasi (F3), dan residual (F4). Distribusi
spasial dianalisis dengan interpolasi IDW, sedangkan tingkat kontaminasi
dievaluasi menggunakan Enrichment Factor (EF), Indeks Geoakumulasi (Igeo), dan
Faktor Kontaminasi (FK).
Sedimen didominasi lanau 64,39–76,41%, lempung 21,96–27,47%, dan pasir
1,26–9,87%, dengan bahan organik 6,27–12,07%. Dominasi sedimen halus dan
bahan organik menunjukkan kapasitas tinggi dalam mengadsorpsi dan
mengakumulasi logam. Pb dalam air berada di bawah batas deteksi pada seluruh
stasiun, sedangkan Zn berkisar <0,8–6,0 µg/L, keduanya masih di bawah baku mutu
air laut. Pada sedimen, Pb mencapai 4,12–15,20 mg/kg dan Zn 245,64–1.222,71
mg/kg, jauh lebih tinggi daripada di kolom air. Konsentrasi tertinggi ditemukan di
Stasiun 5, kawasan mangrove Pulau Panjang, yang berperan sebagai zona deposisi
sedimen halus dan bahan organik.
Hasil SEP-BCR menunjukkan Pb dan Zn terdistribusi pada fraksi non
residual (F1–F3) dan residual (F4), dengan proporsi fraksi labil Zn lebih besar
dibandingkan Pb. Perhitungan EF secara kondisional menunjukkan tidak ada
pengayaan Pb pada seluruh stasiun. Untuk Zn S1dan S2 tidak menunjukkan
pengayaan, S3–S4 menunjukkan pengayaan kecil, dan S5 menunjukkan pengayaan
cukup berat. Igeo Pb pada seluruh stasiun berada pada kategori tidak tercemar. Igeo
Zn menunjukkan kategori tercemar sedang pada S1dan S3, tercemar sedang–kuat
pada S4, dan tercemar kuat pada S5. FK Pb menunjukkan kontaminasi rendah pada
S1dan S4 dan sedang pada S5, sedangkan FK Zn menunjukkan kontaminasi cukup
besar pada S1–S3 dan sangat tinggi pada S4 dan S5.
Hasil penelitian menegaskan bahwa sedimen merupakan media akumulasi
utama Pb dan Zn di Teluk Banten. Evaluasi pencemaran logam berat perlu
memadukan konsentrasi total, partisi geokimiawi, dan indeks kontaminasi untuk
memahami stabilitas, mobilitas, bioavailabilitas, serta potensi risiko ekologisnya. Banten Bay receives pressures from port activities, industry, fisheries,
aquaculture ponds, settlements, and riverine inputs. Its semi-enclosed
characteristics potentially make the bay a trap for suspended materials, organic
matter, and heavy metals. This study aimed to analyze the concentrations, spatial
distribution, geochemical partitioning, and contamination levels of Pb and Zn in
water and surface sediments of Banten Bay.
Water and sediment samples were collected from five stations representing
river mouths, aquaculture ponds, the central bay, industrial-port areas, and the
mangrove area of Panjang Island. Pb and Zn in water were analyzed using ICP-MS,
while geochemical partitioning in sediments was determined using SEP-BCR into
acid-soluble/exchangeable (F1), reducible (F2), oxidizable (F3), and residual (F4)
fractions. Spatial distribution was analyzed using IDW interpolation, while
contamination levels were evaluated using the Enrichment Factor (EF),
Geoaccumulation Index (Igeo), and Contamination Factor (CF).
The sediments were dominated by silt (64.39–76.41%), clay (21.96–27.47%),
and sand (1.26–9.87%), with organic matter contents of 6.27–12.07%. The
dominance of fine sediments and organic matter indicates a high capacity to adsorb
and accumulate metals. Pb concentrations in water were below the detection limit
at all stations, while Zn ranged from <0.8–6.0 µg/L; both remained below seawater
quality standards. In sediments, Pb concentrations reached 4.12–15.20 mg/kg and
Zn concentrations ranged from 245.64–1,222.71 mg/kg, considerably higher than
those in the water column. The highest concentrations were found at Station 5, in
the mangrove area of Panjang Island, which acts as a depositional zone for fine
sediments and organic matter.
SEP-BCR results showed that Pb and Zn were distributed among non-residual
(F1–F3) and residual (F4) fractions, with a greater proportion of labile Zn fractions
than Pb. Conditional EF calculations showed no Pb enrichment at all stations. For
Zn, S1 and S2 showed no enrichment, S3–S4 showed minor enrichment, and S5
showed moderately severe enrichment. The Igeo values for Pb at all stations were
categorized as uncontaminated. The Igeo values for Zn indicated moderately
contaminated conditions at S1 and S3, moderately to strongly contaminated at S4,
and strongly contaminated at S5. The CF values for Pb indicated low contamination
at S1–S4 and moderate contamination at S5, whereas Zn showed considerable
contamination at S1 and S3 and very high contamination at S4 and S5.
The results confirm that sediments are the primary accumulation medium for
Pb and Zn in Banten Bay. Heavy metal pollution assessment should integrate total
concentrations, geochemical partitioning, and contamination indices to understand
their stability, mobility, bioavailability, and potential ecological risks.
Collections
- MF - Fisheries [3313]

