Penerapan Praktik Budidaya yang Baik dan Keberlanjutan Usaha Budidaya Kentang di Kabupaten Garut
Date
2026Jenis/Type
TesisSubtype
ThesesAuthor
Nadjib, Nabila An
Fatchiya, Anna
Sadono, Dwi
Metadata
Show full item recordAbstract
Pengembangan usaha budidaya kentang di dataran tinggi menghadapi tantangan produktivitas yang stagnan serta tekanan lingkungan akibat praktik budidaya konvensional. Kabupaten Garut sebagai sentra utama produksi kentang di Jawa Barat memiliki kontribusi besar terhadap produksi nasional, namun produktivitasnya masih berada pada kisaran 22,5-23,3 ton/ha dan belum mencapai potensi optimal varietas unggul. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah memperkenalkan inovasi Good Agricultural Practices (GAP) budidaya kentang melalui program ICARE. Meskipun inovasi ini terbukti mampu meningkatkan produktivitas hingga 37,4 ton/ha dan memperbaiki kualitas hasil, tingkat penerapannya di kalangan petani masih belum merata.
Tujuan penelitian ini adalah: (1) menganalisis karakteristik petani, tingkat persepsi terhadap ciri inovasi, tingkat pendekatan penyuluhan, tingkat interaksi penyuluh, tingkat dukungan koperasi, dan tingkat dukungan lingkungan dalam usaha budidaya kentang, (2) menganalisis penerapan inovasi GAP budidaya kentang, (3) menganalisis keberlanjutan usaha budidaya kentang, (4) menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi penerapan inovasi GAP budidaya kentang, (5) menganalisis pengaruh penerapan inovasi GAP terhadap keberlanjutan usaha budidaya kentang, serta (6) merumuskan strategi untuk mengembangkan dan meningkatkan adopsi inovasi GAP dan keberlanjutan usaha budidaya kentang di Kabupaten Garut.
Penelitian dilakukan di lima kecamatan sentra produksi kentang di Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, yaitu Kecamatan Cikajang, Cisurupan, Cigedug, Sukaresmi, dan Pasirwangi. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive dengan pertimbangan bahwa kelima kecamatan tersebut merupakan sentra utama produksi kentang sekaligus lokasi implementasi program Integrated Corporation of Agricultural Resources Empowerment (ICARE). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis explanatory research yang diperkuat melalui data kualitatif hasil wawancara mendalam. Populasi penelitian adalah petani kentang di lima kecamatan tersebut dan dipilih sampel sebanyak 125 orang yang ditentukan menggunakan proportionate random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk menguji hubungan antarvariabel penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani kentang di Kabupaten Garut didominasi oleh petani usia muda dengan tingkat pendidikan formal SMA dan motivasi berusahatani yang tinggi, namun pendidikan nonformal, luas lahan, tingkat pendapatan, dan kosmopolitan masih relatif rendah. Persepsi petani terhadap ciri inovasi GAP tergolong positif, pendekatan penyuluhan dinilai baik meskipun intensitas penyuluhan masih rendah, dan dukungan koperasi dan dukungan lingkungan tergolong sedang. Tingkat penerapan inovasi GAP budidaya kentang berada pada kategori sedang, dengan penerapan relatif baik pada komponen pengolahan lahan, pengelolaan tanah, serta panen dan pascapanen, sedangkan penggunaan benih unggul bersertifikat, pemupukan berimbang, dan pengendalian hama penyakit terpadu masih tergolong rendah akibat keterbatasan modal, akses terhadap sarana produksi, serta kebiasaan petani dalam menerapkan praktik budidaya konvensional. Tingkat keberlanjutan usaha budidaya kentang juga berada pada kategori sedang, baik pada aspek ekonomi, sosial, maupun lingkungan, yang menunjukkan bahwa usaha budidaya kentang telah mengarah pada keberlanjutan, namun masih memerlukan peningkatan melalui penerapan inovasi GAP secara lebih konsisten.
Hasil analisis model struktural menunjukkan bahwa karakteristik petani, persepsi terhadap ciri inovasi, pendekatan penyuluhan, dukungan koperasi, dan dukungan lingkungan berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerapan inovasi GAP budidaya kentang, sedangkan interaksi penyuluh berpengaruh tidak signifikan terhadap penerapan inovasi GAP. Temuan ini menunjukkan bahwa keputusan petani dalam menerapkan GAP lebih dipengaruhi oleh kapasitas individu, persepsi terhadap manfaat inovasi, dukungan kelembagaan, dan lingkungan sosial dibandingkan intensitas interaksi dengan penyuluh. Penelitian ini juga membuktikan bahwa penerapan inovasi GAP berpengaruh positif dan signifikan terhadap keberlanjutan usaha budidaya kentang, yang berarti semakin tinggi tingkat penerapan inovasi GAP maka semakin tinggi pula tingkat keberlanjutan usaha budidaya kentang.
Peningkatan penerapan inovasi GAP dan keberlanjutan usaha budidaya kentang dilakukan melalui strategi: (1) meningkatkan persepsi petani terhadap ciri inovasi melalui penguatan demonstrasi plot, role model, dan pembelajaran berbasis praktik; (2) memperkuat karakteristik petani melalui peningkatan akses pembiayaan, pemanfaatan media digital, studi banding, penguatan motivasi, serta pelatihan dan penyuluhan secara rutin; (3) mengoptimalkan pendekatan penyuluhan melalui pengembangan media, metode, materi, dan intensitas penyuluhan yang sesuai dengan kebutuhan petani; (4) memperkuat dukungan koperasi melalui pengembangan PROKSETA, perluasan jaringan pemasaran, penguatan akses sarana produksi dan pembiayaan, pengembangan penangkaran benih, serta peningkatan kapasitas pengurus; serta (5) memperkuat dukungan pemerintah, tokoh masyarakat, dan keluarga untuk mendorong penerapan inovasi GAP secara berkelanjutan.
Collections
- MF - Human Ecology [2455]

