| dc.contributor.advisor | Rilus | |
| dc.contributor.advisor | Muljono, Pudji | |
| dc.contributor.author | Saputra, Ipan | |
| dc.date.accessioned | 2026-08-07T01:12:14Z | |
| dc.date.available | 2026-08-07T01:12:14Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177508 | |
| dc.description.abstract | Perempuan kepala keluarga (Pekka) merupakan kelompok sosial yang
menghadapi tanggung jawab ganda sebagai pencari nafkah utama sekaligus
pengelola rumah tangga. Kondisi ini menjadikan mereka rentan terhadap persoalan
sosial ekonomi seperti rendahnya pendapatan dan keterbatasan akses terhadap
sumber daya. Fenomena tersebut tampak nyata di wilayah pedesaan, termasuk di
Kecamatan Tunjung Teja, Kabupaten Serang, sebagai salah satu kecamatan yang
memiliki jumlah Perempuan Rawan Sosial Ekonomi (PRSE) tertinggi di Kabupaten
Serang. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada tingginya jumlah Pekka serta
adanya program pemberdayaan yang ditujukan kepada Pekka. Namun, efektivitas
program tersebut terhadap peningkatan kesejahteraan Pekka belum diketahui secara
pasti, sehingga perlu dikaji secara lebih mendalam melalui pendekatan ilmiah yang
komprehensif.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis program pemberdayaan yang
ditujukan kepada perempuan kepala keluarga di Kecamatan Tunjung Teja,
menganalisis strategi nafkah yang dijalankan oleh perempuan kepala keluarga di
Kecamatan Tunjung Teja, serta menganalisis tingkat kesejahteraan dan faktor
faktor yang memengaruhi kesejahteraan perempuan kepala keluarga di Kecamatan
Tunjung Teja. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan case study-mixed
methods research (CS-MMR) dengan desain exploratory sequential, yang diawali
dengan pendekatan studi kasus kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi,
dan dokumentasi untuk memahami strategi nafkah Pekka, kemudian dilanjutkan
dengan pendekatan kuantitatif melalui survei kepada responden Pekka guna
mengukur tingkat kesejahteraan individu Pekka dan faktor-faktor yang
memengaruhi kesejahteraan Pekka. Unit analisis penelitian ini adalah individu yaitu
perempuan kepala keluarga.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa program pemberdayaan yang
ditujukan kepada Pekka di Kecamatan Tunjung Teja terdapat optimalisasi aset
manusia, sosial, alam, finansial dan fisik. Pemanfaatan aset manusia yaitu adanya
keterampilan yang sudah dimiliki oleh Pekka di Kampung Parumasan berupa
keterampilan pengolahan singkong. Keterampilan tersebut yang menjadikan dasar
bagi YM Banten untuk dapat mengoptimalkan potensi Pekka. Aset sosial berupa
relasi yang sudah terbangun dengan konsumen secara langsung (offline) baik antar
satu kampung maupun luar kampung menjadi aset sosial yang penting dalam
mempertahankan jalannya usaha. Optimalisasi aset alam pada program BISA
tercermin pada keberadaan bahan baku berupa singkong yang didapat di sekitar
Kampung Parumasan, baik yang didapat melalui kebun sendiri ataupun dari penjual
singkong menjadi faktor pendukung untuk keberlangsungan usaha. Pada aspek aset
finansial, program BISA yang didukung oleh Yatim Mandiri Banten melalui
optimalisasi dana sosial sebagai modal awal pemberdayaan, digunakan untuk
membantu menjalankan operasional program BISA. Sementara aset fisik yang
dioptimalkan yaitu alat produksi sederhana, seperti anyaman bambu untuk
menjemur singkong, alat serut singkong, piring plastik, dandang dan nampah.
Selain itu, strategi nafkah yang dijalankan Pekka di Kecamatan Tunjung
Teja adalah strategi nafkah ganda melalui kombinasi lebih dari satu sumber nafkah
dilakukan untuk meminimalkan modal finansial dan modal manusia. Mengatur
modal finansial dengan menjalankan usaha warung kecil melalui menjual jajanan
serta minuman dalam memenuhi kebutuhan konsumen lokal (sekampung),
konsumen lokal yang sudah dikenal baik adalah modal sosial dalam mendukung
usaha Pekka, walaupun kadang sesekali ada pembeli dari luar kampung yang
melintas. Kemudian ada pula yang mengoptimalkan aset alam melalui produksi
makanan ringan seperti enye dan rangining berbahan dasar singkong sebagai
strategi
nafkah agar dapat mempertahankan keberlangsungan ekonomi
keluarganya.
