Show simple item record

dc.contributor.advisorTarigan, Suria Darma
dc.contributor.advisorBarus, Baba
dc.contributor.advisorSudadi, Untung
dc.contributor.authorQalbi, Andria Harfani
dc.date.accessioned2026-08-05T06:39:06Z
dc.date.available2026-08-05T06:39:06Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177254
dc.description.abstractANDRIA HARFANI QALBI. Karakteristik Hidrologi Restorasi Gambut Hutan Tanaman Akasia. Dibimbing oleh SURIA DARMA TARIGAN, BABA BARUS, dan UNTUNG SUDADI. Lahan gambut tropika Indonesia merupakan salah satu ekosistem terpenting di dunia. Ekosistem ini menyimpan cadangan karbon organik dalam jumlah sangat besar, mengatur tata air, serta mendukung kestabilan iklim global. Indonesia memiliki sekitar 13,4 juta hektar lahan gambut yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Namun, tekanan antropogenik berupa konversi lahan untuk Hutan Tanaman Industri (HTI) Akasia, pembangunan kanal drainase, pembakaran lahan, dan pemanenan intensif telah menyebabkan sekitar 6,66 juta hektar lahan gambut mengalami degradasi, terutama pada gambut dalam yang menyimpan cadangan karbon yang jauh lebih besar dibandingkan gambut dangkal sehingga kerusakannya berdampak jauh lebih berat terhadap iklim global. Kebakaran gambut tahun 2015 yang melanda sekitar 869.754 hektar lahan gambut di Indonesia, khususnya di Sumatera Selatan, menjadi titik kritis yang mendorong upaya restorasi gambut secara masif melalui pendekatan rewetting, revegetasi, dan revitalisasi (3R). Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengkaji dinamika kadar air tanah dan muka air tanah pada beberapa kondisi lahan gambut HTI Akasia pada musim hujan dan musim kemarau; (2) mengkaji pengaruh kanal, sekat kanal, elevasi, serta variasi musim terhadap muka air tanah; (3) mengkaji pengaruh restorasi alami jangka pendek (2016–2022) terhadap muka air tanah (4) merumuskan model restorasi yang tepat pada beberapa kondisi lahan gambut HTI Akasia. Penelitian dilaksanakan di kawasan HTI Akasia yang telah dipensiunkan dan ditetapkan sebagai kawasan konservasi di Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan, pada bulan Agustus 2022 hingga September 2023. Penelitian dilakukan pada empat kondisi lahan: (1) lahan bekas terbakar tahun 2015 dengan keparahan sedang-tinggi yang dipensiunkan hingga 2022 (BAR, seluas 297,47 ha); (2) lahan bekas panen Akasia tahun 2016 yang dipensiunkan hingga 2022 (HV, seluas 1.051,77 ha); (3) hutan tanaman Akasia umur 10 tahun yang ditanam tahun 2013 dan dipensiunkan sejak 2016 (UHV, seluas 863,25 ha); serta (4) Hutan gambut alami sebagai kontrol (FRS, seluas 657,37 ha). Parameter yang diukur meliputi kadar air tanah gravimetrik, muka air tanah (MAT), bulk density (BD), soil porosity (SP), water-filled pore space (WFPS), konduktivitas hidraulik jenuh (Ks), tingkat dekomposisi gambut (DR), serta kerapatan vegetasi melalui analisis NDVI berbasis citra satelit PlanetScope tahun 2016, 2019, dan 2022. Pemodelan hidrologi dilakukan menggunakan Visual MODFLOW Flex 10.0 dengan 12 skenario simulasi untuk mengkaji pengaruh posisi kanal, sekat kanal, musim, dan intervensi terhadap MAT gambut. Analisis statistik menggunakan ANOVA satu arah dengan uji lanjut DMRT pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejarah disturbance (gangguan) pada lahan gambut secara nyata mempengaruhi sifat fisik tanah dan kondisi hidrologisnya. Lahan BAR memiliki nilai BD tertinggi (0,20 g/cm³), nilai SP dan WFPS terendah (87,11% dan 61,73%), serta kadar air gravimetrik paling rendah dan posisi MAT paling dalam, terutama pada musim kemarau yang mencapai lebih dari -80 cm. Lahan HV menunjukkan kondisi fisik dan hidrologis yang secara statistik tidak berbeda nyata dengan BAR, mengindikasikan