| dc.description.abstract | Masyarakat Melayu Belitung memanfaatkan keanekaragaman tumbuhan
pangan lokal sebagai mekanisme kemampuan bertahan diri sehingga terhindar dari
masalah rawan pangan (kelaparan). Pemanfaatan spesies tumbuhan yang
bermanfaat bagi Masyarakat Melayu tersimpan di berbagai tipe lahan dan
berpotensi untuk dikembangkan, namun informasinya belum terangkum sebagai
tumbuhan potensial pangan. Sebagian komoditas pangan di Kabupaten Belitung
didatangkan dari luar daerah. Namun, pengalaman pemerintah daerah dengan
pandemi COVID-19 telah mendorong masyarakat untuk meningkatkan
diversifikasi produk pangan lokal. Data yang lengkap mengenai spesies yang
dimanfaatkan dan karakteristik satuan lingkungan yang dikelola oleh masyarakat
Melayu menjadi hal yang menarik untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan
mempelajari potensi keanekaragaman hayati tumbuhan sebagai sumber pangan
melalui etnobotani dan studi populasi tumbuhan pangan dalam satuan lingkungan
lokal pada masyarakat Melayu di Kabupaten Belitung.
Data penelitian dikumpulkan dari lima kecamatan yaitu Membalong, Tanjung
Pandan, Sijuk, Badau, dan Selat Nasik pada bulan Juli 2022 sampai Oktober 2023.
Data dikumpulkan dari dua hingga tiga desa di setiap kecamatan. Informan kunci
(IK) dipilih dari masyarakat asli Melayu di Kabupaten Belitung yang memahami
sejarah masyarakat Melayu dan memiliki pengetahuan lokal dalam pengelolaan dan
pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan pangan seperti ketua adat, dukun kampung,
dan tokoh masyarakat. Jumlah informan kunci pada penelitian ini sebanyak 5 orang
yang terdiri atas tetua desa, ahli lokal, ahli budaya, dan pemuka agama. Responden
(R) merupakan masyarakat asli Melayu di Kabupaten Belitung yang dalam
kesehariannya menggunakan tumbuhan sebagai bahan pangan serta memiliki
pengetahuan mengenai tumbuhan tersebut. Informan kunci dan responden dipilih
dengan menggunakan metode purposive dan snowball sampling. Jumlah responden
pada penelitian ini sebanyak 97 orang. Data kualitatif dianalisis secara deskriptif,
sedangkan data kuantitatif dianalisis dengan menghitung nilai kegunaan (User
Value/UV), nilai kepentingan lokal (Local User’s Value Index/LUVI), indeks nilai
kepentingan budaya (Index of Cultural Significance/ICS), dan indeks nilai penting
tumbuhan (INP).
Analisis vegetasi dalam satuan lingkungan dilakukan untuk menganalisis
karakteristik satuan lingkungan dan melihat kondisi populasi tumbuhan pangan
secara kuantitatif pada lokasi penelitian. Pengambilan data kuantitatif untuk
pekarangan, sawah, dan kebun menggunakan metode inventarisasi menyeluruh
(pencacahan) dengan mendata seluruh spesies yang terdapat pada masing-masing
satuan lingkungan tersebut. Pencacahan inventarisasi pekarangan dengan cara
diambil jumlah cuplikan pekarangan sebanyak 15 sampai 20 pekarangan setiap desa,
kemudian luas pekarangan total dan luas bangunan rumah diukur untuk mengetahui
luas total pekarangan. Analisis vegetasi pada kawasan hutan dan kelekak
menggunakan metode petak tunggal dengan penempatan petak pada satuan
lingkungan yang telah ditentukan. Ukuran petak contoh yang digunakan yaitu: (a)
2 m × 2 m untuk tingkat pertumbuhan semai; (b) petak berukuran 5 m × 5 m, untuk
tingkat pertumbuhan pancang (diameter < 10 cm); (c) 10 m × 10 m untuk tingkat
pertumbuhan tiang (diameter 10 - 19,9 cm); dan (d) adalah 20 m × 20 m untuk
tingkat pertumbuhan pohon (diameter = 20 cm). Data vegetasi dianalisis
menggunakan perhitungan nilai Kerapatan Relatif (KR), Frekuensi Relatif (FR),
Dominansi Relatif (DR) untuk memperoleh Indeks Nilai Penting (INP) spesies
tanaman. Pengambilan sampel tumbuhan pangan yang dimanfaatkan oleh
masyarakat Melayu di Kabupaten Belitung dilakukan untuk pembuatan koleksi
herbarium pada spesies yang belum teridentifikasi di lapangan.
Keanekaragaman tumbuhan pangan bervariasi pada delapan tipe satuan
lingkungan yang diteliti yaitu rimba (hutan primer), bebak (hutan sekunder),
kerangas bebak (hutan kerangas), kelekak, pekarangan, kebun, ume, dan sawah.
Keanekaragaman tumbuhan pangan tertinggi terdapat pada satuan lingkungan
pekarangan (136 spesies yang termasuk dalam 57 famili), sedangkan
keanekaragaman terkecil terdapat pada satuan lingkungan ume (sembilan spesies
yang termasuk dalam tujuh famili). Tumbuhan pangan yang dimanfaatkan dapat
dikelompokkan menjadi enam kategori pemanfaatan, yaitu buah-buahan, sayuran,
bumbu, minuman, makanan tambahan, dan makanan pokok. Kategori pemanfaatan
tertinggi untuk masing-masing satuan lingkungan adalah buah-buahan.
