Komunikasi Resiliensi di Tingkat Komunitas dalam Isu Kekerasan Terhadap Anak: Studi Komparatif Kelurahan Layak Anak di Kota Bogor
Date
2026Author
Lestari, Retno Ayu
Seminar, Annisa Utami
Puspita, Dyah Retna
Metadata
Show full item recordAbstract
Kekerasan terhadap anak merupakan isu perlindungan khusus yang tidak hanya berkaitan dengan pengalaman korban, tetapi juga dengan kapasitas komunitas dalam mengenali risiko, mengelola informasi, serta menghubungkan keluarga dengan sistem perlindungan formal. Meskipun program Kota Layak Anak dan Kelurahan Layak Anak telah menyediakan kerangka kelembagaan perlindungan anak, keberadaan regulasi, forum, dan fasilitas belum selalu menjamin bekerjanya mekanisme perlindungan secara substantif di tingkat komunitas. Dalam konteks ini, komunikasi menjadi faktor penting yang menentukan apakah informasi mengenai kekerasan dapat bergerak menjadi tindakan perlindungan atau justru berhenti sebagai pengetahuan informal akibat stigma, budaya diam, norma privasi keluarga, dan ketakutan terhadap konsekuensi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengeksplorasi dan membandingkan proses serta hambatan komunikasi antaraktor pada tingkat komunitas dalam isu kekerasan terhadap anak di Kelurahan Cimahpar dan Kelurahan Sindangbarang; (2) mengeksplorasi implementasi Kelurahan Layak Anak pada Klaster V Perlindungan Khusus; dan (3) membandingkan proses komunikasi resiliensi komunitas berdasarkan lima proses komunikasi resiliensi Buzzanell (2010).
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif komparatif dengan paradigma konstruktivis. Pemilihan lokasi dilakukan pada Kelurahan Cimahpar dan Sindangbarang di Kota Bogor yang memiliki perbedaan capaian Kelurahan Layak Anak, konfigurasi aktor komunitas, serta dinamika perlindungan anak. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah (FGD), observasi nonpartisipatif, dan telaah dokumen. Informan penelitian melibatkan aktor komunitas, kader PATBM, PKK, Posyandu, perangkat kelurahan dan kecamatan, lembaga layanan perlindungan anak di tingkat kota, serta informan ahli. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan abduktif (abductive approach) melalui proses dialog antara temuan empiris dan kerangka teoritis model ekologi sosial (Dahlberg dan Krug 2002), Communication Theory of Resilience (Buzzanell, 2010) dan Social Ecological Resilience (Ungar 2012). Proses pengodean dilakukan melalui tahapan kondensasi data, pengembangan kategori, penyelarasan teoritis, serta verifikasi temuan dengan bantuan NVivo 15. Validitas penelitian diperkuat melalui triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan member checking melalui FGD perwakilan perempuan di masing-masing wilayah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi dalam penanganan kekerasan anak tidak bergerak secara linear dari warga menuju lembaga formal, tetapi melalui tahapan notifikasi awal, klarifikasi, penilaian sosial, pendampingan terbatas, dan rujukan melalui aktor komunitas yang dipercaya. Implementasi Klaster V Perlindungan Khusus menunjukkan adanya kesenjangan antara pemenuhan administratif dan perlindungan substantif. Kelengkapan kelembagaan belum cukup tanpa adanya jalur komunikasi yang aman, protokol kerahasiaan, aktor penghubung yang aktif, serta mekanisme rujukan yang berjalan. Analisis komunikasi resiliensi menunjukkan bahwa kedua kelurahan memiliki lima proses resiliensi komunikasi Buzzanell (2010), tetapi dengan kualitas dan arah yang berbeda. Cimahpar menunjukkan proses resiliensi yang lebih kuat melalui PATBM Garuda, kader, jejaring perempuan, komunikasi privat, dan inovasi komunitas. Sebaliknya, Sindangbarang menunjukkan proses resiliensi yang lebih rapuh karena dipengaruhi stigma, budaya diam, ketergantungan ekonomi, dan kecenderungan penyelesaian kasus dalam ruang privat keluarga. Penelitian ini menemukan bahwa resiliensi komunitas dalam isu kekerasan anak tidak terutama dibangun melalui keterbukaan komunikasi secara luas, tetapi melalui kemampuan komunitas membangun ruang komunikasi yang aman, selektif, privat, dan berbasis kepercayaan. Temuan ini memperluas pemahaman komunikasi resiliensi dengan menunjukkan bahwa dalam isu sensitif, kerahasiaan dan aktor lokal yang dipercaya dapat menjadi sumber daya perlindungan apabila mampu menghubungkan korban dengan sistem layanan formal.
Collections
- MF - Human Ecology [2455]

