Pengelolaan Ikan Bilih Berkelanjutan di Danau Singkarak, Sumatera Barat Berbasis Co-management
Abstract
Ikan bilih (Mystacoleucus padangensis) merupakan spesies endemik yang memiliki nilai ekologi, sosial, dan ekonomi tinggi. Populasi ikan bilih terus menurun akibat penangkapan berlebihan, penggunaan alat tangkap tidak ramah lingkungan, serta lemahnya pengawasan dan implementasi regulasi pengelolaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kepentingan dan pengaruh serta menganalisis pengelolaan ikan bilih berkelanjutan berbasis co-management di Danau Singkarak. Penelitian dilaksanakan pada Oktober hingga November 2025 di sembilan titik lokasi menggunakan metode wawancara terhadap 50 responden yang dipilih secara purposive sampling, mencakup unsur pemerintah, dan non pemerintah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua belas pemangku kepentingan yang terbagi ke dalam empat kuadran, di mana instansi pemerintah daerah dan perguruan tinggi berada pada posisi key player, sementara nelayan dan pengolah termasuk dalam kategori subject. Tipe co-management yang diterapkan saat ini berada pada kategori consultative pada seluruh tahapan pengelolaan, sehingga masih memerlukan peningkatan menuju kategori cooperative yang lebih ideal guna mewujudkan pengelolaan ikan bilih yang berkelanjutan. Mystacoleucus padangensis (bilih fish) is an endemic species with high ecological, social, and economic value. Its population has declined due to overfishing, environmentally harmful fishing gear, and weak monitoring and enforcement of management regulations. This study aimed to identify stakeholders based on their levels of interest and influence and to analyze sustainable bilih fish management using a co-management approach in Singkarak Lake. The research was conducted from October to November 2025 at nine study sites through interviews with 50 purposively selected respondents. The results identified twelve stakeholders distributed across four quadrants, with regional government agencies and universities as key players, while fishers and fish processors were categorized as subjects. The current co-management system remains at the consultative level throughout all management stages and should be strengthened toward a cooperative approach to achieve sustainable bilih fish management.

