| dc.description.abstract | Dinamika kehidupan keluarga pada konteks mata pencaharian yang rentan menunjukkan pentingnya kapasitas internal keluarga dan lingkungan sosial dalam membentuk kesejahteraan subjektif keluarga. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberfungsian keluarga tidak hanya ditentukan oleh faktor struktural, tetapi juga oleh kekuatan relasi emosional, investasi resiliensi, dan dukungan sosial yang dimiliki keluarga. Tujuan penelitian ini adalah 1) mengidentifikasi karakteristik keluarga, investasi resiliensi, dukungan sosial, kualitas hubungan emosional, dan kesejahteraan subjektif pada keluarga petani dan nelayan di Kabupaten Probolinggo; 2) menganalisis perbedaan karakteristik keluarga, investasi resiliensi, dukungan sosial, kualitas hubungan emosional, dan kesejahteraan subjektif pada keluarga petani dan nelayan di Kabupaten Probolinggo; 3) menganalisis hubungan karakteristik keluarga, investasi resiliensi, dukungan sosial, kualitas hubungan emosional, dan kesejahteraan subjektif pada keluarga petani dan nelayan di Kabupaten Probolinggo; dan 4) menganalisis pengaruh investasi resiliensi, dukungan sosial, dan kualitas hubungan emosional terhadap kesejahteraan subjektif pada keluarga petani dan nelayan di Kabupaten Probolinggo.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Penelitian dilakukan di Desa Sumbersuko (petani) dan Desa Randuputih (nelayan) Kabupaten Probolinggo Jawa Timur. Pengambilan data dilakukan pada bulan Agustus – September 2025. Populasi penelitian adalah keluarga nelayan dan petani di Kabupaten Probolinggo. Contoh dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria keluarga nelayan dan petani yang memiliki anak usia sekolah. Penelitian melibatkan 200 responden. Penelitian telah lolos kaji etik manusia di Institut Pertanian Bogor dengan Nomor 1837/IT3.KEPMSM-IPB/SK/2025.
Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: 1) investasi resiliensi menggunakan kuesiner resiliensi keluarga (RESILIENSI-GA) yang dikembangkan oleh Sunarti (2024) dengan Cronbach Alpha sebesar 0,948; 2) dukungan sosial menggunakan instrumen Zimet et al. (1988) dengan nilai Cronbach Alpha sebesar 0,807; 3) kualitas hubungan emosional ibu-anak menggunakan kuesioner Kualitas Hubungan Emosional Orang Tua-Anak (SKHE-OA) yang dikembangkan oleh Latifah (2025) dengan nilai Cronbach Alpha sebesar 0,549; dan 4) kesejahteraan subjektif keluarga menggunakan instrumen Kesejahteraan Keluarga (Sejahtera-Ga) yang dikembangkan oleh Sunarti (2025) dengan nilai Cronbach Alpha 0,909. Pengolahan dan analisis data dilakukan melalui tahapan editing, coding, entry, dan scoring. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan SPSS 25.0 untuk analisis deskriptif dan inferensial (uji independent sample t-test dan korelasi Pearson), serta Structural Equation Modeling Partial Least Square (SEM-PLS) untuk menguji pengaruh.
Investasi resiliensi keluarga pada keluarga nelayan dan petani umumnya berada pada kategori tinggi pada seluruh dimensi dengan kecenderungan lebih kuat pada keluarga nelayan dibandingkan keluarga petani. Dukungan sosial keluarga berada pada kategori tinggi pada kedua kelompok. Dukungan dari teman dan tokoh penting cenderung berada pada kategori sedang dengan variasi kategori yang cukup beragam. Secara keseluruhan, dukungan sosial berada pada kategori sedang. Kualitas hubungan emosional ibu–anak berada pada kategori sedang pada seluruh dimensi, baik kepercayaan, komunikasi empatik, dukungan emosional, maupun keterlibatan. Kesejahteraan subjektif keluarga menunjukkan bahwa aspek sosial dan psikologis berada pada kategori tinggi, sedangkan aspek ekonomi berada pada kategori sedang. Secara keseluruhan, kesejahteraan subjektif keluarga cenderung lebih tinggi pada keluarga nelayan dibandingkan keluarga petani.