Tingkat kesejahteraan subjektif dan objektif Pekka di Kecamatan Tunjung
Teja termasuk dalam kategori sedang. Total kesejahteraan subjektif lebih tinggi
dibandingkan kesejahteraan objektif memperlihatkan Pekka walaupun aset,
pendapatan, kondisi ekonomi masih mengalami keterbatasan, tetapi Pekka sudah
merasa puas, bersyukur dan sudah menjalankan peran ekonomi dan sosial untuk
keluarganya dengan baik. Faktor-faktor yang secara signifikan memengaruhi
kesejahteraan Pekka bervariasi. Tingkat pendidikan merupakan faktor kunci yang
memengaruhi kesejahteraan subjektif Pekka, sedangkan usia dan lama menjadi
seorang Pekka merupakan faktor signifikan dalam menentukan kesejahteraan
objektif Pekka. | |
| dc.description.abstract | Female heads of households (Pekka) are a social group that faces the dual
responsibility of being the main breadwinner and managing the household. This
situation makes them vulnerable to socio-economic problems such as low income
and limited access to resources. This phenomenon is evident in rural areas,
including in Tunjung Teja District, Serang Regency, which has one of the highest
numbers of socially and economically vulnerable women (PRSE) in Serang
Regency. The research location was chosen based on the high number of Pekka and
the existence of empowerment programs aimed at Pekka. However, the
effectiveness of this program in improving the welfare of Pekka is not yet known
with certainty, so it needs to be studied in greater depth through a comprehensive
scientific approach.
This study aims to analyze empowerment programs aimed at female heads
of households in Tunjung Teja District, analyze the livelihood strategies
implemented by female heads of households in Tunjung Teja District, and analyze
the level of welfare and factors that influence the welfare of female heads of
households in Tunjung Teja District. In this study, the researcher employed a case
study-mixed methods research (CS-MMR) approach with an exploratory sequential
design, beginning with a qualitative case study approach through in-depth
interviews, observations, and documentation to understand Pekka’s livelihood
strategies, followed by a quantitative approach using a survey of Pekka respondents
to measure Pekka’s individual well-being and the factors influencing it. The unit of
analysis in this study is the individual.
The research findings show that the empowerment program targeting Pekka
in Tunjung Teja District has optimized human, social, natural, financial, and
physical assets. The utilization of human assets refers to the skills already possessed
by Pekka in Parumasan Village, specifically cassava processing skills. These skills
served as the foundation for YM Banten to optimize Pekka’s potential. Social
capital in the form of relationships that have been established directly (offline) with
consumers both within the same village and outside the village is an important
social asset in sustaining business operations. The optimization of natural assets in
the BISA program is reflected in the availability of cassava as a raw material
sourced from the vicinity of Parumasan Village whether from residents’ own
gardens or from cassava vendors which serves as a key factor supporting the
sustainability of the business. In terms of financial assets, the BISA program
supported by Yatim Mandiri Banten through the optimization of social funds as
initial capital for empowerment is used to help fund the program’s operations.
Meanwhile, the physical assets that have been optimized include simple production
tools, such as bamboo mats for drying cassava, cassava graters, plastic plates,
steaming baskets, and trays.
In addition, the livelihood strategy implemented by Pekka in Tunjung Teja
Subdistrict is a dual-income strategy that combines multiple sources of income to
minimize financial and human capital requirements. He manages his financial
capital by running a small shop selling snacks and beverages to meet the needs of
local consumers (in the village); these well-known local customers serve as social
capital that supports Pekka’s business, although occasionally there are buyers from
outside the village who happen to pass by. Additionally, he optimizes natural
resources by producing snacks such as enye and rangining made from cassava as a
livelihood strategy to ensure the economic sustainability of his family. Pekka’s
levels of subjective and objective well-being in Tunjung Teja Subdistrict fall into
the moderate category. The fact that his total subjective well-being is higher than
his objective well-being indicates that, although Pekka’s assets, income, and
economic conditions remain limited, he feels satisfied, is grateful, and has
effectively fulfilled his economic and social roles for his family. The factors that
significantly influence Pekka’s well-being vary. Educational level is a key factor
influencing Pekka’s subjective well-being, while age and the length of time Pekka
has held this role are significant factors in determining Pekka’s objective well
being. | |
| dc.description.sponsorship | Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Kementerian Agama | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Pemberdayaan, Strategi Nafkah, dan Kesejahteraan Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) di Kecamatan Tunjung Teja | id |
| dc.title.alternative | | |
| dc.type | Tesis | |
| dc.subject.keyword | Pekka | id |
| dc.subject.keyword | pemberdayaan | id |
| dc.subject.keyword | strategi nafkah | id |
| dc.subject.keyword | kesejahteraan | id |
| dc.subject.keyword | Kecamatan Tunjung Teja | id |
| dc.subtype | Theses | |