| dc.description.abstract | Pertanian di Indonesia menghadapi tantangan kompleks, termasuk
perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, degradasi lahan, krisis air, rendahnya
produktivitas, serta keterbatasan modal, fluktuasi harga, dan rendahnya
keterampilan petani. Faktor lain seperti alih fungsi lahan, usia petani yang tua,
rendahnya minat generasi muda, kesenjangan distribusi keuntungan, serta tekanan
global juga menghambat keberlanjutan usahatani. Namun, adopsi Smart farming
masih rendah dan dukungan kelembagaan yang belum optimal karena infrastruktur
terbatas, biaya tinggi, literasi teknologi rendah, dan dukungan kelembagaan belum
optimal. Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis jenis-jenis teknologi Smart
farming beserta fungsi dan keunggulannya dalam mendukung proses budidaya,
seperti pemantauan lahan dan tanaman secara real-time, pengelolaan irigasi dan
pemupukan secara presisi; (2) menganalisis tingkat adopsi teknologi Smart farming
4.0 dalam mendukung keberlanjutan usahatani; (3) menganalisis faktor-faktor yang
memengaruhi adopsi teknologi Smart farming 4.0 oleh petani dalam mendukung
keberlanjutan usahatani; (4) menganalisis pengaruh tingkat adopsi teknologi Smart
farming 4.0 dalam mendukung keberlanjutan usahatani; (5) menganalisis
keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan dapat diwujudkan dan perbedaan
dampak teknologi Smart farming terhadap keberlanjutan ekonomi, sosial, dan
lingkungan; (6) merumuskan strategi adopsi Smart farming 4.0 yang efektif
diterapkan petani untuk mendukung keberlanjutan usahatani yang lebih baik.
Penelitian ini didesain sebagai penelitian kuantitatif yang didukung oleh data
kualitatif. Penelitian kuantitatif dilakukan melalui metode survei. Teknik
pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan studi
dokumentasi. Jumlah sampel ditentukan dengan metode sensus. Seluruh populasi
dijadikan sampel dengan jumlah 135 petani di Jawa barat yang masih menggunakan
teknologi Smart farming pada saat penelitian dilakukan. Analisis data
menggunakan uji statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial menggunakan
software SMARTPLS 3.0, uji MANOVA dan Post Hoc Tukey HSD.
Habibi Garden memudahkan otomatisasi irigasi, pencahayaan, dan nutrisi
tanaman, sementara IoT memungkinkan pemantauan lahan dan tanaman secara
real-time. Haiwell mengintegrasikan perangkat IoT dengan sistem kontrol cerdas
untuk pengelolaan irigasi, pemupukan, dan lingkungan tanaman. NSC Pro dan Ritx
Soil and Weather Sensor menyediakan data presisi tentang kondisi tanah, nutrisi,
dan cuaca, mendukung pengambilan keputusan yang akurat. Netafim sebagai sistem
irigasi tetes memastikan distribusi air dan nutrisi yang efisien. Kombinasi
teknologi-teknologi ini memungkinkan pemantauan lahan dan tanaman secara real
time, pengelolaan irigasi dan pemupukan presisi, serta pengendalian lingkungan
tanaman, sehingga risiko gagal panen dapat diminimalkan dan produktivitas
meningkat. Tingkat adopsi teknologi Smart farming berada pada kategori sedang
dengan kecepatan adopsi tinggi, menandakan bahwa petani mampu menerima
teknologi relatif cepat meskipun penerapannya belum optimal di seluruh kegiatan
usahatani. Adopsi ini didominasi oleh petani berusia 41-50 tahun, berpendidikan
SMA, memiliki pengalaman usahatani 1–5 tahun, luas lahan <1000 m², serta
didukung oleh pendidikan nonformal, tingkat kosmopolitan, dan motivasi tinggi.
Adopsi teknologi Smart farming dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah
satunya adalah karakteristik petani. Faktor ini meliputi usia, pendidikan,
pengalaman bertani, keterbukaan terhadap perubahan, dan kemampuan finansial.
Petani yang lebih terdidik atau memiliki pengalaman luas biasanya lebih cepat
memahami manfaat dan cara penggunaan teknologi baru. Selain itu, persepsi
terhadap inovasi juga memengaruhi adopsi. Semakin positif pandangan petani
terhadap keuntungan, kemudahan penggunaan, dan pengurangan risiko dari
teknologi, semakin tinggi kemungkinan mereka untuk mengadopsinya. Faktor
lainnya berasal dari dukungan lingkungan eksternal dan intensitas belajar petani.
Lingkungan yang mendukung, seperti bantuan pemerintah, penyuluh pertanian,
kelompok tani, akses pasar, dan infrastruktur teknologi, mempermudah petani
untuk mencoba dan menerapkan Smart farming. Sementara itu, intensitas belajar,
seberapa aktif petani bereksperimen, mempelajari, dan menyesuaikan teknologi
dalam praktik pertanian —menentukan seberapa efektif dan cepat teknologi
tersebut diadopsi. Dengan kombinasi faktor internal dan eksternal ini, proses adopsi
Smart farming dapat berlangsung lebih optimal. Selain itu, penggunaan teknologi
NSC Pro dan Haiwell IoT terbukti memberikan dampak positif terhadap
keberlanjutan usahatani, karena kedua teknologi tersebut memungkinkan petani
untuk mengelola kegiatan pertanian secara lebih efisien dan tepat sasaran. Dengan
NSC Pro, pemantauan kondisi lingkungan dan tanaman menjadi lebih akurat,
sehingga kebutuhan pupuk, air, dan perlakuan lainnya dapat disesuaikan secara
optimal. Sementara itu, Haiwell IoT mendukung otomatisasi sistem pertanian dan
pengumpulan data secara real-time, sehingga petani dapat membuat keputusan
berbasis data yang meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi pemborosan
sumber daya. Kombinasi kedua teknologi ini tidak hanya meningkatkan hasil panen,
tetapi juga mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan dan
berkelanjutan, sehingga usahatani dapat bertahan dan berkembang dalam jangka
panjang. Strategi adopsi teknologi Smart farming perlu difokuskan pada
peningkatan kualitas dan perluasan penerapan teknologi agar tidak hanya cepat
diadopsi, tetapi juga optimal dalam seluruh aktivitas usahatani. Strategi pertama
adalah memperkuat kapasitas petani melalui pelatihan berkelanjutan dan
peningkatan sikap dan pengetahuan petani sehingga mampu meningkatkan
intensitas belajar dan pemahaman teknologi. Strategi kedua adalah meningkatkan
persepsi positif terhadap inovasi dengan menampilkan demonstrasi lapang, studi
kasus keberhasilan, dan penggunaan langsung teknologi seperti NSC Pro dan
Haiwell IoT untuk menunjukkan manfaat nyata terhadap produktivitas dan
keberlanjutan usahatani. Strategi ketiga adalah memperkuat dukungan lingkungan
eksternal melalui kolaborasi antara pemerintah, penyuluh, lembaga pendidikan, dan
penyedia teknologi dalam bentuk pendampingan, subsidi, akses pembiayaan, serta
penyediaan infrastruktur digital. Strategi keempat adalah mendorong
pengembangan jejaring dan kosmopolitan petani melalui komunitas, kelompok tani
berbasis digital, dan pertukaran informasi antarpelaku, sehingga proses adopsi
menjadi lebih merata dan berkelanjutan. | |