Hasil uji beda menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada usia suami, besar keluarga, dan pendapatan perkapita. Rata-rata usia suami pada keluarga nelayan 42,97 tahun dan di keluarga petani 25,75 tahun dengan kecenderungan suami petani berusia lebih tua dibandingkan suami nelayan. Rata-rata besar keluarga pada keluarga nelayan 4,49 sedangkan pada keluarga petani 4,14. Rata-rata pendapatan perkapita keluarga nelayan adalah Rp735.932 sedangkan pada keluarga petani adalah sebesar Rp1.145.548. Hasil uji beda menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat signifikan pada investasi resiliensi antara keluarga nelayan dan keluarga petani, dengan nilai yang lebih tinggi pada keluarga nelayan. Dukungan sosial keluarga juga menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok, dengan kecenderungan lebih tinggi pada keluarga nelayan, namun pada dimensi dukungan dari tokoh penting justru lebih tinggi pada keluarga petani. Kualitas hubungan emosional ibu–anak secara umum tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan, tetapi pada dimensi dukungan emosional terdapat perbedaan yang signifikan dengan nilai yang lebih tinggi pada keluarga nelayan. Kesejahteraan subjektif keluarga menunjukkan perbedaan yang signifikan antara keluarga nelayan dan petani, baik pada aspek ekonomi, sosial, maupun psikologis, serta pada skor total. Secara umum, keluarga nelayan memiliki tingkat kesejahteraan subjektif yang lebih tinggi dibandingkan keluarga petani.
Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa secara keseluruhan lama pendidikan istri berhubungan positif signifikan dengan kualitas hubungan emosional ibu–anak. Pendapatan istri dan pendapatan suami berhubungan negatif signifikan dengan investasi resiliensi. Pendapatan istri juga berhubungan negatif dengan kualitas hubungan emosional ibu–anak. Selain itu, pendapatan perkapita berhubungan negatif signifikan dengan investasi resiliensi, kualitas hubungan emosional ibu–anak, dan kesejahteraan subjektif keluarga. Besar keluarga juga berhubungan positif signifikan dengan dukungan sosial.
Hasil uji pengaruh menunjukkan adanya perbedaan antara keluarga petani dan nelayan. Pada keluarga nelayan, investasi resiliensi menjadi faktor dengan pengaruh paling besar terhadap kesejahteraan subjektif keluarga. Dukungan sosial juga berpengaruh positif signifikan, sedangkan kualitas hubungan emosional ibu–anak tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap kesejahteraan subjektif keluarga. Pada keluarga petani, kualitas hubungan emosional ibu–anak menjadi faktor pengaruh paling besar terhadap kesejahteraan subjektif keluarga. Investasi resiliensi juga memberikan pengaruh positif dan sangat signifikan, sedangkan dukungan sosial tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap kesejahteraan subjektif keluarga.
Rekomendasi kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan subjektif keluarga petani dan nelayan perlu diarahkan pada penguatan resiliensi keluarga, dukungan sosial, serta kualitas hubungan emosional ibu–anak. Program pemberdayaan dapat dilakukan melalui pelatihan pengelolaan stres, manajemen keuangan, dan pendampingan psikososial. Penguatan dukungan sosial perlu dioptimalkan melalui forum warga, kelompok tani dan nelayan, serta kegiatan komunitas yang mendorong interaksi dan saling berbagi. Peningkatan kualitas hubungan emosional ibu–anak dapat dilakukan melalui kelas parenting, pelatihan komunikasi keluarga, dan penyuluhan pengasuhan berbasis kebutuhan emosional anak yang terintegrasi dalam program PKK atau posyandu. Intervensi yang terintegrasi antara pemerintah, LSM, dan komunitas diharapkan mampu memperkuat kapasitas internal dan eksternal keluarga sehingga menciptakan lingkungan yang lebih suportif, adaptif, dan berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan subjektif keluarga. | |