| dc.description.abstract | Kehidupan nelayan Suku Bajo yang bermukim di wilayah pesisir dan
bergantung pada hasil laut membuat mereka rentan terhadap ketidakpastian
pendapatan. Ketidakpastian hasil tangkapan menyebabkan pendapatan keluarga
tidak stabil dan memunculkan tekanan ekonomi, yang pada akhirnya dapat
menghambat pemenuhan kebutuhan dan menurunkan kesejahteraan keluarga.
Kondisi ini menunjukkan pentingnya peran berbagai pihak dalam membangun
lingkungan yang ramah keluarga, dukungan sosial dari keluarga, tetangga,
maupun pemerintah sangat dibutuhkan untuk membantu memperkuat keluarga
mencapai kesejahteraan keluarga. Tujuan dari penelitian ini adalah 1)
menganalisis karakteristik keluarga, tekanan ekonomi, lingkungan ramah
keluarga, dukungan sosial dan kesejahteraan subjektif keluarga nelayan Suku
Bajo, 2) menganalisis hubungan karakteristik keluarga, tekanan ekonomi,
lingkungan ramah keluarga, dukungan sosial, dengan kesejahteraan subjektif
keluarga nelayan suku bajo, 3) menganalisis pengaruh tekanan ekonomi,
lingkungan ramah keluarga, dukungan sosial terhadap kesejahteraan subjektif
keluarga nelayan Suku Bajo.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian
cross sectional. Penelitian dilakukan di Desa Jayabakti Kabupaten Banggai
Sulawesi Tengah. Pengambilan data dilakukan pada bulan Februari – Maret 2025.
Populasi penelitian adalah keluarga nelayan. Contoh dipilih menggunakan teknik
purposive sampling berdasarkan kriteria keluarga nelayan dan petani yang
memiliki anak usia sekolah. Penelitian melibatkan 100 responden. Data diolah
menggunakan uji deskriptif, dan uji pengaruh menggunakan (SEM).
Rata-rata usia nelayan berada pada kategori dewasa madya, dengan rata-rata
usia suami 43,70 tahun dan rata-rata usia istri 40,89 tahun. Tingkat pendidikan
suami dan istri pada keluarga nelayan umumnya tamat Sekolah Dasar. Dari sisi
pekerjaan bahwa sebagian besar (95%) istri tidak bekerja (IRT), sementara lima
persen lainnya bekerja (pedagan dan honorer). Sebagian besar keluarga nelayan
(64%) memiliki 3–4 anak. Berdasarkan besar keluarga, mayoritas keluarga
nelayan (73 persen) termasuk dalam kategori keluarga sedang dengan jumlah
anggota keluarga 5–7 orang. Rata-rata pendapatan per kapita keluarga nelayan
sebesar Rp470.621. Berdasarkan klasifikasi pendapatan per kapita, mayoritas
keluarga nelayan 67 persen tergolong miskin, sedangkan 33 persen lainnya
termasuk dalam kategori tidak miskin.
Hasil uji korelasi menemukan bahwa besar keluarga berhubungan negatif
signifikan dengan tekanan ekonomi dan besar keluarga berhubungan positif
signifikan dengan kesejahteraan subjektif. Pendapatan keluarga berhubungan
negatif signifikan dengan tekanan ekonomi subjektif dan dukungan sosial,
sementara itu pendapatan keluarga berhubungan positif signifikan dengan
lingkungan ramah keluarga dan kesejahteraan subjektif. Pendapatan per kapita
berhubungan negatif signifikan dengan dukungan sosial. Tekanan ekonomi objektif berhubungan positif signifikan dengan tekanan
ekonomi subjektif dan dukungan sosial. Tekanan ekonomi objektif berhubungan
negatif signifikan dengan lingkungan ramah keluarga dan kesejahteraan subjektif.
Tekanan ekonomi subjektif berhubungan negatif signifikan dengan lingkungan
ramah keluarga dan kesejahteraan subjektif. Tekanan ekonomi subjektif
berhubungan positif signifikan dengan dukungan sosial. Lingkungan ramah
keluarga berhubungan negatif signifikan dengan sosial, lingkungan ramah
keluarga berhubungan positif signifikan dengan kesejahteraan subjektif.
Hasil uji SEM menunjukkan tekanan ekonomi berpengaruh negatif
signifikan secara langsung terhadap kesejahteraan subjektif. Semakin rendah
tekanan ekonomi yang dirasakan oleh keluarga maka kesejahteraan subjektif akan
semakin meningkat. Lingkungan ramah keluarga berpengaruh positif signifikan
secara langsung terhadap kesejahteraan subjektif. Hal ini menunjukkan bahwa
semakin tinggi lingkungan ramah keluarga maka kesejahteraan subjektif keluarga
pun akan semakin membaik. Dukungan sosial berpengaruh positif signifikan
secara langsung terhadap kesejahteraan subjektif. Hal ini menjelaskan bahwa
semakin tinggi tingkat dukungan sosial yang diterima oleh keluarga makan
semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan subjektif yang dirasakan oleh keluarga.
Implikasi dari penelitian bahwa perluh adanya peningkatan kesejahteraan
subjektif keluarga nelayan Suku Bajo melalui penguatan lingkungan ramah
keluarga sebagai faktor yang paling berpengaruh terhadap kesejahteraan keluarga.
Selain itu, diperlukan upaya untuk mengurangi tekanan ekonomi keluarga melalui
pemberdayaan ekonomi dan pengelolaan keuangan rumah tangga. Penguatan
dukungan sosial juga penting dilakukan melalui peningkatan peran keluarga,
kelompok nelayan, komunitas masyarakat dan pemerintah karena dukungan sosial
tetap berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan subjektif keluarga nelayan
meskipun tingkat dukungan yang diterima masih rendah. | |