Show simple item record

dc.contributor.advisorFatchiya, Anna
dc.contributor.advisorAmanah, Siti
dc.contributor.authorRahmin, Wulan Ali
dc.date.accessioned2026-07-10T01:11:01Z
dc.date.available2026-07-10T01:11:01Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174327
dc.description.abstractProgram Pekarangan Pangan Lestari (P2L) merupakan program pemerintah yang mendorong pemanfaatan pekarangan secara berkelanjutan, tidak hanya bertujuan meningkatkan ketersediaan dan akses pangan rumah tangga, tetapi juga mendorong keterlibatan anggota rumah tangga dalam kegiatan produksi dan pengelolaan pangan. Program ini menjadi salah satu upaya dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan mengakhiri kelaparan, mewujudkan ketahanan pangan, dan mendorong pertanian berkelanjutan. Kabupaten Bogor merupakan salah satu lokus pelaksanaan Program P2L dalam mendukung ketahanan pangan rumah tangga (DKP Bogor 2021). Keberhasilan pelaksanaan program tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis budidaya, tetapi juga dipengaruhi oleh keterlibatan seluruh anggota rumah tangga dalam pengelolaan dan pemanfaatan pekarangan. Kesetaraan gender menjadi penting karena berkaitan dengan kesempatan yang setara dalam memperoleh akses terhadap sumber daya, berpartisipasi dalam pelaksanaan program, terlibat dalam pengambilan keputusan, serta memperoleh manfaat dari program. Perempuan dianggap berperan penting dalam usaha pertanian dan pengelolaan pangan rumah tangga, namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa perempuan masih menghadapi keterbatasan dalam akses terhadap sumber daya, informasi, pelatihan, serta pengambilan keputusan. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi efektivitas pelaksanaan Program (P2L). Di sisi lain, penyuluhan pertanian merupakan bagian penting dalam pembangunan pertanian sebagai proses pembelajaran yang bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan masyarakat agar mampu mengadopsi inovasi, memanfaatkan sumber daya secara optimal, serta mengembangkan kemandirian dalam pengelolaan pangan rumah tangga. Oleh karena itu, penyelenggaraan penyuluhan yang efektif menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung keberhasilan pelaksanaan Program P2L. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan mengkaji tingkat kesetaraan gender dalam implementasi Program (P2L), faktor-faktor yang memengaruhinya, serta pengaruh kesetaraan gender terhadap ketahanan pangan rumah tangga di Kabupaten Bogor. Penelitian dilaksanakan di tiga Desa di Kabupaten Bogor yang terdiri dari Desa Benteng Kecamatan Ciampea, Desa Rabak Kecamatan Rumpin, dan Desa Cijujung Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Pendekatan kuantitatif digunakan dengan metode survei terhadap seluruh anggota kelompok tani peserta Program P2L yang masih aktif terdiri dari 35 orang petani laki-laki dan 25 orang petani perempuan. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan wawancara mendalam. Analisis data terdiri dari deskriptif dengan menggunakan statistik deskriptif yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap obyek yang diteliti melalui data sampel. Analisis pengaruh menggunakan Structutal Equation Modelling (SEM) berbasis Partial Least Squares (PLS) untuk menguji pengaruh antarpeubah penelitian yaitu karakteristik rumah tangga, pembagian kerja rumah tangga, tingkat dukungan sosial, dan penyelenggaraan penyuluhan sebagai variabel besar, serta kesetaraan gender dan ketahanan pangan sebagai variabel terikat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesetaraan gender pada implementasi Program P2L belum memenuhi kesetaraan gender. Hal ini ditunjukkan tingkat kesetaraan gender yang masih berada pada kategori kurang setara sebesar 46,7 persen atau masih di bawah 50 persen. Perempuan telah memiliki kesempatan yang relatif baik dalam mengakses program, pengambilan keputusan, kontrol terhadap pelaksanaan program, serta pembagian manfaat masih belum berlangsung secara setara. Sementara itu, pembagian kerja dalam rumah tangga juga masih berada pada kategori tidak setara dengan rata-rata sebesar 50,6 persen, yang ditandai oleh dominannya perempuan dalam pekerjaan reproduktif, serta belum seimbangnya pembagian kerja produktif dan sosial antara laki-laki dan perempuan. Penelitian ini juga menganalisis pengaruh karakteristik rumah tangga, tingkat dukungan sosial, dan penyelenggaraan penyuluhan sebagai faktor-faktor yang memengaruhi kesetaraan gender, yang dianalisis menggunakan SEM-PLS. Hasil analisis SEM-PLS menunjukkan bahwa dukungan sosial dan penyelenggaraan penyuluhan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesetaraan gender, sedangkan karakteristik rumah tangga tidak berpengaruh signifikan. Kedua peubah tersebut mampu menjelaskan variasi kesetaraan gender sebesar 69 persen. Pada aspek ketahanan pangan, sebagian besar rumah tangga berada pada kategori sedang baik dari sisi ketersediaan maupun akses pangan. Hasil analisis SEM-PLS juga menunjukkan bahwa kesetaraan gender berpengaruh positif dan signifikan terhadap ketahanan pangan rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa semakin setara akses, kontrol, partisipasi, dan manfaat yang diterima laki-laki maupun perempuan dalam implementasi Program P2L, semakin baik kondisi ketahanan pangan rumah tangga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi Program P2L belum menunjukkan tingkat kesetaraan gender yang setara pada aspek akses, kontrol, partisipasi, dan manfaat, serta belum seimbangnya pembagian kerja reproduktif, produktif, dan sosial dalam rumah tangga. Pengambilan keputusan dalam pelaksanaan program masih cenderung didominasi oleh laki-laki, sedangkan perempuan masih memikul sebagian besar tanggung jawab domestik. Kesetaraan gender dalam implementasi Program P2L dipengaruhi secara signifikan oleh dukungan sosial dan penyelenggaraan penyuluhan, sedangkan karakteristik rumah tangga tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Selanjutnya, kesetaraan gender berpengaruh positif terhadap ketahanan pangan rumah tangga. Oleh karena itu, penguatan penyuluhan yang responsif gender serta peningkatan dukungan sosial perlu terus didorong untuk meningkatkan keberhasilan Program P2L dan memperkuat ketahanan pangan rumah tangga secara berkelanjutan. Kata kunci: Ketahanan pangan, kesetaraan gender, program pekarangan pangan lestari (P2L)
