Perbandingan Kelayakan Usahatani Lada Putih Pola Tanam Monokultur dan Tumpang Sari di Bangka Selatan
Abstract
Lada putih (Piper nigrum L.) merupakan komoditas perkebunan bersejarah yang menjadi komoditas ekspor unggulan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Namun isu empiris yang ditemukan, usahatani lada putih pada sentra penghasilnya (Kabupaten Bangka Selatan) mulai ditinggalkan oleh para petani. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan (1) status kelayakan usahatani lada putih dengan pola tanam monokultur; (2) status kelayakan usahatani lada putih dengan pola tanam tumpang sari. Penelitian ini menggunakan analisis kelayakan finansial, analisis switching value, dan kelayakan aspek non finansial. Hasil penelitian menunjukkan usahatani lada putih, baik dengan pola tanam monokultur atau tumpang sari, secara finansial layak untuk dijalankan. Usahatani lada putih akan bertahan jika harga jual lada per kg bernilai Rp66.130 (monokultur) atau Rp34.767,4 (tumpang sari). Ketahanan usahatani lada putih akan penurunan produktivitas tanaman adalah maksimal 33,57% (monokultur) atau 70% (tumpang sari). Secara non finansial, usahatani lada putih belum layak untuk dijalankan. Maka usahatani lada putih di Bangka Selatan membutuhkan evaluasi pada aspek non finansialnya, untuk mendukung dan mempertahankan status kelayakan finansial.

