ANALISIS PASAR DAN ELASTISITAS HARGA EKSPOR KAYU MANIS INDONESIA KE NEGARA ANGGOTA BRICS
Abstract
Kayu manis merupakan salah satu komoditas rempah unggulan Indonesia
yang memiliki peran penting dalam perdagangan internasional dan potensi besar
untuk pengembangan pasar ekspor alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk: (1)
menganalisis struktur pasar dan elastisitas harga kayu manis Indonesia di negara
negara anggota BRICS, serta (2) merumuskan strategi diversifikasi ekspor kayu
manis Indonesia ke pasar negara-negara anggota BRICS berdasarkan hasil analisis
struktur pasar dan elastisitas harga. Kajian ini dilatarbelakangi oleh tingginya
ketergantungan ekspor rempah Indonesia terhadap pasar tradisional, khususnya
Amerika Serikat, sehingga diperlukan identifikasi potensi pasar alternatif yang
lebih berkelanjutan.
Penelitian menggunakan data sekunder deret waktu tahunan periode 2012
2024 yang diperoleh dari International Trade Centre (ITC), UN Comtrade,
FAOSTAT, Badan Pusat Statistik, serta sumber pendukung lainnya. Analisis
dilakukan menggunakan pendekatan Concentration Ratio Four-Firm (CR4),
Herfindahl-Hirschman Index (HHI), Almost Ideal Demand System (AIDS), dan
Ansoff Growth Matrix. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasar
negara BRICS memiliki struktur pasar yang sangat terkonsentrasi, terutama China,
Brazil, Iran, Mesir, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, sedangkan Afrika Selatan
menunjukkan tingkat konsentrasi sedang. Hasil estimasi AIDS menunjukkan
bahwa respons permintaan berbeda pada setiap negara tujuan. Pasar China, Brazil,
Afrika Selatan, dan Arab Saudi cenderung sensitif terhadap harga, sedangkan Mesir
relatif tidak sensitif. Hasil analisis Ansoff Growth Matrix menunjukkan bahwa
strategi diversifikasi pasar menjadi pendekatan yang paling relevan untuk
pengembangan ekspor kayu manis Indonesia di negara-negara BRICS. Dinamika
geopolitik global, khususnya meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah
dan potensi gangguan perdagangan di Selat Hormuz, berpotensi meningkatkan
biaya logistik, mengganggu rantai pasok, serta memengaruhi sensitivitas pasar
terhadap harga. Kondisi tersebut mendorong perlunya penguatan ekspor pada pasar
yang relatif lebih stabil dan memiliki risiko geopolitik lebih rendah. Berdasarkan
hasil analisis, China dan Afrika Selatan menjadi pasar yang paling potensial untuk
pengembangan ekspor kayu manis Indonesia karena memiliki prospek permintaan
yang besar, peluang pengembangan pasar jangka panjang, serta tingkat risiko
perdagangan yang relatif lebih rendah. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa
strategi ekspor kayu manis Indonesia perlu diarahkan pada diversifikasi pasar,
penguatan daya saing harga, peningkatan kualitas, dan keberlanjutan pasokan.
Collections
- MF - Economic and Management [3275]

