| dc.description.abstract | Penelitian ini dilatarbelakangi oleh target Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) pascaproduksi di PPN Palabuhanratu yang terus meningkat setiap tahun. Berdasarkan data produksi ikan yang didaratkan, jumlah kapal perikanan yang melakukan aktivitas pendaratan, serta kapasitas fasilitas pelabuhan, PPN Palabuhanratu memiliki potensi produksi perikanan yang cukup besar untuk mendukung peningkatan penerimaan PNBP pascaproduksi. Namun demikian, meskipun target penerimaan pada tahun 2023 masih dapat tercapai, pada tahun-tahun berikutnya realisasi PNBP pascaproduksi belum mampu memenuhi target penerimaan negara. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi produksi perikanan dengan capaian PNBP pascaproduksi yang dipengaruhi oleh aktivitas pendaratan ikan, frekuensi kedatangan kapal, dan nilai Harga Acuan Ikan (HAI) sebagai dasar perhitungan PNBP pascaproduksi. Optimalisasi PNBP pascaproduksi dapat dilakukan melalui penyesuaian HAI dengan mempertimbangkan pendapatan nelayan serta peningkatan frekuensi pendaratan kapal sesuai kapasitas fasilitas eksisting pelabuhan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan sistem. Tujuan dari penelitian ini mencakup deskripsi produksi ikan dan kapal penangkapan yang mendaratkan ikan, analisis pendapatan nelayan, serta menganalisis kinerja optimal pembongkaran dan pelayanan pelabuhan dalam rangka penarikan PNBP pascaproduksi. Selain itu, penelitian ini mengembangkan model sistem dinamis sebagai alat analisis untuk memahami interaksi antarvariabel dan mengevaluasi berbagai skenario kebijakan dalam sistem penarikan PNBP pascaproduksi.
Hasil analisis produksi tahun 2021–2025 menunjukkan fluktuasi yang signifikan, dengan penurunan pada awal periode dan peningkatan tajam sejak 2023 hingga mencapai puncak pada 2024, baik dari sisi volume maupun nilai produksi yang mencerminkan peningkatan efisiensi ekonomi hasil tangkapan. Terjadi pergeseran komoditas dominan dari cakalang pada 2023–2024 menjadi madidihang pada 2025, disertai meningkatnya peran ikan bernilai ekonomis tinggi dan perubahan preferensi alat tangkap menuju pancing ulur dan pancing ulur tuna yang lebih selektif. Produktivitas kapal menunjukkan variasi antar alat tangkap, dengan peningkatan pada purse seine pelagis kecil dan beberapa armada menengah, namun penurunan pada kategori lain di tahun 2025 yang mengindikasikan dinamika efisiensi serta tekanan terhadap sumber daya perikanan. Pola penangkapan yang bersifat musiman, peningkatan jumlah trip, dan masuknya kapal dari luar daerah turut memperkuat peran PPN Palabuhanratu sebagai pusat pendaratan regional, sekaligus meningkatkan tekanan ekologis akibat dominasi hasil tangkapan cakalang dan ketimpangan produktivitas antarsegmen armada.
Pendapatan nelayan di PPN Palabuhanratu dipengaruhi oleh struktur armada, jenis alat tangkap, komposisi hasil tangkapan, serta dinamika musim penangkapan yang menentukan intensitas dan hasil usaha perikanan. Nelayan pada kapal berizin pusat, khususnya armada berskala menengah dan besar, cenderung memperoleh tingkat pendapatan yang lebih tinggi seiring dengan kapasitas penangkapan yang lebih besar, produktivitas per trip yang meningkat, serta akses terhadap spesies bernilai ekonomi tinggi. Namun demikian, pendapatan tersebut masih bersifat fluktuatif akibat perubahan harga ikan, biaya operasional, dan variasi produksi musiman, sehingga menunjukkan adanya kerentanan ekonomi yang memerlukan dukungan kebijakan pengelolaan perikanan yang mampu meningkatkan efisiensi usaha sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya dan kesejahteraan nelayan.
Kesiapan sarana dan prasarana pelabuhan menunjukkan bahwa PPN Palabuhanratu secara umum telah memiliki fasilitas yang memadai untuk mendukung penarikan PNBP pascaproduksi, ditinjau dari ketersediaan dermaga, titik bongkar, timbangan terkalibrasi, cold storage, serta sistem pengawasan. Analisis pola antrian kapal memperlihatkan bahwa kapasitas pelayanan pelabuhan berada pada kondisi under capacity, sehingga hambatan utama bukan terletak pada keterbatasan fasilitas, melainkan pada optimalisasi pemanfaatannya. Pengembangan model sistem dinamis penarikan PNBP pascaproduksi dalam penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan sistem dalam perumusan kebijakan, agar peningkatan penerimaan negara dapat dicapai secara optimal tanpa mengabaikan keberlanjutan sumber daya ikan dan kesejahteraan pelaku perikanan di PPN Palabuhanratu.
Hasil dari simulasi model sistem dinamis terhadap lima skenario adalah skenario 2 (peningkatan HAI 10%) dan skenario 4 (moderat) menjadi prioritas implementasi karena menawarkan keseimbangan terbaik antara manfaat yang dihasilkan dan kemudahan pelaksanaannya. Pada sisi lain, skenario 3 (penambahan frekuensi kapal 50%) dan terutama skenario 5 (optimis) menunjukkan kinerja tertinggi berdasarkan hasil simulasi, yang ditunjukkan oleh peningkatan PNBP pascaproduksi, produksi pendaratan ikan, dan keuntungan nelayan. Namun, implementasi kedua skenario tersebut menghadapi kendala yang lebih kompleks, terutama terkait kebutuhan waktu koordinasi yang panjang untuk mendorong migrasi kapal dari izin daerah menjadi izin pusat, menarik kapal dari wilayah lain untuk melakukan pendaratan ikan di PPN Palabuhanratu, serta meningkatkan kapasitas sarana dan prasarana pendukung. Oleh karena itu, meskipun skenario 5 merupakan skenario yang paling optimal dari sisi hasil, penerapannya lebih sesuai sebagai target pengembangan jangka panjang, sedangkan skenario 2 dan skenario 4 dapat dijadikan langkah awal yang lebih realistis menuju pencapaian kondisi optimal tersebut. | |