Show simple item record

dc.contributor.advisorSeminar, Annisa Utami
dc.contributor.advisorHapsari, Dwi Retno
dc.contributor.authorRaydesyana, Siti Amania
dc.date.accessioned2026-07-31T06:38:53Z
dc.date.available2026-07-31T06:38:53Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/176684
dc.description.abstractProgram Smart Fisheries Village (SFV) merupakan program pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM) sebagai upaya mempercepat pembangunan masyarakat pesisir melalui integrasi teknologi, konservasi sumber daya kelautan, dan penguatan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. Keberhasilan program pemberdayaan tidak hanya ditentukan oleh kualitas program yang dirancang, tetapi juga oleh efektivitas komunikasi yang mampu membangun pemahaman, keterlibatan, serta komitmen masyarakat untuk terus berpartisipasi. Penyampaian informasi mengenai inovasi teknologi, konservasi, dan pengembangan usaha perikanan merupakan informasi yang relatif kompleks sehingga membutuhkan media komunikasi yang mampu menyampaikan pesan secara jelas, interaktif, dan mudah dipahami oleh masyarakat. Teori Kekayaan Media menjelaskan bahwa efektivitas komunikasi dipengaruhi oleh tingkat kesesuaian antara kompleksitas informasi dengan kemampuan media dalam menyampaikan pesan. Media yang lebih kaya diperkirakan mampu meningkatkan kehadiran sosial, memperkuat pemberdayaan psikologis, dan pada akhirnya mendorong niat masyarakat untuk tetap berpartisipasi dalam program. Meskipun demikian, penelitian mengenai hubungan tersebut dalam konteks komunikasi pembangunan, khususnya pada program pemberdayaan masyarakat pesisir di Indonesia, masih relatif terbatas. Selain itu, penelitian yang membandingkan efektivitas komunikasi melalui Zoom Meeting dan pertemuan tatap muka pada program pemberdayaan masyarakat juga masih jarang dilakukan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh tingkat kekayaan media terhadap kehadiran sosial, pemberdayaan psikologis, dan niat keberlanjutan pengguna Program SFV di Desa Bangsring, Kabupaten Banyuwangi. Penelitian ini juga bertujuan membandingkan efektivitas komunikasi melalui Zoom Meeting dan pertemuan tatap muka dalam mendukung proses pemberdayaan masyarakat pesisir. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain sequential explanatory, yaitu diawali dengan penelitian kuantitatif kemudian diperdalam melalui penelitian kualitatif. Tahap kuantitatif dilakukan terhadap 154 responden pengguna Program SFV menggunakan kuesioner terstruktur. Tahap kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi lapangan untuk memperkuat interpretasi hasil kuantitatif. Analisis hubungan antarvariabel dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS), sedangkan perbandingan efektivitas komunikasi Zoom Meeting dan pertemuan tatap muka dianalisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kekayaan media berpengaruh terhadap kehadiran sosial, pemberdayaan psikologis, dan niat keberlanjutan melalui dimensi yang berbeda. Tingkat kekayaan ekspresi informasi berperan dalam meningkatkan kehadiran sosial, sedangkan tingkat kekayaan kualitas informasi memberikan pengaruh yang lebih kuat terhadap pemberdayaan psikologis masyarakat. Tingkat kekayaan konten juga berpengaruh langsung terhadap niat keberlanjutan pengguna program. Hasil analisis mediasi menunjukkan bahwa pemberdayaan psikologis terbukti menjadi mediator yang signifikan dalam hubungan antara tingkat kekayaan media dan niat keberlanjutan. Sebaliknya, kehadiran sosial tidak berperan sebagai mediator yang signifikan, yang mengindikasikan bahwa keberlanjutan partisipasi masyarakat lebih banyak dipengaruhi oleh munculnya rasa mampu, percaya diri, memiliki makna, dan memiliki kendali terhadap pelaksanaan program dibandingkan oleh pengalaman interaksi sosial selama proses komunikasi. Hasil uji Wilcoxon juga menunjukkan bahwa komunikasi melalui pertemuan tatap muka lebih efektif dibandingkan Zoom Meeting dalam membangun interaksi sosial, meningkatkan pemahaman terhadap informasi, serta memperkuat pemberdayaan psikologis masyarakat. Temuan tersebut menunjukkan bahwa media digital tetap memiliki peran penting dalam mendukung penyampaian informasi, namun belum sepenuhnya mampu menggantikan efektivitas komunikasi tatap muka pada program pemberdayaan masyarakat yang membutuhkan interaksi intensif, demonstrasi, dan pendampingan langsung. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian komunikasi pembangunan melalui penerapan Teori Kekayaan Media pada program pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi. Secara praktis, hasil penelitian dapat menjadi masukan bagi pemerintah, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan, dalam merancang strategi komunikasi yang lebih efektif pada implementasi Program Smart Fisheries Village maupun program pemberdayaan masyarakat lainnya. Pemilihan media komunikasi yang sesuai dengan karakteristik pesan dan kebutuhan masyarakat diharapkan mampu meningkatkan pemberdayaan masyarakat sekaligus memperkuat keberlanjutan partisipasi dalam mendukung pembangunan pesisir yang berkelanjutan
dc.description.sponsorshipPusat Pendidikan Kelautan dan Perikanan, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titlePENGARUH KEKAYAAN MEDIA TERHADAP NIAT KEBERLANJUTAN PENGGUNA PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (KASUS: SMART FISHERIES VILLAGE BANGSRING, KABUPATEN BANYUWANGI, JAWA TIMUR)id
dc.title.alternative
dc.typeTesis
dc.subject.keywordkekayaan mediaid
dc.subject.keywordkehadiran sosialid
dc.subject.keywordniat keberlanjutanid
dc.subject.keywordpemberdayaan masyarakatid
dc.subject.keywordpemberdayaan psikologisid
dc.subject.keywordsmart fisheries villageid
dc.subtypeTheses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record