Pengembangan Teknologi Reklamasi Lahan Bekas Tambang Emas Artisanal di Bantaran Sungai Singingi Provinsi Riau
Abstract
Lahan bekas tambang emas artisanal merupakan lahan terdegradasi dengan kondisi lahan yang tidak homogen. Singingi merupakan salah satu sungai besar di Kabupaten Kuantan Singingi Riau yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk melakukan aktivitas tambang emas artisanal. Penambangan emas di bantaran Sungai Singingi sepanjang 51,25 km yang tidak dikelola dengan baik telah menyebabkan degradasi lahan, baik secara kimia maupun fisik, yang ditandai dengan perubahan lanskap, didominasi fraksi kasar, terbentuknya kolong-kolong galian, serta akumulasi gundukan tailing yang tidak terkendali. Saat ini, sebagian lahan bekas tambang emas di bantaran Sungai Singingi telah kembali dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk budidaya kelapa sawit. Namun, pertumbuhan tanaman pada lahan tersebut umumnya tidak optimal sehingga masyarakat menggunakan pupuk anorganik yang tinggi untuk mempertahankan produktivitas tanaman. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan kembali lahan bekas tambang belum sepenuhnya diikuti oleh pemulihan fungsi tanah sebagai media tumbuh tanaman. Oleh karena itu, penelitian ini mengembangkan strategi reklamasi lahan bekas tambang emas artisanal berbasis tipologi lahan untuk memulihkan fungsi tanah secara spesifik lokasi.
Penelitian ini bertujuan: (1) memetakan tipologi lahan bekas tambang emas artisanal di bantaran Sungai Singingi, (2) menetapkan strategi reklamasi yang sesuai dengan tipologi lahan bekas tambang artisanal, (3) mengevaluasi efektivitas ameliorasi kompos, tanah berklei dan kapur dalam memperbaiki sifat kimia dan fisika tanah sesuai tipologi lahan bekas tambang emas artisanal, dan (4) mengetahui kombinasi amelioran terbaik dan tanaman cover crop legum serta kirinyuh dalam memperbaiki sifat kimia dan fisika tanah bekas tambang emas artisanal.
Penelitian diawali dengan melakukan pemetaan untuk memperoleh tipologi lahan dengan pendekatan analisis spasial menggunakan Geographic Information System (GIS). Pada penelitian tahap I ini, gambaran lokasi penelitian diperoleh melalui pengolahan citra dari Google Earth, peta rupa bumi, dan peta administrasi, lalu dilakukan survei untuk verifikasi pada tujuh desa lokasi penelitian (Desa Sungai Paku, Koto Baru, Petai, Kebun Lado, Muara Lembu, Logas Hilir, dan Logas). Penetapan tipologi diawali dengan membangun kategori pengamatan lapangan berdasarkan faktor pembatas fisik lahan yang membatasi keberhasilan reklamasi. Tiga parameter utama yang merepresentasikan faktor pembatas fisik lahan bekas tambang emas artisanal di bantaran Sungai Singingi, yaitu topografi, distribusi ukuran partikel, serta kedalaman kolong dan tinggi gundukan tailing. Parameter topografi digunakan karena kondisi kemiringan dan bentuk permukaan lahan menentukan tingkat kesulitan penataan lahan, potensi erosi, serta stabilitas permukaan dalam proses reklamasi. Distribusi ukuran partikel menggambarkan kemampuan dalam menahan air dan hara, sehingga menjadi faktor pembatas utama bagi pertumbuhan vegetasi. Sementara itu, kedalaman kolong dan tinggi gundukan tailing digunakan sebagai indikator tingkat gangguan fisik akibat aktivitas penambangan yang mempengaruhi kelayakan dan kebutuhan rekayasa lahan. Pengamatan topografi diukur dengan menggunakan data dari DEMNAS, sedangkan untuk distribusi ukuran partikel, kedalaman, dan tinggi gundukan tailing kawasan bantaran sungai di lapangan dilakukan pada jarak 500 x 500 m dengan total 243 titik. Selanjutnya dilakukan overlay peta topografi, peta distribusi ukuran partikel dan peta kolong/tumpukan tailing untuk pembuatan peta tipologi lahan bekas tambang di bantaran Sungai Singingi.