bahwa dampak pemanenan hutan tanaman Akasia terhadap kapasitas hidrologis gambut tidak berbeda nyata dengan dampak kebakaran berkeparahan sedang-tinggi. Sebaliknya, lahan UHV menunjukkan sifat fisik dan hidrologis yang tidak berbeda nyata dengan FRS, dengan nilai BD (0,13 g/cm³), SP (90,93%), WFPS (74,41%), Ks (4,97 m/hari), dan MAT (-20,0 cm) yang mendekati kondisi hutan alami (-19,5 cm). Temuan ini membuktikan bahwa penghentian aktivitas pengelolaan intensif tanpa pemanenan selama enam tahun (2016–2022) mampu memicu pemulihan alami fungsi fisik dan hidrologis gambut secara efektif. Dinamika kadar air tanah dan MAT pada seluruh tipe lahan mengikuti pola musiman curah hujan dan evapotranspirasi. Pada musim hujan (Februari), perbedaan MAT antar kondisi lahan tidak nyata secara statistik. Namun pada musim kemarau (September), perbedaan antar lahan menjadi nyata, dengan BAR menunjukkan penurunan paling signifikan. Analisis NDVI multitemporal membuktikan terjadinya revegetasi alami yang signifikan di seluruh kondisi lahan antara 2016 dan 2022; pada tahun 2019 nilai NDVI seluruh lokasi telah melampaui 0,4 (kategori kerapatan tinggi), dan pada 2022 mendekati kerapatan hutan alami. Kemunculan kantong semar (Nepenthes sp.) pada lahan UHV menjadi indikator ekologis pemulihan kualitas habitat gambut. Hasil pemodelan hidrologi menggunakan Visual MODFLOW Flex 10.0 dengan nilai NSE = 0,838 (kategori sangat baik) menunjukkan bahwa posisi kanal berpengaruh nyata terhadap MAT gambut. Kanal pada elevasi rendah (K2) menghasilkan MAT paling dalam (-113,8 cm), sementara kanal pada elevasi tinggi (K1) menghasilkan MAT -90,4 cm, dan kondisi tanpa kanal pada musim kemarau menghasilkan MAT -69,9 cm. Penempatan sekat kanal pada berbagai posisi elevasi (SK1, SK2, SK3) tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap MAT rata-rata pada kondisi musim kemarau dengan tekanan evapotranspirasi tinggi (ET0 = 4,8 mm/hari). Musim merupakan faktor paling dominan dalam menentukan posisi MAT gambut: kondisi musim hujan tanpa kanal menghasilkan MAT paling dangkal (-9,5 cm), sementara musim kemarau dengan kanal elevasi rendah menghasilkan MAT terdalam. Penambahan curah hujan 3 mm/hari diantara tiga intervensi yang diuji mampu menghasilkan peningkatan MAT terbesar (+52,2 cm), jauh lebih efektif daripada manipulasi muka air kanal secara mekanis (+4,8 dan +8,6 cm), hal ini menegaskan pentingnya revegetasi dan pemulihan kanopi sebagai komponen restorasi yang sinergis. Berdasarkan seluruh temuan tersebut, model restorasi yang direkomendasikan adalah restorasi alami dengan pemensiunan lahan tanpa pemanenan tanaman Akasia, pada lahan bekas terbakar dan bekas panen perlu dilakukan rewetting melalui optimasi sistem sekat kanal dengan meminimalkan kanal pada elevasi rendah, dan revegetasi pada lahan gambut. Penelitian ini memberikan bukti empiris mengenai efektivitas restorasi alami jangka pendek pada gambut tropika bekas HTI Akasia, sekaligus menegaskan bahwa pemanfaatan pemodelan hidrologi merupakan alat penting dalam perencanaan dan evaluasi restorasi gambut yang terukur, efektif, dan berkelanjutan. Kata kunci: Gambut tropika, hidrologi gambut dalam, Akasia, muka air tanah, MODFLOW, restorasi alami.
dc.description.sponsorshipKementrian Pertanian Republik Indonesia
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleKarakteristik Hidrologi Restorasi Gambut Hutan Tanaman Akasiaid
dc.title.alternative
dc.typeDisertasi
dc.subject.keywordgambut tropikaid
dc.subject.keywordhidrologi gambut dalamid
dc.subject.keywordakasiaid
dc.subject.keywordmuka air tanahid
dc.subject.keywordmodflowid
dc.subject.keywordrestorasi alamiid
dc.subtypeDissertations


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record