Pengelolaan Perikanan Sondong di PPI Kota Dumai Provinsi Riau dengan Menerapkan Pendekatan PSR Framework
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Kota Dumai yang berlokasi di Provinsi Riau merupakan bagian dari Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (WPPNRI 571), yaitu kawasan dengan potensi sumberdaya perikanan terbesar di Provinsi Riau. Kekayaan hayati beserta kelimpahan sumberdaya perikanan di WPPNRI 571 telah dimanfaatkan secara intensif dengan berbagai jenis alat tangkap, salah satunya adalah sondong (pukat dorong). Sondong merupakan alat penangkapan udang yang tergolong dalam kategori pukat dorong (push net). Pemerintah telah mengeluarkan regulasi terkait pengoperasian pukat dorong dalam PERMEN KP No 36 Tahun 2023 bahwa metode pengoperasian pukat dorong yang diizinkan yaitu pengoperasian tanpa menggunakan kapal. Namun demikian, di wilayah PPI Kota Dumai nelayan setempat masih mengoperasikan alat tangkap sondong dengan bantuan kapal bermotor dalam upaya menangkap udang.
Praktik penggunaan sondong dengan bantuan kapal tersebut telah berkontribusi terhadap penurunan produksi perikanan tangkap di Kota Dumai secara signifikan. Hal ini juga selaras dengan KEPMEN KP No 19 Tahun 2022 bahwa tingkat pemanfaatan udang penaeid di WPPNRI 571 sudah berada pada nilai 1,60 yang menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan udang di wilayah tersebut over-exploited. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya penurunan stok udang secara berkelanjutan dan degradasi lingkungan perairan. Dalam penerapan kebijakan tersebut menghadirkan berbagai tantangan sosial dan ekonomi yang cukup besar berdampak bagi masyarakat nelayan setempat karena selama ini nelayan menggantungkan mata pencahariannya pada penggunaan alat tangkap sondong.
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tentang perikanan sondong, memetakan pressure, state, response perikanan sondong dan memformulasikan strategi perikanan sondong. Mendeskripsikan perikanan sondong dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Memetakan pressure, state, response dianalisis menggunakan Pressure, State, Response (PSR) framework dan dalam memformulasikan strategi dianalisis menggunakan Interpretative Structural Modeling (ISM). Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober hingga November tahun 2025 di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Kota Dumai Provinsi Riau. Responden di tentukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menjelaskan bahwa hasil tangkapan utama dari alat tangkap sondong yaitu udang putih (Pennaeus sp). Kapal yang digunakan berupa kapal dengan ukuran panjang 12 m dan lebar 2,5 m dan bermesin 24 PK. Daerah pengoperasian sondong terdiri dari perairan tianjung, senepis, teluk dalam dan sintahulu.
Pemetaan pressure, state, response pada perikanan sondong diperoleh yakni pressure meliputi adanya ketergantungan/tuntutan ekonomi (P1), alat tangkap sondong tidak ramah lingkungan (P2), tingkat pendidikan nelayan yang rendah (P3), kualitas perairan yang sudah tercemar akibat aktivitas industri (P4), daerah operasi penangkapan yang semakin jauh (P5), sistem perizinan berlayar belum maksimal (P6), menjadi nelayan sudah tidak menguntungkan (P7) dan penyempitan wilayah penangkapan (P8). Hasil pemetaan state meliputi hasil tangkapan semakin tahun menurun (S1), tertangkapnya hasil tangkapan sampingan (S2), jumlah nelayan sondong semakin menurun (S3), hasil tangkapan di PPI Kota Dumai belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat setempat (S4), harga BBM yang tergolong mahal (S5), subsidi BBM belum memenuhi kebutuhan nelayan (S6), sebagian nelayan tidak mendaratkan hasil tangkapannya di PPI Kota Dumai (S7) dan kerusakan habitat ekosistem (S8). Sedangkan pada response meliputi mengedukasi nelayan (R1), peningkatan kesejahteraan nelayan (R2), bantuan alat tangkap dari pemerintah (R3), peningkatan pengawasan perikanan (R4), PPI Kota Dumai masih dalam tahap transisi kebijakan (R5), pergantian alat penangkapan ikan (R6), menggunakan API yang tidak merusak ekosistem dan zona laut (R7), memodifikasi alat tangkap sondong (R9) dan membatasi penggunaan alat tangkap sondong (R10).
Strategi yang direkomendasikan dalam pengelolaan perikanan tangkap sondong yaitu penguatan pengawasan alat tangkap secara berkala dan pengaturan alat tangkap secara intensif (P1 dan P2), peningkatan kesadaran nelayan terhadap dampak by-catch dengan melakukan edukasi dan pendekatan partisipatif guna mendukung tercapainya tujuan pengurangan tekanan terhadap sumberdaya perikanan (K5). Strategi tersebut memerlukan keterlibatan aktif pemilik kapal/pengusaha, pekerja/buruh angkut dan kelompok nelayan (M2, M3, M7) sebagai aktor lapangan, serta bersinergi kelembagaan dengan pihak PPI, akademisi, koperasi nelayan dan HNSI (L4, L6, L7, L8) dalam mendukung implementasi kebijakan. Dengan demikian, keberhasilan pengelolaan perikanan sondong sangat bergantung pada pendekatan terintegrasi yang menghubungkan pengawasan, penguatan kapasitas nelayan dan kolaborasi antar pemangku kepentingan secara berkelanjutan.
Collections
- MF - Fisheries [3314]