Berdasarkan tipologi lahan yang diperoleh pada penelitian tahap I dilakukan penentuan lokasi terpilih untuk direklamasi lebih awal, yaitu lahan yang memiliki kriteria datar (<8%), dominasi ukuran butir fine earth (<2 mm), dan kedalaman dan tinggi tumpukan tailing <2 m. Bahan tanah dari tipologi lahan terpilih digunakan untuk penelitian tahap II berupa percobaan pot dengan tanaman uji jagung menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial untuk menguji komposisi amelioran lokal, yaitu kompos tandan kosong kelapa sawit atau TKKS (dosis 6, 12 dan 18 t ha-1), tanah berklei (dosis 10% dan 20%) dan kapur (dosis 0,5 t ha-1 dan 1,0 t ha-1). Amelioran yang digunakan dipilih berdasarkan ketersediaan bahan serta kemampuannya dalam mengatasi faktor pembatas tanah bekas tambang. Kompos TKKS berfungsi sebagai sumber bahan organik dan koloid organik. Tanah berklei berperan sebagai sumber koloid anorganik yang meningkatkan luas permukaan reaktif, Kapasitas tukar kation (KTK), retensi air dan hara, serta menginisiasi pembentukan mikroagregat melalui interaksi mineral liat-bahan organik. Sementara itu, kapur berfungsi meningkatkan pH tanah melalui netralisasi kemasaman dan menyediakan Ca²? yang berperan dalam peningkatan kejenuhan basa serta stabilisasi agregat tanah. Komposisi terbaik amelioran yang diperoleh dari penelitian tahap II digunakan untuk penelitian Tahap III, yaitu mereklamasi lahan prioritas dengan tambahan perlakuan cover crop jenis Mucuna bracteata (MB), Centrosema pubescens (CP) dan Pueraria javanica (PJ). Setiap plot cover crop juga ditanami tanaman adaptif kirinyuh (Chromolaena odorata) dan bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) umur 24 minggu sebagai tanaman uji.
Hasil penelitian tahap I menunjukkan bahwa lahan bekas tambang emas artisanal di bantaran Sungai Singingi memiliki keragaman kondisi fisik yang cukup tinggi. Keragaman tersebut tercermin dari terbentuknya delapan tipologi lahan, yaitu tipologi A, B, C, D, E, F, G, dan H. Klasifikasi ini menunjukkan bahwa lahan bekas tambang tidak dapat diperlakukan sebagai satu kesatuan yang homogen, melainkan perlu dibedakan berdasarkan karakteristik fisik dominan yang memengaruhi tingkat kesulitan dan peluang keberhasilan reklamasi.
Tipologi H merupakan tipologi dengan tingkat kelayakan reklamasi tertinggi. Tipologi ini memiliki kemiringan lahan <8%, distribusi partikel yang didominasi oleh fine earth (<2 mm), serta kedalaman kolong dan tinggi gundukan <2 m. Karakteristik tersebut menunjukkan bahwa tipologi H memiliki kendala fisik yang relatif rendah. Lahan dengan kemiringan datar lebih mudah dikelola, memiliki risiko erosi yang lebih kecil, serta lebih memungkinkan untuk dilakukan penataan lahan sederhana. Dominasi fine earth menunjukkan bahwa permukaan tanah lebih mendukung pertumbuhan tanaman dibandingkan lahan yang didominasi material kasar. Sementara itu, kolong dan gundukan yang kurang dari 2 m menunjukkan bahwa gangguan topografi masih dapat ditangani oleh masyarakat dengan teknologi sederhana dan biaya rendah.
Tipologi H terpusat di Desa Sungai Paku dengan luas 108 ha sekitar 4,3% dari total luasan lahan bekas tambang. Dengan skor tertinggi sebesar 6, tipologi H ditetapkan sebagai prioritas tinggi untuk direklamasi lebih awal secara mandiri oleh masyarakat. Penetapan ini menunjukkan bahwa reklamasi awal sebaiknya pada tipologi yang paling memungkinkan untuk segera dipulihkan, memiliki peluang keberhasilan tinggi, hambatan teknis rendah, dan sesuai dengan kapasitas masyarakat setempat. Pendekatan ini lebih strategis karena keberhasilan awal pada tipologi H dapat menjadi contoh, meningkatkan partisipasi masyarakat, serta menjadi dasar pengembangan reklamasi pada tipologi lain yang memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi. Dengan demikian, hasil penelitian tahap I memberikan dasar penting dalam penyusunan strategi reklamasi pada penelitian tahap II.
