Estimasi Nilai Ekonomi dan Strategi Pengembangan Pengelolaan Wisata Situ Rawa Kalong Kota Depok.
Abstract
Situ Rawa Kalong merupakan kawasan wisata alam berbasis situ di Kelurahan Curug, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, yang telah direvitalisasi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada tahun 2020. Meskipun telah direvitalisasi, pengelolaan kawasan pasca-revitalisasi masih menghadapi tantangan berupa lemahnya kelembagaan, belum optimalnya partisipasi masyarakat, dan belum diestimasi nilai ekonomi kawasan secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi permintaan wisata, mengestimasi nilai ekonomi kegiatan wisata, serta menganalisis variabel kunci yang mendukung strategi pengelolaan wisata berkelanjutan di Situ Rawa Kalong. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terhadap 100 responden pengunjung, wawancara mendalam dengan key person dari lima instansi terkait, serta observasi lapangan pada periode Februari hingga Juni 2026. Metode yang digunakan meliputi analisis regresi binomial negatif untuk pemodelan permintaan wisata, Individual Travel Cost Method (ITCM) untuk estimasi nilai ekonomi, dan analisis struktural MICMAC untuk identifikasi variabel kunci pengelolaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permintaan wisata dipengaruhi secara signifikan oleh biaya perjalanan, usia pengunjung, tingkat pendapatan, dan lama mengetahui objek wisata. Estimasi nilai ekonomi kawasan menghasilkan surplus konsumen sebesar Rp111.111 per individu per kunjungan, dengan total nilai ekonomi wisata mencapai Rp21.088.867.800 per tahun berdasarkan estimasi 189.800 kunjungan tahunan. Analisis MICMAC mengklasifikasikan sepuluh variabel ke dalam empat kuadran, dengan kebijakan dan partisipasi masyarakat sebagai variabel penggerak utama, kelembagaan, konflik kepentingan, aksesibilitas, dan fasilitas sebagai variabel penghubung, kualitas lingkungan, UMKM, dan manfaat ekonomi lokal sebagai variabel dependen, serta penerapan CHSE sebagai variabel otonom. Strategi pengelolaan berkelanjutan yang efektif harus berangkat dari penguatan kebijakan berbasis keberlanjutan dan peningkatan partisipasi masyarakat yang terstruktur sebagai fondasi utama pengembangan kawasan. Situ Rawa Kalong is a lake-based nature tourism area located in Curug Village, Cimanggis District, Depok City, which was revitalized by the West Java Provincial Government in 2020. Despite the revitalization, post-revitalization management still faces challenges including weak institutional capacity, suboptimal community participation, and the economic value of the area hasn't been estimated comprehensively yet. This study aims to identify factors influencing tourism demand, estimate the economic value of tourism activities, and analyze key variables supporting a sustainable tourism management strategy at Situ Rawa Kalong. Data were collected through questionnaires administered to 100 visitor respondents, in-depth interviews with key persons from five relevant institutions, and field observations conducted from February to June 2026. The methods employed include negative binomial regression analysis for tourism demand modeling, the Individual Travel Cost Method (ITCM) for economic valuation, and MICMAC structural analysis for identifying key management variables. The results indicate that tourism demand is significantly influenced by travel cost, visitor age, income level, and length of awareness of the tourism site. Economic valuation estimates a consumer surplus of IDR 111.111 per individual per visit, with a total tourism economic value of IDR Rp21.088.867.800 per year based on an estimated 189,800 annual visits. The MICMAC analysis classifies ten variables into four quadrants, with policy and community participation as primary driving variables, institutional capacity, interest conflicts, accessibility, and facilities as relay variables, environmental quality, SMEs, and local economic benefits as dependent variables, and CHSE implementation as an autonomous variable. An effective sustainable management strategy must begin with strengthening sustainability-based policy and structured community participation as the primary foundation for area development.

