Analisa Kelayakan Usaha Peternakan Sapi Potong di Catra Farm Kota Tangerang Banten
Abstract
Usaha peternakan sapi potong memiliki prospek strategis dalam memenuhi kebutuhan protein hewani dan mendukung ketahanan pangan, sehingga diperlukan analisis kelayakan yang mencakup aspek operasional, manajerial, dan finansial. Kegiatan analisis yang dilaksanakan pada bulan Januari hingga Mei 2026 di Catra Farm, Kota Tangerang, banten. Metode deskriptif kuantitatif. Hasil menunjukkan bahwa Catra Farm menerapkan sistem pemeliharaan intensif dengan kandang semi terbuka seluas 420 m² dengan kapasitas 16 ekor dan luas sekitar 8 m²/ekor. Komposisi ransum terdiri atas 60% konsentrat, 34,29% jerami fermentasi, dan 5,71% hijauan segar dengan kebutuhan BK 2,7% bobot dan terjadi satu kasus kematian akibat penyakit Septicaemia Epizootica (SE) pada bulan Februari yang dipicu oleh kelembapan, serta sanitasi kurang optimal. Secara finansial, usaha ini belum efisien dengan total penerimaan Rp. 879.575.902, pendapatan bersih Rp -60.539.448 dengan nilai rasio R/C 0,94, ROI -29%, dan Payback Period tidak dapat dicapai karena arus kas bersih tidak bernilai positif. The beef cattle farming enterprise has strategic prospects in meeting animal protein demand and supporting food security therefore, a feasibility analysis is required, covering operational, managerial, and financial aspects. This study was conducted from January to May 2026 at Catra Farm, Tangerang City, Banten, using a descriptive quantitative method. The results indicated that Catra Farm implemented an intensive rearing system with a semi open barn covering 420 m² and a capacity of 16 head, providing approximately 8 m² per animal. The ration composition consisted of 60% concentrate, 34.29% fermented rice straw, and 5.71% fresh forage with dry matter intake meeting 2.7% of body weight. however. In addition, one mortality case occurred in February due to Septicaemia Epizootica (SE), which was triggered by humidity, and sub optimal sanitation. From a financial perspective, the enterprise was considered infeasible with total revenue of IDR 879.575.902, net income of IDR -60,539,448, an R/C ratio of 0,94, an annual ROI of -29%, and the payback period cannot be determined because the net cash flow is not positive.

