ANALISIS PENGHIDUPAN PETANI PADA SISTEM AGROFORESTRI DI DUSUN PALA KAWASAN TRANSMIGRASI WERI-SAHAREY KABUPATEN FAKFAK PAPUA BARAT
Date
2026Author
Lazwar, Muhammad Fauzan
Nurulhaq, Muhammad Iqbal
Saputra, Henry Kasmanhadi
Metadata
Show full item recordAbstract
Rumah tangga petani di Kawasan Transmigrasi Weri-Saharey
menggantungkan penghidupan pada pala dalam sistem agroforestri tradisional.
Lahan garapan mereka relatif luas, namun pendapatan musiman, infrastruktur
terbatas, dan kelembagaan petani yang lemah memperbesar kerentanan. Penelitian
ini menganalisis lima modal penghidupan, mengukur kerentanan rumah tangga, dan
menilai kondisi iklim bagi usaha tani pala. Penelitian memakai mixed method
dengan desain concurrent embedded. Data primer diperoleh dari survei 30 rumah
tangga petani, wawancara 6 informan, dan observasi lapangan. Data iklim ERA5-
Land dan MODIS periode 2006-2025 dipakai untuk menghitung curah hujan, suhu,
kelembapan, radiasi matahari, serta kecukupan air tanaman. Pengukuran kerentanan
memakai Livelihood Vulnerability Index. Nilai LVI keseluruhan 0,43 dan termasuk
kategori rentan. Kerentanan tertinggi terdapat pada modal fisik sebesar 0,51, disusul
modal finansial 0,49, modal manusia 0,45, modal sosial 0,37, dan modal alam 0,32.
Curah hujan tahunan rata-rata 3.281,7 mm sehingga wilayah ini tergolong sangat
basah. Indeks kecukupan air pala rata-rata 1,34 dengan defisit pada 2015. Lahan
luas dan penguasaan ulayat belum menghasilkan penghidupan yang stabil karena
akses jalan buruk, pendapatan musiman, keterampilan terbatas, dan organisasi
petani lemah. Penguatan penghidupan perlu mengutamakan perbaikan aksesibilitas,
diversifikasi pendapatan, pendampingan teknis, pengolahan hasil pala, dan
penguatan organisasi petani. Farmer households in the Weri-Saharey Transmigration Area depend on
nutmeg grown in a traditional agroforestry system for their livelihoods. Their land
is relatively extensive, but seasonal income, limited infrastructure, and weak farmer
institutions raise their vulnerability. This study analyses the five livelihood capitals,
measures household vulnerability, and assesses climatic conditions for nutmeg
farming. The research used a mixed method with a concurrent embedded design.
Primary data came from a survey of 30 farmer households, interviews with 6 key
informants, and field observation. ERA5-Land and MODIS data for 2006-2025
served to calculate rainfall, temperature, humidity, solar radiation, and crop water
adequacy. Vulnerability was measured with the Livelihood Vulnerability Index
(LVI). The overall LVI score was 0.43, which falls in the vulnerable category.
Vulnerability was highest in physical capital (0.51), followed by financial (0.49),
human (0.45), social (0.37), and natural capital (0.32). Mean annual rainfall was
3,281.7 mm, so the area is very wet. The nutmeg water adequacy index averaged
1.34, with a deficit in 2015. Extensive landholdings and customary tenure have not
produced stable livelihoods because road access is poor, income is seasonal, skills
are limited, and farmer organisations are weak. Strengthening livelihoods should
prioritise accessibility, income diversification, technical assistance, nutmeg
processing, and stronger farmer organisations.