Penelitian tahap II difokuskan pada evaluasi efektivitas amelioran lokal dalam memperbaiki kualitas tanah bekas tambang emas artisanal pada tipologi terpilih, yaitu tipologi H. Kondisi awal tanah tipologi H menunjukkan tingkat degradasi yang cukup berat terutama pada aspek fisik, ditandai dengan dominasi fraksi pasir sebesar 95%, sedangkan debu dan klei masing-masing hanya 4% dan 1%. Kondisi ini menyebabkan permeabilitas tanah sangat tinggi, yaitu 98,82 cm jam-1, yang mengindikasikan kemampuan tanah yang sangat rendah dalam menahan air dan hara. Dari aspek kimia, tanah juga tergolong miskin hara dengan pH 6,39, kapasitas tukar kation (KTK) rendah (8,06 cmol(+)kg-1), C-organik sangat rendah (0,96%), nitrogen total rendah (0,07%), serta P-tersedia yang rendah (4,16 ppm). Kombinasi kondisi ini menunjukkan bahwa tanah bekas tambang pada tipologi H memiliki keterbatasan serius, baik dari aspek sifat kimia maupun fisika tanah dalam mendukung pertumbuhan tanaman, sehingga memerlukan intervensi ameliorasi yang tepat dan terintegrasi.
Hasil penelitian tahap II menunjukkan bahwa kombinasi amelioran terbaik adalah A3B1C1 (18 t ha-1 kompos TKKS, 10% tanah berklei, dan 0,5 t ha-1 kapur). Perlakuan ini terbukti efektif memperbaiki sifat kimia tanah secara signifikan, ditunjukkan oleh peningkatan pH dari 6,39 menjadi 7,59 yang mengarah pada kondisi netral, sehingga meningkatkan ketersediaan hara bagi tanaman. Selain itu, peningkatan C-organik dari 0,96% menjadi 1,00% menunjukkan adanya kontribusi bahan organik sehingga agregat tanah lebih stabil, meskipun peningkatannya masih relatif moderat akibat tingginya fraksi pasir pada tanah awal. Peningkatan KTK dari 8,06 cmol(+)kg-1 menjadi 9,29 cmol(+)kg-1 menunjukkan bahwa kombinasi kompos TKKS dan tanah berklei sebagai sumber koloid organik dan anorganik mampu meningkatkan kapasitas tanah dalam menahan kation hara, yang merupakan indikator penting dalam peningkatan kesuburan tanah.
Perbaikan juga terjadi pada sifat fisika tanah, khususnya penurunan permeabilitas dari kondisi awal 98,82 cm jam-1 menjadi 37,60 cm jam-1. Penurunan ini menunjukkan bahwa penambahan tanah berklei dan bahan organik berperan dalam meningkatkan kapasitas tanah dalam menahan air. Secara agronomis, kondisi ini sangat penting karena menurunkan laju kehilangan air dan hara melalui pencucian, sehingga meningkatkan efisiensi pemanfaatan hara oleh tanaman. Perbaikan sifat tanah tersebut berdampak langsung terhadap respons tanaman jagung, yang ditunjukkan oleh pertumbuhan optimal dengan tinggi tanaman mencapai 258,5 cm serta produksi pipilan kering sebesar 131,57 g tanaman-1. Hasil ini mengindikasikan bahwa ameliorasi tidak hanya memperbaiki sifat tanah, tetapi juga secara fungsional mampu meningkatkan produktivitas tanaman.
Peningkatan kualitas tanah pada tahap ini menunjukkan bahwa keberadaan bahan organik dari kompos TKKS, fraksi klei, dan kapur memiliki peran penting dalam membangun kembali sistem kesuburan tanah bekas tambang. Kompos TKKS menyediakan sumber karbon, tanah berklei meningkatkan koloid dan kapasitas tukar kation, sedangkan kapur berperan dalam meningkatkan pH dengan menyumbangkan kalsium. Namun demikian, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa setelah satu siklus budidaya jagung, sebagian besar sifat tanah mengalami penurunan dibandingkan fase inkubasi, terutama C-organik tanah dan KTK. Hal ini karena dipengaruhi oleh dinamika bahan organik dan kehilangan kation basa selama budidaya. Hal ini menunjukkan bahwa keberlanjutan perbaikan tanah sangat diperlukan dalam mereklamasi lahan bekas tambang dengan membangun sumber bahan organik yang lebih banyak yang berasal dari lahan bekas tambang itu sendiri. Dengan demikian, strategi ameliorasi dengan A3B1C1 dapat direkomendasikan sebagai teknologi reklamasi sebagai basis dalam perbaikan tanah di awal reklamasi lahan bekas tambang emas artisanal.
