| dc.description.abstract | Ekosistem terumbu karang di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, mengalami tekanan
yang cukup signifikan akibat aktivitas wisata dan perikanan, dengan tutupan karang hidup yang
berkisar pada kategori sedang hingga rusak. Mikrofragmentasi merupakan teknik restorasi
karang aseksual yang memungkinkan pertumbuhan lebih cepat dibandingkan fragmentasi
konvensional dengan cara menempatkan potongan karang berukuran kecil (~1–3 cm) secara
berdekatan pada substrat buatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur pertumbuhan
vertikal, menganalisis tingkat kelangsungan hidup, menganalisis pertumbuhan cabang, serta
menilai efektivitas metode transplantasi mikrofragmen karang berdasarkan perbedaan susunan
kerangka nursery (rak horizontal dan vertikal) dan bagian fragmen (pucuk dan non pucuk) di
Pulau Pramuka pada periode Agustus–Desember 2024, karang yang dipakai adalah merupakan
jenis Acropora millepora. Penelitian menggunakan desain eksperimental dengan empat
kombinasi perlakuan: rak horizontal–pucuk, rak horizontal–non pucuk, rak vertikal–pucuk, dan
rak vertikal–non pucuk, dengan total 747 sampel yang dihitung. Data pertumbuhan tinggi dan
kemunculan cabang dikumpulkan setiap 30 hari selama lima bulan (M1–M5). Analisis statistik
meliputi uji Two-Way ANOVA dan Tukey HSD untuk pertumbuhan tinggi dan cabang, serta
Response Ratio untuk mengukur efek perlakuan. Terdapat divergensi pada rak vertikal yang
sangat mencolok antara kedua bagian fragmen menjelang akhir periode pengamatan. Fragmen
pucuk vertikal yang sebelumnya mencatat laju stabil di M2–M4 (0,036 ± 0,062 – 0,054 ± 0,066
cm/bulan) mengalami penurunan tajam di M5 menjadi hanya 0,0067 ± 0,085 cm/bulan.
Survival rate rak vertikal lebih stabil pada M1–M4, namun mengalami penurunan tajam di M5,
sedangkan rak horizontal mengalami penurunan lebih awal sejak M3. Penyebab kematian
utama pada kedua rak adalah hilangnya fragmen secara fisik dari substrat (missing fragment),
bukan faktor biologis. Laju kemunculan cabang paling tinggi terjadi pada kombinasi rak
vertikal–non pucuk (F = 74,38; p < 0,001), yang dijelaskan melalui mekanisme Apical
Dominance. Parameter lingkungan terbukti tidak berpengaruh signifikan terhadap seluruh
variabel pertumbuhan. | |