PREDIKSI PERAN MIKROORGANISME TERHADAP PEMBENTUKAN SENYAWA AROMA DALAM PENGOLAHAN KOPI DENGAN PROSES KOMBINASI SIAF-GEOTERMAL
Date
2026Author
Istighfarah, Zikrina
Wijaya, C. Hanny
Nuraida, Lilis
Noor, Erliza
Kusuma, Wisnu Ananta
Metadata
Show full item recordAbstract
Keberlanjutan telah menjadi perhatian utama industri kopi saat ini. Panas
berlebih dari instalasi energi asal geotermal (panas bumi) di PT. PGE Area
Kamojang, Jawa Barat, dapat dimanfaatkan untuk pengeringan kopi. Panas tinggi
(50±1oC) dan kelembapan rendah (RH 30%) dalam ruang pengering dengan
geotermal membuat proses dehidrasi kopi terjadi sangat cepat. Metode ini dapat
menjadi alternatif proses pengolahan kopi konvensional yang membutuhkan waktu
pengolahan yang panjang dengan beban kerja yang tinggi serta bergantung terhadap
keadaan cuaca. Akan tetapi, proses dehidrasi yang berlangsung sangat cepat ini
mengakibatkan proses fermentasi tidak dapat berperan. Perubahan dan translokasi
senyawa kimia dari lendir buah kopi ke dalam biji kopi hijau juga tidak optimal,
sehingga kualitas sensori seduhan kopi geotermal kurang dapat diterima oleh Qgrader.
Upaya peningkatan kualitas sensori selanjutnya dilakukan dengan
menerapkan Self-Induced Anaerobic Fermentation (SIAF) pada suhu ruang
(20±1,5oC) tanpa penambahan air selama 5 hari sebelum pengeringan geotermal.
SIAF adalah metode fermentasi yang baru mulai diaplikasikan dalam industri kopi.
Oksigen dalam jumlah terbatas dimanfaatkan oleh sel bakteri dan tanaman kopi
sehingga dihasilkan karbon dioksida yang mengakibatkan kondisi anaerobik dan
metabolit sekunder yang dapat meingkatkan kualitas sensori seduhan kopi.
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh prediksi peran mikroorganisme
terhadap terbentuknya metabolit non-volatil yang bertanggung jawab atas
pembentukan senyawa aroma dan kualitas sensori kopi dalam proses kombinasi
SIAF-Geotermal. Pada tahap pertama, sampel kopi hasil SIAF diekstraksi untuk
memperoleh DNA komunitas mikrob, yang selanjutnya dianalisis menggunakan
Shotgun Metagenomics. Open Reading Frames (ORF) dari data sekuens diprediksi
dan dianotasi berdasarkan basis data untuk mendapatkan kelimpahan dan
keragaman spesies dan enzim mikrob. Pada tahap kedua, metabolit non-volatil hasil
SIAF dianalisis menggunakan Liquid Chromatography - Tandem Mass
Spectrometry (LC-MS/MS). Metabolit non-volatil dalam biji kopi tersebut adalah
prekursor aroma kopi SIAF-Geotermal.
Pada tahap ketiga, senyawa volatil dalam sampel seduhan kopi dianalisis
menggunakan Solid Phase Microextraction - Gas Chromatography - Mass
Spectrometry (SPME-GC-MS). Seduhan kopi selanjutnya kopi dievaluasi oleh lima
Q-grader dengan metode Cupping Protocol and Form dari Specialty Coffee
Association (SCA) untuk mendapatkan nilai kualitas sensori kopi SIAF-Geotermal.
Pada tahap keempat, profil aroma yang diterima oleh Q-grader berdasarkan
Coffee Taster's Flavor Wheel dari SCA dan senyawa volatil yang terdeteksi
dicocokkan dengan referensi yang ada untuk memprediksi senyawa aroma aktif
yang berdampak terhadap karakter kopi SIAF-Geotermal. Kopi yang diolah dengan
proses konvensional menggunakan pengeringan matahari langsung digunakan
sebagai kontrol kualitas sensori seduhan kopi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tatumella sp.
