| dc.description.abstract | Lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) merupakan komoditas akuakultur bernilai ekonomis tinggi yang memiliki pertumbuhan relatif cepat, toleran terhadap lingkungan budidaya, serta memiliki prospek pengembangan yang luas. Namun, produktivitas budidaya masih menghadapi kendala berupa rendahnya ketersediaan mineral esensial, terutama kalsium (Ca) dan magnesium (Mg), yang berperan penting dalam proses molting, pembentukan eksoskeleton, dan osmoregulasi. Upaya peningkatan ketersediaan mineral melalui penambahan dolomit (CaMg(CO3)2) serta pengaturan salinitas media budidaya diharapkan mampu menciptakan kondisi lingkungan yang lebih optimal bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup lobster.
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi salinitas pada media berdolomit 40 ppm terhadap pertumbuhan, respon fisiologis, respons imun, dan kualitas air budidaya C. quadricarinatus. Penelitian dilaksanakan selama 60 hari menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan, yaitu K- (kontrol), K+ (dolomit 40 ppm + salinitas 0 ppt), P1 (dolomit 40 ppm + salinitas 2 ppt), P2 (dolomit 40 ppm + salinitas 4 ppt), dan P3 (dolomit 40 ppm + salinitas 6 ppt).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi salinitas pada media berdolomit berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap bobot akhir, laju pertumbuhan spesifik, frekuensi molting, tingkat kelangsungan hidup, kadar kalsium tubuh, daya hantar listrik jaringan, kadar glukosa, dan Total Haemocyte Count (THC). Perlakuan P1 menghasilkan performa terbaik dengan bobot akhir sebesar 5,01±0,11 g, laju pertumbuhan spesifik 0,63±0,03% hari-1, frekuensi molting 8,33±0,58 kali, dan tingkat kelangsungan hidup 77,78±4,81%. Peningkatan performa tersebut menunjukkan bahwa salinitas 2 ppt mampu menciptakan kondisi mendekati isoosmotik sehingga energi yang digunakan untuk osmoregulasi dapat dialihkan untuk pertumbuhan dan proses fisiologis lainnya.
Respons fisiologis lobster juga menunjukkan kondisi yang lebih baik pada perlakuan P1. Nilai daya hantar listrik jaringan dan kadar glukosa relatif lebih rendah dibandingkan perlakuan lainnya, yang mengindikasikan tingkat stres yang lebih rendah. Selain itu, nilai THC meningkat pada perlakuan yang diberi kombinasi salinitas dan dolomit, menunjukkan respons imun yang lebih baik akibat tersedianya ion-ion mineral yang mendukung keseimbangan fisiologis tubuh. Ketersediaan Ca2+ dan Mg2+ dalam media budidaya berperan penting dalam proses mineralisasi eksoskeleton pasca-molting, meningkatkan keberhasilan pergantian kulit, dan menekan risiko kematian akibat kanibalisme.
Kualitas air selama penelitian berada dalam kisaran yang mendukung pertumbuhan lobster air tawar. Suhu berkisar antara 26–28°C, pH 7,5–8,2, oksigen terlarut 4,9–7,5 mg L-1, alkalinitas 80–120 mg L-1 CaCO3, dan kesadahan 50–287 mg L-1. Penambahan dolomit berkontribusi dalam meningkatkan kesadahan dan alkalinitas sehingga kestabilan pH media dapat dipertahankan. Nilai Total Ammonia Nitrogen (TAN) dan nitrit selama pemeliharaan masih berada dalam kisaran toleransi bagi C. quadricarinatus.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa kombinasi dolomit 40 ppm dengan salinitas 2 ppt merupakan perlakuan terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan, frekuensi molting, respons imun, kelangsungan hidup, serta menjaga stabilitas kualitas air budidaya C. quadricarinatus. Temuan ini memberikan dasar ilmiah bagi pengembangan teknologi budidaya lobster air tawar melalui pengelolaan mineral dan salinitas yang tepat guna meningkatkan produktivitas budidaya secara berkelanjutan. | |