Status Fungsionalitas Kelompok Masyarakat Desa Nyamuk Sebagai Mitra Pemanfaatan Perikanan di Kawasan Taman Nasional Karimunjawa
Date
2026Author
Tobing, Evita Rachel Rosalind
Sondita, Muhammad Fedi Alfiadi
Darmawan
Metadata
Show full item recordAbstract
Pengelolaan perikanan dengan pendekatan co-management memerlukan
mitra kelembagaan yang berfungsi secara efektif. Pokja Kawasan Pengelolaan
Desa Nyamuk (Pokja KPDN) dibentuk sebagai mitra Taman Nasional
Karimunjawa dalam pengelolaan sumber daya ikan di sekitar Desa Nyamuk,
namun fungsi kelembagaannya melemah setelah pendampingan Rare berakhir.
Penelitian ini bertujuan menilai status fungsionalitas kelembagaan Pokja KPDN
serta menganalisis faktor pendukung dan penghambat yang memengaruhinya.
Data dikumpulkan melalui wawancara terhadap 24 responden dan studi literatur,
kemudian dianalisis menggunakan indikator Input–Process–Output (IPO),
statistik deskriptif, dan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
status fungsionalitas Pokja KPDN berada pada kategori sangat buruk dengan
median skor sebesar 32,9 berdasarkan indeks yang dikembangkan dalam
penelitian ini, didukung oleh 91,66% responden yang memberikan penilaian
serupa. Kondisi ini menunjukkan bahwa Pokja belum memiliki kapasitas
kelembagaan yang memadai untuk menjalankan fungsinya secara konsisten.
Faktor penghambat utama meliputi lemahnya kepemimpinan, rendahnya
partisipasi anggota, lemahnya koordinasi dan komunikasi, keterbatasan anggaran
operasional, serta kemitraan dengan BTNKj yang belum mendorong kemandirian
kelompok. Perbaikan fungsionalitas memerlukan penguatan koordinasi dan
komunikasi, penyediaan anggaran operasional, serta kemitraan dalam pelatihan
dan pendampingan. Fisheries management under a co-management approach requires effective
institutional partners. The Nyamuk Village Management Area Working Group
(Pokja KPDN) was established as a partner of Karimunjawa National Park to
support fisheries resource management around Nyamuk Village. However, its
institutional functions weakened after facilitation by Rare ended. This study
assessed the institutional functional status of Pokja KPDN and analyzed the
factors affecting it. Data were collected through interviews with 24 respondents
and a literature review and analyzed using the Input–Process–Output (IPO) model,
descriptive statistics, and thematic analysis. The results showed that the
institutional functional status of Pokja KPDN was very poor, with a median score
of 32.9 based on the index developed in this study. This finding was supported
by 91.66% of respondents who assigned the group to the same category. The
results indicate that Pokja KPDN lacks sufficient institutional capacity to perform
its functions consistently. Major constraints included weak leadership, low
member participation, poor coordination and communication, limited operational
funding, and the partnership with Karimunjawa National Park that had not
promoted institutional independence. Improving institutional functionality
requires stronger coordination and communication, adequate operational funding,
and partnerships for training and facilitation.

