Show simple item record

dc.contributor.advisorKurniawati, Vita Rumanti
dc.contributor.advisorNovita, Yopi
dc.contributor.authorLarasati, Kyssha Alya
dc.date.accessioned2026-08-07T01:22:40Z
dc.date.available2026-08-07T01:22:40Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177518
dc.description.abstractIndonesia mengalami peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 38,78% pada tahun 2013 hingga 2020. Peningkatan emisi GRK berdampak signifikan terhadap pemanasan global yang memicu perubahan iklim. Aktivitas yang berkontribusi terhadap tingginya emisi GRK salah satunya adalah kegiatan penangkapan ikan. Perikanan tangkap berkontribusi secara signifikan terhadap perekonomian nasional, dengan pendapatan mencapai 2,66% pada tahun 2023, serta menjadi produsen tuna terbesar di dunia dengan produksi 1,5 juta ton atau setara dengan 19,1% pasokan global. Tingginya permintaan tuna mendorong peningkatan penangkapan melalui penambahan jumlah trip maupun unit kapal yang berdampak pada emisi GRK. Meskipun subsektor tuna memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian, aspek keberlanjutan lingkungan tetap menjadi tantangan utama. Upaya pengendalian emisi GRK membutuhkan informasi yang akurat terkait data kuantitatif serta identifikasi hotspot, yaitu titik kritis yang paling berkontribusi terhadap dampak lingkungan. Namun, hingga saat ini analisis hotspot dalam aktivitas penangkapan ikan tuna belum teridentifikasi secara jelas. Penelitian ini bertujuan menghitung emisi GRK yang dihasilkan dari proses penangkapan ikan tuna dan mengidentifikasi hotspot untuk potential improvement proses penangkapan ikan tuna. Metode yang digunakan adalah Life Cycle Assessment (LCA) dengan pendekatan Cradle to gate sesuai standar ISO 14040:2006. Pengumpulan data meliputi verifikasi data sebelumnya, observasi langsung, dan perhitungan emisi yang mengacu pada panduan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Hasil menunjukkan bahwa pada analisis Life Cycle Inventory (LCI) untuk satu unit kapal membutuhkan bahan bakar solar 1.091 kg/tahun. Sementara itu, Life Cycle Impact Assessment (LCIA) menunjukkan bahwa bahan bakar solar teridentifikasi sebagai sumber dampak utama, dengan total beban emisi mencapai 157.497 CO2eq per kapal per tahun. Konsumsi bahan bakar solar selama aktivitas penangkapan ikan tuna teridentifikasi sebagai hotspot utama yang secara signifikan meningkatkan nilai Global Warming Potential (GWP). Tingginya emisi CO2 sebagai polutan primer dipicu oleh karakteristik kapal longline yang beroperasi di WPPNRI 573 dengan jarak tempuh jauh dari fishing base, durasi trip yang panjang, serta kebutuhan mesin utama yang bekerja terus-menerus selama proses setting dan hauling alat tangkap. Sebagai langkah mitigasi, potential improvement harus diprioritaskan pada efisiensi operasional melalui penyempurnaan lambung kapal dan penentuan jalur pelayaran yang efisien, minimisasi kebocoran sistem pendingin dengan beralih ke teknologi yang lebih ramah lingkungan, serta mengkaji ulang kebijakan yang telah ditetapkan.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleTesis a.n Kyssha Alya Larasati (C4503242031)id
dc.title.alternativeEmisi Gas Rumah Kaca pada Proses Penangkapan Ikan Tuna di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap
dc.typeTesis
dc.subject.keywordEmisi gas rumah kacaid
dc.subject.keywordhotspotid
dc.subject.keywordIkan Tunaid
dc.subject.keywordlife cycle assessmentid
dc.subject.keywordlonglineid
dc.subtypeTheses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record