Pengelolaan Sumberdaya Ikan Asosiasi pada Ekosistem Mangrove: Studi Kasus Pulau Tanakeke, Kabupaten Takalar
Abstract
Ekosistem mangrove merupakan komponen krusial dalam menopang keberlangsungan sumberdaya ikan melalui fungsinya sebagai area pembesaran, pemijahan, dan mencari makan. Kerusakan mangrove yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Pulau Tanakeke, mengancam ketersediaan populasi ikan yang sangat bergantung pada struktur dan kualitas habitat ini. Kondisi tersebut menjadi dasar perlunya kajian komprehensif yang tidak hanya menilai aspek ekologis, tetapi juga memahami bagaimana masyarakat pesisir, khususnya nelayan, berinteraksi dan bergantung pada sumberdaya ikan asosiasi mangrove. Oleh karena itu, penelitian ini disusun dengan tujuan untuk mengidentifikasi sumberdaya ikan asosiasi mangrove, menganalisis interaksi komponen sistem sosial-ekologi, mengestimasi nilai ekonomi pemanfaatan ikan asosiasi, dan merumuskan strategi pengelolaan yang berkelanjutan bagi wilayah Pulau Tanakeke.
Penelitian ini dilakukan pada Oktober 2024 sampai dengan Januari 2025 di perairan Desa Rewatayya, Pulau Tanakeke. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara terstruktur, pengukuran vegetasi mangrove, serta identifikasi ikan asosiasi berdasarkan morfologi yang kemudian dikonfirmasi pakar. Lima stasiun pengamatan dipilih untuk mewakili perbedaan kondisi habitat meliputi kerapatan mangrove, jenis substrat, dan keterhubungan dengan wilayah penangkapan. Analisis vegetasi dilakukan dengan menghitung kerapatan, frekuensi, penutupan, serta Indeks Nilai Penting (INP) sebagai dasar penilaian dominansi vegetasi mangrove. Identifikasi ikan dilakukan menggunakan studi literaturdengan melihat kondisi morfologi dan kesesuaian di lokasi kajian, kemudian dianalisis melalui komposisi jenis, indeks keanekaragaman (H’), kemerataan (J’), dan indeks dominansi (C). Hubungan antara vegetasi mangrove dan komunitas ikan dianalisis menggunakan Correspondence Analysis (CA) untuk melihat pola asosiasi pada masing-masing stasiun. Sementara itu, analisis sistem sosial-ekologi dilakukan melalui pemetaan jejaring menggunakan Social-Ecological Network Analysis (SENA) dengan perhitungan centrality degree, betweenness, serta community detection untuk menilai keterhubungan dan pengaruh antaraktor dalam sistem pemanfaatan sumberdaya. Estimasi nilai ekonomi pemanfaatan ikan asosiasi ekosistem mangrove di Pulau Tanakeke dengan mengukur pendapatan total per tahun dan pendapatan per nelayan. Skenario Pengelolaan ekosistem mangrove dan sumberdaya ikan asosiasi di analisis menggunakan Qualitative Network Models (QNMs) dengan penekanan beberapa komponen node yang akan dikendalikan.
Hasil penelitian menunjukkan ekosistem mangrove pada Desa Rewatayya Pulau Tanakeke didominasi absolut dari spesies Rhizophora stylosa dengan kerapatan rendah. Ikan asosiasi ekosistem mangrove teridentifikasi sebanyak 25 spesies dengan kategori asosiasi didominasi oleh kelompok fakultatif resident dan kelimpahan tertinggi dari kelompok Permanent resident. Hubungan keterkaitan antara kerapatan dan kelimpahan ikan asosiasi mangrove membuktikan bahwa kondisi mangrove di Pulau Tanakeke memengaruhi secara nyata keberadaan ikan asosiasi. Stasiun dengan kerapatan dan kondisi mangrove yang lebih baik memiliki keanekaragaman dan kelimpahan ikan yang lebih tinggi dibandingkan stasiun lainnya. Kelompok permanent resident dari genus Ambassis sangat bergantung pada kerapatan mangrove karena menjadikan ekosistem mangrove sebagai habitat asosiasi tetap. Jejaring sosial-ekologi yang terbentuk terdiri atas 26 node dan 77 hubungan, dengan ekosistem mangrove (MangEcost) sebagai node yang memiliki centrality degree tertinggi. Hal ini menandakan bahwa kondisi mangrove menjadi elemen paling menentukan dalam dinamika pemanfaatan sumberdaya ikan dan aktivitas sosial ekonomi masyarakat desa Rewatayya, Pulau Tanakeke. Nelayan jaring dan nelayan bubu tercatat sebagai aktor dengan nilai pengaruh terbesar, menunjukkan posisi mereka sebagai pengguna utama sumberdaya, sementara pemerintah desa memiliki peran penting dari sisi kepentingan ekologis. Secara ekonomi, nilai pemanfaatan ikan asosiasi mangrove mencapai Rp787.000.000 per tahun dengan pendapatan rata-rata Rp24.488.571 per nelayan per tahun, menggambarkan kontribusi nyata ekosistem mangrove terhadap ekonomi lokal.
Berdasarkan hasil penelitian, kesimpulan penelitian menegaskan bahwa keberlanjutan ekosistem mangrove sangat menentukan keberlanjutan perikanan asosiasi di Pulau Tanakeke. Sistem sosial dan ekologi yang saling terhubung menuntut pengelolaan yang tidak hanya fokus pada pemulihan habitat, tetapi juga mengatur pemanfaatan sumberdaya oleh masyarakat. Strategi pengelolaan yang diusulkan berbasis pada pendekatan Ecosystem-Based Fisheries Management (EBFM), yang mengintegrasikan upaya pengurangan intensitas penangkapan dan rehabilitasi mangrove secara simultan.
Collections
- MF - Fisheries [3310]

