Kinerja Pertumbuhan dan Respons Fisiologis Benih Ikan Baung Hemibagrus nemurus pada Spektrum LED Berbeda
Date
2026Author
Utami, Yolanda Sri
Nirmala, Kukuh
Supriyono, Eddy
Sudrajat, Agus Oman
Metadata
Show full item recordAbstract
Ikan baung (Hemibagrus nemurus) merupakan salah satu komoditas
perikanan air tawar bernilai ekonomi tinggi yang banyak diminati masyarakat
Indonesia. Hingga saat ini, produksi ikan baung masih didominasi oleh hasil
tangkapan dari perairan umum, sehingga pengembangan budidaya menjadi penting
untuk mendukung kontinuitas produksi. Salah satu tantangan utama dalam
budidaya ikan baung adalah pertumbuhan benih yang lambat, dengan laju bobot
spesifik (LBS) berkisar 2,5–2,9 %/hari. Salah satu pendekatan yang dapat
dilakukan untuk meningkatkan performa pertumbuhan adalah melalui optimalisasi
lingkungan pemeliharaan berupa manipulasi spektrum cahaya. Ikan memiliki
sensitivitas yang tinggi terhadap spektrum cahaya, dengan rentang serapan cahaya
oleh penglihatan ikan berkisar 277–737 nm. Teknologi light emitting diode (LED)
menawarkan kemampuan menghasilkan spektrum pita sempit (narrow spectrum)
secara spesifik dan efisien sehingga efeknya dapat dikaji secara lebih akurat
dibanding lampu konvensional. Namun demikian, efektivitas spektrum cahaya
bersifat spesifik untuk setiap spesies dan data mengenai pengaruh spektrum LED
terhadap ikan baung masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk
mengevaluasi pengaruh berbagai spektrum cahaya LED terhadap kinerja
pertumbuhan dan respons fisiologis benih ikan baung.
Penelitian dilakukan selama 30 hari menggunakan rancangan acak lengkap
dengan lima perlakuan spektrum cahaya LED, yaitu putih (LP, ? 558 nm), merah
(LM, ? 624 nm), kuning (LK, ? 599 nm), hijau (LH, ? 526 nm), dan biru (LB, ? 451
nm), dengan tiga ulangan pada setiap perlakuan. Benih ikan baung dengan bobot
rata-rata awal 2,25±0,22 g dan panjang 6,02±0,25 cm dipelihara dalam akuarium
berukuran 50 x 40 x 40 cm pada salinitas 3 ppt dengan intensitas pencahayaan 550
lux dan fotoperiode 12 jam terang dan 12 jam gelap. Pakan diberikan secara at
satiation dengan pelet komersial berprotein 48% sebanyak tiga kali sehari.
Parameter yang diamati meliputi kinerja pertumbuhan (bobot akhir, pertumbuhan
bobot dan panjang, laju pertumbuhan spesifik, rasio konversi pakan, faktor kondisi,
dan tingkat kelangsungan hidup), profil hematologi darah (glukosa, hemoglobin,
hematokrit, eritrosit, dan leukosit), aktivitas antioksidan meliputi superoxide
dismutase (SOD) dan malondialdehyde (MDA), serta keragaan warna tubuh dengan
hue, saturation, brightness (model HSB).
Hasil analisis keragaan warna menunjukkan bahwa spektrum cahaya LED
berpengaruh signifikan terhadap pigmentasi benih ikan baung. Perlakuan cahaya
merah menghasilkan nilai hue tertinggi yang berbeda nyata dengan cahaya kuning,
hijau, dan biru (P<0,05), sedangkan cahaya kuning menghasilkan nilai saturation
dan brightness tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Spektrum cahaya LED
berpengaruh signifikan terhadap kadar glukosa dan hemoglobin darah (P<0,05).
Pada akhir pemeliharaan, kadar glukosa tertinggi tercatat pada perlakuan cahaya
merah (73,33 mg/dL), sementara cahaya biru secara konsisten menghasilkan kadar
glukosa terendah (60,33 mg/dL) yang mengindikasikan kondisi metabolik lebih
stabil. Kadar hemoglobin tertinggi pada akhir pemeliharaan dicapai oleh perlakuan cahaya biru dan kuning, masing-masing sebesar 8,23 dan 8,20 g/dL, yang
mencerminkan kapasitas transportasi oksigen lebih optimal untuk mendukung
aktivitas metabolik. Sebaliknya, perlakuan cahaya merah secara konsisten
menghasilkan kadar hemoglobin terendah (6,52 g/dL). Parameter hematokrit,
jumlah eritrosit, dan jumlah leukosit tidak berbeda signifikan antar perlakuan
(P>0,05).
Hasil analisis aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa perlakuan cahaya
kuning menghasilkan respons antioksidan tertinggi. Pada hari ke-15, aktivitas SOD
tertinggi tercatat pada perlakuan cahaya kuning sebesar 68,08% yang berbeda nyata
dengan perlakuan lainnya (P<0,05) dan nilai ini tetap menjadi yang tertinggi pada
hari ke-30 sebesar 66,67% meskipun secara statistik tidak berbeda signifikan antar
perlakuan. Perlakuan cahaya kuning juga menghasilkan kadar MDA terendah
sepanjang masa pemeliharaan, yakni 1,78 nmol/L pada hari ke-15 dan 1,73 nmol/L
pada hari ke-30, yang mengindikasikan perlindungan terhadap peroksidasi lipid
paling tinggi. Sebaliknya, cahaya merah, putih, dan biru menghasilkan kadar MDA
yang lebih tinggi. Spektrum LED berpengaruh signifikan terhadap bobot akhir,
panjang akhir, pertumbuhan bobot, dan rasio konversi pakan (P<0,05).
Pertumbuhan terbaik dicapai oleh benih ikan baung pada perlakuan spektrum
cahaya biru dengan bobot akhir rata-rata sebesar 10,17 g dan pertumbuhan bobot
tertinggi sebesar 8,01 g yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan perlakuan
cahaya merah dan hijau. Perlakuan cahaya merah menghasilkan kinerja
pertumbuhan terendah di antara semua perlakuan. Dari sisi efisiensi pakan,
perlakuan cahaya putih menunjukkan rasio konversi pakan paling efisien sebesar
0,80 meskipun tidak berbeda nyata dengan perlakuan kuning dan biru, sedangkan
perlakuan cahaya merah memiliki nilai rasio konversi pakan tertinggi sebesar 1,00
yang berbeda signifikan. Tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan spesifik,
dan faktor kondisi tidak berbeda nyata antar perlakuan (P>0,05), dengan tingkat
kelangsungan hidup yang tergolong tinggi di atas 90% pada semua perlakuan.
Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa spektrum LED biru
meningkatkan performa pertumbuhan dan menurunkan stres fisiologis pada benih
ikan baung ditandai dengan pencapaian pertumbuhan bobot dan panjang tertinggi,
nilai rasio konversi pakan yang efisien, stres glukosa terendah, dan kadar
hemoglobin yang lebih tinggi dibandingkan spektrum lainnya. Spektrum cahaya
biru direkomendasikan sebagai pilihan pencahayaan optimal untuk meningkatkan
produktivitas benih ikan baung.
Collections
- MF - Fisheries [3314]