dc.description.abstractThe Sustainable Food Yard Program (P2L) is a government initiative that promotes the sustainable utilization of home yards to improve household food availability and access while encouraging the active involvement of household members in food production and management. The program also supports the achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly Goal 2, which aims to end hunger, achieve food security, and promote sustainable agriculture. Bogor Regency is one of the designated implementation areas for the P2L Program to strengthen household food security (Bogor Food Security Office, 2021). The success of the program depends not only on technical cultivation practices but also on the participation of all household members in managing and utilizing home yards. Gender equality is therefore essential, as it determines equal access to resources, participation in program implementation, involvement in decision-making, and equitable distribution of program benefits. Although women play a vital role in agricultural activities and household food management, numerous studies indicate that they continue to face constraints in accessing resources, information, training, and decision-making opportunities. These limitations may reduce the effectiveness of the P2L Program. Meanwhile, agricultural extension services constitute an essential component of agricultural development by facilitating learning processes that enhance farmers' knowledge, attitudes, and skills, enabling them to adopt innovations, optimize available resources, and strengthen household food management. Therefore, effective extension service delivery is a key factor supporting the successful implementation of the P2L Program. Based on these conditions, this study aimed to examine the level of gender equality in the implementation of the P2L Program, identify the factors influencing gender equality, and analyze its effect on household food security in Bogor Regency. This study was conducted in three villages in Bogor Regency, namely Benteng Village Ciampea District, Rabak Village Rumpin District, and Cijujung Village Cibungbulang District. A quantitative approach employing a survey method was applied to all active members of farmer groups participating in the P2L Program, consisting of 35 male and 25 female farmers. Data were collected through structured questionnaires and in-depth interviews. Data analysis comprised descriptive statistics to describe the characteristics of the research variables and Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) to examine the relationships among the research variables. The model included household characteristics, household division of labor, social support, and agricultural extension services as exogenous variables, while gender equality and household food security were treated as endogenous variables. The results indicate that gender equality in the implementation of the P2L Program has not yet been achieved. The overall level of gender equality was classified as less equal, accounting for 46.7%, which remains below 50%. Although women had relatively good access to the program, equality in decision-making, control over program implementation, and benefit-sharing had not yet been attained. Furthermore, the household division of labor remained unequal, with an average score of 50.6%, characterized by women's dominant responsibility for reproductive work and the unequal distribution of productive and social activities between men and women. The SEM-PLS analysis further revealed that social support and agricultural extension services had positive and significant effects on gender equality, whereas household characteristics did not have a significant effect. These variables explained 69% of the variance in gender equality. Regarding household food security, most households were categorized as having a moderate level of both food availability and food access. The SEM-PLS results also demonstrated that gender equality had a positive and significant effect on household food security. This finding indicates that greater equality in access, control, participation, and benefit-sharing between men and women in the implementation of the P2L Program contributes to improved household food security. This study concludes that the implementation of the P2L Program has not yet achieved gender equality in terms of access, control, participation, and benefit-sharing, and that the division of reproductive, productive, and social labor within households remains unequal. Decision-making in program implementation continues to be predominantly controlled by men, while women still bear the majority of domestic responsibilities. Gender equality in the implementation of the P2L Program is significantly influenced by social support and agricultural extension services, whereas household characteristics do not exert a significant influence. Furthermore, gender equality positively contributes to household food security. Therefore, strengthening gender-responsive agricultural extension services and enhancing social support should be prioritized to improve the effectiveness of the P2L Program and sustainably strengthen household food security. Keywords: Food security, gender equality, sustainable food yard program
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titlePerspektif Gender pada Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) untuk Ketahananan Pangan Rumah Tangga di Kabupaten Bogorid
dc.title.alternativeGender Perspective in the Sustainable Food Yard Program (P2L) for Household Food Security in Bogor Regency.
dc.typeTesis
dc.subject.keywordkesetaraan genderid
dc.subject.keywordketahanan panganid
dc.subject.keywordprogram pekarangan pangan lestariid
dc.subtypeTheses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record