Penelitian tahap III difokuskan pada penguatan keberlanjutan perbaikan tanah tipologi H menggunakan amelioran terpilih A3B1C1 sebagai basis perbaikan tanah dan lahan bekas tambang juga ditanami tanaman yang memungkinkan untuk tumbuh pada tanah terdegradasi sebagai sumber bahan organik, seperti legum dan tumbuhan adaptif lokal. Hasil penelitian tahap III menunjukkan bahwa selama proses reklamasi berlangsung terjadi dinamika hara tanah, khususnya N, P, K, Ca, dan Mg, yang berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan tanaman serta serapan hara dalam jaringan. Secara umum, sistem reklamasi berbasis kombinasi amelioran dan cover crop mampu mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas tanah pada periode pengamatan, sehingga tidak hanya terjadi perbaikan sesaat tetapi juga stabilisasi kesuburan tanah secara bertahap. Di antara seluruh perlakuan, cover crop Mucuna bracteata (MB) menunjukkan kinerja paling unggul dalam menjaga dan meningkatkan kualitas tanah pada akhir pengamatan.
Perlakuan MB mampu mempertahankan kondisi kimia tanah terbaik pada akhir penelitian dengan pH 6,51, C-organik 1,33%, dan KTK 13,54 cmol(+)kg-1, yang menunjukkan bahwa sistem ini efektif dalam menjaga keseimbangan kesuburan tanah jangka panjang. Peningkatan ini juga berdampak pada performa bibit kelapa sawit yang lebih optimal, ditunjukkan oleh selisih pertumbuhan tinggi tanaman sebesar 42,4 cm, diameter batang 41,81 mm, serta jumlah daun mencapai 8 helai dibandingkan perlakuan lainnya. Dari perspektif fisiologis, kondisi tanah yang lebih baik juga berkorelasi dengan peningkatan serapan hara oleh bibit kelapa sawit, dimana hara N, P, K dan Ca terakumulasi tertinggi pada jaringan daun sedangkan Mg terakumulasi pada batang. Temuan ini menunjukkan bahwa MB tidak hanya berperan dalam perbaikan tanah, tetapi juga meningkatkan serapan hara tanaman.
Hasil penelitian tahap III menegaskan bahwa keberhasilan reklamasi lahan bekas tambang emas artisanal tidak hanya bergantung pada ameliorasi awal, tetapi juga pada pengelolaan jangka panjang melalui penggunaan cover crop dan tumbuhan adaptif lokal. Kombinasi amelioran A3B1C1 (18 t ha-1 kompos TKKS, 10% tanah berklei, dan 0,5 t ha-1 kapur) dan cover crop Mucuna bracteata serta kirinyuh, terbukti efektif dalam memperbaiki sifat kimia dan fisika tanah, meningkatkan dinamika hara, serta mendukung pertumbuhan tanaman secara berkelanjutan. Dengan demikian, pendekatan bertahap kesuburan tanah hingga pembangunan sumber biomassa di lahan reklamasi memberikan model strategi reklamasi yang berkelanjutan untuk lahan bekas tambang emas artisanal.
Dari hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan umum bahwa lahan bekas tambang emas artisanal di bantaran Sungai Singingi memiliki heterogenitas kondisi fisik yang tinggi sehingga memerlukan strategi reklamasi berbasis tipologi lahan. Tipologi H sebagai prioritas reklamasi karena memiliki karakteristik paling memungkinkan untuk direklamasi lebih awal oleh masyarakat dengan karakteristik lahan datar, dominasi fine earth, serta kedalaman kolong dan tinggi gundukan tailing <2 m. Strategi reklamasi pada tipologi H dilakukan melalui teknologi ameliorasi menggunakan amelioran lokal yang terdiri atas kompos TKKS, tanah berklei, dan kapur. Kombinasi amelioran A3B1C1 (18 t ha-1 kompos TKKS, 10% tanah berklei, dan 0,5 t ha-1 kapur) yang terbukti efektif memperbaiki sifat kimia dan fisik tanah, sehingga meningkatkan kemampuan tanah dalam mendukung pertumbuhan tanaman. Keberlanjutan perbaikan tanah semakin diperkuat melalui integrasi cover crop legum terutama Mucuna bracteata serta tumbuhan adaptif lokal kirinyuh yang berperan dalam membangun kembali sumber bahan organik in situ, meningkatkan dinamika hara, serta mendukung pertumbuhan dan serapan hara tanaman kelapa sawit, sehingga secara keseluruhan paket teknologi reklamasi ini terbukti efektif, aplikatif, dan berkelanjutan untuk rehabilitasi lahan bekas tambang.
Collections
- DF - Agriculture [796]

