Status Keberlanjutan Perikanan Rajungan (Portunus pelagicus Linnaeus, 1758) di Perairan Cirebon, Jawa Barat
Abstract
Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan komoditas ekspor penting Indonesia, namun tingginya tekanan penangkapan berpotensi mengancam keberlanjutan stok di perairan Cirebon. Penelitian ini bertujuan mengestimasi Spawning Potential Ratio (SPR), mengevaluasi status keberlanjutan multidimensi, serta merumuskan strategi pengelolaan perikanan rajungan. Pengumpulan data dilakukan pada September sampai dengan November 2025 di Kecamatan Gunungjati, Mundu, dan Gebang dengan melibatkan 100 responden. Analisis dilakukan dengan metode Length-Based Spawning Potential Ratio (LBSPR), Multi-Dimensional Scaling (MDS) Rapid Appraisal for Fisheries (Rapfish), serta matriks Internal Factor Analysis Summary (IFAS) dan External Factor Analysis Summary (EFAS). Penelitian ini mengintegrasikan analisis LBSPR, Rapfish, dan SWOT dalam penyusunan strategi pengelolaan perikanan rajungan berbasis status stok dan keberlanjutan multidimensi. Hasil analisis menunjukkan nilai SPR sebesar 26%, yang mengindikasikan stok rajungan berada dalam kondisi tertekan akibat besarnya tekanan penangkapan dan belum mencapai target biologis keberlanjutan sebesar 30%. Analisis MDS menunjukkan status keberlanjutan perikanan rajungan di Gunungjati (46,35), Mundu (49,99), dan Gebang (50,00) tergolong kurang berkelanjutan. Atribut pengungkit yang paling berpengaruh yaitu keterlibatan gender dalam rantai pasok, status konflik sosial, kapasitas kelompok nelayan, tekanan fishing ground, dan status pekerjaan nelayan. Strategi prioritas pengelolaan difokuskan pada penguatan peran perempuan dalam rantai pasok, revitalisasi kelompok nelayan, pengendalian tekanan penangkapan, serta peningkatan pengawasan pemanfaatan sumber daya.

