Sistematika dan Bioprospeksi Jamur Liar Asal Jambi sebagai Alternatif Bahan Pangan Lokal
Abstract
Peningkatan prevalensi penyakit metabolik yang berkaitan dengan pola
konsumsi masyarakat modern mendorong pentingnya pemanfaatan sumber pangan
lokal yang memiliki nilai gizi baik dan berpotensi memberikan manfaat bagi
kesehatan. Jamur edible merupakan salah satu sumber pangan lokal yang kaya
protein, rendah lemak, serta mengandung berbagai metabolit bioaktif. Indonesia
memiliki keanekaragaman jamur yang tinggi, namun informasi mengenai identitas
taksonomi, kandungan nutrisi, aktivitas biologis, dan profil metabolit jamur liar
konsumsi masih terbatas. Salah satu jamur liar yang banyak dikonsumsi masyarakat
di Provinsi Jambi adalah jamur gerigit (Schizophyllum sp.) dan jamur elang
(Polyporus sp.) yang diperdagangkan di pasar tradisional. Meskipun kedua jamur
tersebut telah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan, informasi ilmiah mengenai
identitas taksonomi, kandungan nutrisi, aktivitas biologis, dan profil metabolitnya
masih sangat terbatas.
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi taksonomi jamur gerigit dan jamur
elang berdasarkan karakter morfologi dan analisis molekuler ITS rDNA,
menganalisis kandungan nutrisi, mengevaluasi aktivitas antibakteri, antioksidan,
dan antidiabetes, serta mengidentifikasi profil metabolit menggunakan LC-MS/MS.
Metode penelitian meliputi identifikasi makroskopik, mikroskopik, dan molekuler
menggunakan marka ITS rDNA, analisis proksimat, pengujian aktivitas antibakteri
terhadap Escherichia coli ATCC 8739 dan Bacillus cereus ATCC 10231, pengujian
aktivitas antioksidan dengan metode DPPH dan ABTS, pengujian penghambatan
enzim a-glukosidase, serta analisis metabolit menggunakan LC-MS/MS.
Hasil analisis sekuens ITS rDNA menunjukkan bahwa jamur gerigit
memiliki kedekatan genetik tertinggi dengan Schizophyllum commune yang
didukung oleh nilai bootstrap sebesar 97%, sedangkan jamur elang memiliki
kedekatan genetik tertinggi dengan Polyporus cuticulatus yang oleh nilai bootstrap
sebesar 99%. Analisis proksimat menunjukkan bahwa kedua jamur memiliki
kandungan lemak yang rendah, yaitu 3,20% pada S. commune dan 0,56% pada P.
cuticulatus, serta kandungan protein yang relatif tinggi masing-masing sebesar
19,41% dan 27,98%. Aktivitas antibakteri menunjukkan sebagian besar ekstrak
yang diuji memiliki aktivitas antibakteri yang lemah dengan nilai KHM > 4000
µg/mL. Namun, ekstrak metanol dan etil asetat menunjukkan aktivitas
penghambatan yang selektif terhadap B. cereus. Pengujian aktivitas antioksidan,
ekstrak akuades dan metanol dari S. commune menunjukkan aktivitas yang dengan
nilai IC50 yang mendekati asam askorbat sebagai kontrol positif, sedangkan ekstrak
P. cuticulatus menunjukkan aktivitas antioksidan yang lebih rendah. Pengujian aglukosidase, ekstrak heksana S. commune menunjukkan aktivitas tertinggi dengan
nilai IC50 sebesar 12,02 ± 3,50 µg/mL, sedangkan aktivitas terbaik P. cuticulatus
diperoleh pada ekstrak akuades dengan nilai IC50 sebesar 71,56 ± 7,08 µg/mL.
Analisis LC-MS/MS mengungkap keberadaan metabolit primer dan sekunder
seperti asam amino, turunan asam amino, vitamin, poliamina, asam lemak, asam fenolat, alkaloid, dan kumarin yang diduga berkontribusi terhadap aktivitas biologis
dari kedua ekstrak jamur tersebut.
Secara keseluruhan, penelitian ini berhasil mengonfirmasi identitas
taksonomi jamur liar konsumsi dari Jambi serta menyediakan informasi mengenai
kandungan nutrisi, aktivitas biologis, dan profil metabolit kedua jamur tersebut.
Hasil penelitian ini menjadi data dasar ilmiah yang mendukung pemanfaatan kedua
jamur sebagai alternatif bahan pangan lokal dan menjadi referensi bagi penelitian
lanjutan mengenai pengembangan senyawa bioaktif dari jamur liar Indonesia.