Masyarakat Melayu di Kabupaten Belitung memanfaatkan 189 spesies yang
tergolong kedalam 60 famili tumbuhan sebagai bahan pangan. Spesies tumbuhan
tersebut dikategorikan berdasarkan kelompok kegunaannya, yaitu sumber pangan
pokok (satu spesies), sumber pangan tambahan meliputi: sayuran (39 spesies),
buah-buahan (87), bumbu (40), sumber karbohidrat (14), dan minuman (8).
Masyarakat cenderung lebih banyak memanfaatkan tumbuhan budidaya (140
spesies) dibandingkan tumbuhan non budidaya (39 spesies) dan tumbuhan semi
budidaya (10 spesies). Famili yang paling banyak dimanfaatkan adalah Myrtaceae,
sedangkan famili lainnya yang banyak dimanfaatkan yaitu Zingiberaceae,
Anacardiaceae, Fabaceae, Poaceae, Rutaceae, Solanaceae, Arecaceae,
Phyllanthaceae, Moraceae, dan Sapindaceae.
Analisis nilai kegunaan menghasilkan tanaman cabe (Capsicum annuum L.)
sebagai spesies dengan nilai UV tertinggi di dua kecamatan, di Kecamatan Sijuk
nilai UV cabe sebesar 3,59 dan di Kecamatan Membalong 2,67. Analisis indeks
nilai pengguna lokal (LUVI) memeroleh padi (Oryza sativa L.) dan sahang (Piper
nigrum L.) sebagai tumbuhan budidaya yang lebih penting. Analisis indeks
kepentingan budaya menunjukkan tumbuhan pangan memiliki nilai ICS berkisar 9
74. Kelapa (Cocos nucifera L.) dan padi (Oryza sativa L.) merupakan tumbuhan
budidaya yang memiliki nilai ICS tinggi. Kelapa memiliki beragam kegunaan
terutama sebagai sumber pangan, seperti sumber sayur, buah, bumbu dan minuman.
Asam jawe (Tamarindus indica L.) juga memiliki nilai ICS yang tergolong tinggi
di lima kecamatan, dan Sahang (Piper nigrum L.), komoditi andalan di sektor
perkebunan masyarakat Belitung, memiliki nilai ICS relatif tinggi di empat
kecamatan.
Keanekaragaman spesies tumbuhan pangan dan keberagaman satuan
lingkungan merefleksikan bahwa masyarakat Melayu Belitung memiliki
kemandirian dalam upaya ketahanan pangan. Namun, masyarakat harus
menghadapi berbagai tantangan seperti alih fungsi lahan, deforestasi, dan
perubahan pola konsumsi ke arah pangan modern, yang menjadi ancaman bagi
keberlanjutan pemanfaatan tumbuhan pangan di Kabupaten Belitung.
Masyarakat Melayu Belitung telah menerapkan pelestarian berbasis kearifan
lokal melalui penjagaan habitat, perlindungan varietas, pola tanam dan panen
tradisional, serta keberlanjutan tradisi pemanfaatan tumbuhan. Penelitian ini juga
menyusun strategi konservasi dan pengelolaan tumbuhan secara berkelanjutan
berdasarkan nilai kepentingan lokal (LUVI) dan tingkat ketersediaan di alam (INP).
Rekomendasi yang diajukan meliputi: (1) Melindungi habitat dan mempertahankan
jenis, yaitu kumbek (Aleurites moluccanus), jeruk kunci (Citrus x microcarpa),
durian (Durio zibethinus), asam kandis (Garcinia parvifolia), sahang (Piper
nigrum), karamunting (Rhodomyrtus tomentosa), iding-iding (Stenochlaena
palustris); (2) Membudidayakan tanaman bernilai lokal tinggi namun populasinya
terbatas, seperti bayam (Amaranthus hybridus), jambu monyet (Anacardium
occidentale), asam putaren (Garcinia dioica), sagu (Metroxylon sagu), dan terong
asam (Solanum virginianum); (3) Mengkaji dan mengembangkan jenis yang
melimpah namun bernilai guna rendah, seperti manggis (Garcinia mangostana),
nibong (Oncosperma tigillarium), rotan nangak (Calamus melanochaetes),
lengkuas (Alpinia galanga), dan cekok manis (Phyllanthus androgynus); dan (4)
Pengembangan dan budidaya lebih lanjut pada spesies dengan ketersediaan rendah
hingga sedang, seperti urisan (Bouea oppositifolia), pakis haji (Cycas rumphii), dan
rukam (Flacourtia jangomas).
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi dasar kebijakan Pemerintah
Kabupaten Belitung dalam menjaga keberlanjutan sistem tumbuhan pangan
masyarakat Melayu yang merupakan hasil interaksi yang kompleks antara aspek
ekologis, sosial budaya, ekonomi, dan kelembagaan dalam suatu sistem
sosioekologi yang saling berkaitan. Keberagaman hayati lokal, penerapan sistem
agroforestri, serta pemanfaatan pengetahuan tradisional menjadi fondasi utama
dalam menjaga stabilitas ekosistem, ketahanan pangan, dan kesejahteraan
masyarakat secara berkelanjutan. Selain berfungsi sebagai sumber pangan dan
ekonomi, sistem pangan lokal juga mencerminkan kuatnya nilai budaya, modal
sosial, serta kemampuan adaptasi masyarakat terhadap perubahan lingkungan dan
tekanan ekonomi. Strategi pembangunan berkelanjutan yang integratif memerlukan
adanya penguatan melalui agroforestri, konservasi biodiversitas lokal,
pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta pelestarian pengetahuan tradisional agar
sistem pangan lokal masyarakat Melayu Belitung tetap mampu mendukung
ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat di masa mendatang. | |