Kesehatan Ekosistem Lamun Sebagai Dasar Pengelolaan di Pulau Pari dan Pulau Kongsi, Kepulauan Seribu
Date
2026Author
PUTRI, NABILA AURALIA
Yulianda, Fredinan
Kurniawan, Fery
Metadata
Show full item recordAbstract
Ekosistem lamun merupakan ekosistem pesisir yang memiliki peran ekologis penting, namun luas padang lamun secara global terus mengalami penurunan akibat berbagai tekanan antropogenik. Kondisi serupa juga ditemukan di Pulau Pari,
sementara informasi mengenai kondisi ekosistem lamun di Pulau Kongsi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menilai kesehatan ekosistem lamun di Pulau Pari dan Pulau Kongsi menggunakan Indeks Kesehatan Ekosistem Lamun (IKEL) serta
merumuskan prioritas strategi pengelolaannya menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP). Data ekologi lamun dikumpulkan melalui observasi lapangan menggunakan kuadrat berukuran 50 × 50 cm, sedangkan data sosial diperoleh melalui wawancara dengan responden yang dipilih menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai IKEL di kedua lokasi termasuk kategori sedang, dengan variasi kategori kesehatan dari buruk hingga baik di Pulau Pari serta sedang hingga baik di Pulau Kongsi. Prioritas strategi pengelolaan yang dihasilkan meliputi pemeliharaan dan pemulihan kondisi ekologis ekosistem lamun, yang didukung oleh penguatan pengelolaan berbasis
regulasi, serta peningkatan kesadaran dan keterlibatan masyarakat juga wisatawan. Seagrass ecosystems are important coastal ecosystems that provide essential ecological functions. However, their global extent continues to decline due to various anthropogenic pressures. Similar conditions have been observed on Pari
Island, while information regarding the condition of seagrass ecosystems on Kongsi Island remains limited. This study aimed to assess the health of seagrass ecosystems on Pari Island and Kongsi Island using the Seagrass Ecological Quality Index
(SEQI) and to formulate priority management strategies using the Analytical Hierarchy Process (AHP). Seagrass ecological data were collected through field observations using 50 × 50 cm quadrats, while social data were obtained through interviews with respondents selected using purposive sampling. The results showed that the IKEL values at both locations were classified as moderate, with health categories ranging from poor to good on Pari Island and from moderate to good on Kongsi Island. The resulting priority management strategies were maintaining ecological conditions, strengthening management through regulations, and
enhancing public awareness and participation.