JGM118, Hanseniaspora uvarum, dan Leuconostoc pseudomesenteroides adalah
spesies yang mendominasi hasil fermentasi kopi dengan SIAF pada sampel kopi
utuh dan kupas. Komunitas mikrob ini mensekresikan enzim seperti glikosida
hidrolase (GH), transaminase, dan L-laktat dehidrogenase. Enzim-enzim tersebut
mengatalisis metabolit non-volatil yang didominasi oleh asam klorogenat, asam
amino, dan asam karboksilat. Kelimpahan relatif metabolit tersebut naik 7-10 kali
lipat setelah proses SIAF. Metabolit-metabolit ini merupakan prekursor aroma kopi
SIAF-Geotermal dalam proses penyangraian. Berdasarkan fenomena ini, dapat
diprediksi bahwa komunitas mikrob dalam SIAF berkontribusi terhadap
pembentukan prekursor aroma kopi SIAF-Geotermal.
Proses pulping memberikan perbedaan substrat awal proses SIAF antara
sampel kopi utuh dan kopi kupas. Meskipun keragaman spesies komunitas mikrob
dari kedua sampel sama, kelimpahan relatif keduanya berbeda. Hal ini membuat
keragaman dan kelimpahan enzim mikrob kedua sampel berbeda, sehingga
kelimpahan relatif asam klorogenat, gula-gula sederhana, dan asam karboksilat
setelah SIAF lebih tinggi pada sampel kopi utuh dibandingkan dengan kopi kupas.
Kelimpahan kelompok volatil paling tinggi dalam seduhan kopi SIAFGeotermal
diraih oleh ester, sedangkan dalam kopi konvensional kelimpahan
pirazin adalah yang tertinggi. Kopi utuh dan kupas SIAF-geotermal masing-masing
mencapai 83,5 poin dan 82,65 poin untuk nilai kualitas kopi specialty. Skor tersebut
meningkat 3,4 poin dan 1,15 poin dibandingkan dengan skor dari kopi kontrol
dengan p <0,001. Seduhan kopi SIAF-Geotermal juga memiliki atribut aroma
positif yang lebih banyak dibandingkan kopi kontrol. Seduhan kopi kupas SIAFGeotermal
memberikan aroma apple dan grape yang diprediksi dipengaruhi oleh
senyawa aroma aktif ß-damascenone dan metil kaprat. Seduhan kopi utuh SIAFGeotermal
memberikan aroma pineapple yang diprediksi dihasilkan dari senyawa
aroma aktif isobutil isobutirat dan butil butirat, pear dari ß-damascenone, serta
grape dari metil kaprat. Sementara itu, kopi kontrol memberikan aroma seperti
herbaceous dan unripe yang diprediksi disebabkan oleh senyawa aroma aktif
furfuril asetat dan 1-furfurilpirol.
Pengolahan kopi SIAF-Geotermal menghasilkan kualitas seduhan kopi
yang lebih tinggi dibandingkan dengan proses konvensional maupun kopi yang
hanya diolah dengan pengeringan geotermal. Kombinasi proses ini mempercepat
proses pengolahan kopi tanpa mengurangi kualitasnya. Pengolahan kopi utuh
SIAF-Geotermal disarankan menjadi metode terbaik karena menghasilkan skor
cupping tertinggi dan keseimbangan senyawa volatil terbaik yang memberikan
aroma positif lebih beragam.
Pola hubungan antara mikroorganisme, enzim, metabolit non-volatil,
senyawa aroma aktif, dan atribut sensori yang berhasil diprediksi dapat menjadi
ilmu dasar untuk pengembangan pengolahan kopi SIAF-Geotermal. Atribut aroma
yang diinginkan dapat menjadi dasar pemilihan spesies kultur starter. Selanjutnya
disarankan untuk melaksanakan studi lebih lanjut dengan metode metabolomik
maupun olfaktometri untuk membuktikan pola hubungan yang sebenarnya.

