| dc.description.abstract | Sektor transportasi berkontribusi sebesar 52% konsumsi BBM nasional pada tahun 2024 dan menjadi salah satu sumber utama emisi gas rumah kaca akibat dominasi kendaraan pribadi. Di Kota Bogor, jumlah kendaraan yang terus meningkat memicu kemacetan dan penurunan kualitas udara. Sebagai upaya mitigasi, Pemerintah Kota Bogor menghadirkan BisKita Trans Pakuan sejak 2021 yang menunjukkan peningkatan jumlah penumpang pada koridor utama. Namun, pada tahun 2025 layanan ini menghadapi tantangan akibat keterbatasan anggaran operasional sebesar Rp10 miliar pascatransisi subsidi ke APBD. Penelitian ini bertujuan untuk; (1) menganalisis persepsi masyarakat; (2) menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi penggunaan; (3) mengestimasi willingness to pay (WTP); dan (4) rekomendasi kebijakan untuk mengoptimalkan layanan BisKita Trans Pakuan. Metode yang digunakan meliputi analisis deskriptif kuantitatif dengan skala Likert, regresi binomial negatif, Contingent Valuation Method (CVM), dan Interpretive Structural Modeling (ISM) dengan jumlah responden sebanyak 100 orang. Hasil ini menunjukkan bahwa persepsi masyarakat berada pada kategori “setuju” dengan nilai rata-rata 310,08. Variabel signifikan yang memengaruhi
frekuensi penggunaan adalah efisiensi biaya perjalanan (0,006), kenyamanan (0,001), penghematan pengeluaran rutin bulanan (0,006), kepuasan pelayanan (0,043), dan aksesibilitas (0,062). Nilai rata-rata WTP sebesar Rp6.522 menunjukkan adanya kesediaan masyarakat untuk berkontribusi, meskipun sensitif terhadap kenaikan tarif. Hasil ISM mengidentifikasi pengembangan skema pembiayaan campuran merupakan faktor kunci sebagai penggerak utama dalam sistem kebijakan. Dengan demikian, peningkatan kualitas layanan dan penetapan tarif yang sesuai menjadi kunci dalam mendukung keberlanjutan BisKita Trans Pakuan Bogor. | |